MENTAL

MENTAL
PUTUS ASA


__ADS_3

POV NYONYA ANGGRAINI


Kalau saja aku bisa teriak di rumah sakit ini mungkin aku akan berteriak pada suami dan anakku. Betapa teganya mereka tak peduli lagi denganku dan menganggap semua kejadian ini adalah salahku.


Bu Wita, kaulah sebenarnya perusak keharmonisan keluargaku. Sungguh kau adalah mertua terkejam di dunia. Betapa hati ini selalu disayat dengan kalimat pedasmu, hanya karena aku tak berasal dari keluarga kaya. Astaghfirullah.


Kalau saja Anda bukan ibu dari suami yang aku cintai, mungkin saja sudah kubalas ucapan pedasnya. Sebagai menantu yang tahu diri, kalimat sindiran selalu kusimpan sendiri tanpa pernah sekalipun mengadu pada Muhtar. Aku tak mau mengadu domba antara anak dan ibu, jangan sampai seorang anak laki-laki lebih memilih istrinya daripada ibu yang melahirkan, aku tak sekejam itu. Tapi tidak untuk Anda, begitu lancar menyebutku perempuan tak tahu diri, perempuan yang bisa sukses karena harta anak laki-lakinya, perempuan yang kurang beruntung karena melahirkan anak pertama perempuan.


Tahukah Anda....selama 20 tahun menikah dengan Muhtar aku menyimpan rapat sebutan ini, dan aku benar-benar tak mau anak perempuanku nanti mendapat mertua seperti Bu Wita Wasesa. Miris.

__ADS_1


Itulah alasanku mendoktrin hidup Almira, sakit hatiku pada mertua benar-benar membuatku ingin membuktikan bahwa anak perempuan yang kulahirkan bisa menjadi orang terpandang.


Hikss.....


Hanya angan dan cita-cita saja. Nyatanya anak perempuanku, gadisku menjadi depresi dan menuju gila. Tuhan ampuni aku, ampuni segala keegoisanku, tidak seharusnya aku membalas sakit hati dengan melibatkan Almira.


Laju mobil begitu kencang, kueratkan cengkraman pada kemudi untuk melepaskan segala macam ganjalan hati. Air mata terus mengiringi perjalanan menuju kliniknya.


"Temani saya, Lis!" ucapku sambil masuk ke klinik dan langsung naik ke lantai 2. Aku ingin berbagi dengan siapapun, sudah sangat lama aku memendam ini semua, hampir 20 tahun. Untung saja aku tidak gila, semua memang karena mertuaku.

__ADS_1


Aku menatap langit malam, menekuk lutut dan meletakkan kepala di lutut, menangis sesenggukan dan tak peduli apakah Elis datang menemani atau tidak.


"Bu!" Ah..Elis, memang anak buah yang sangat bisa diandalkan. Dia tahu suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja, dia membawa secangkir teh hangat dan meletakkan di sampingku.


"Saya salah apa sih, Lis. Kenapa suami dan Radit begitu tega melarang saya bertemu Almira!" aduku pada orang kepercayaanku. Selama ini hanya Elis yang tahu kondisi Almira.


"Sabar, Buk."


"Selama ini saya berusaha mati-matian perhatian pada Almira agar dia tidak mengalami seperti saya, tetap saja ujungnya saya yang disalahkan. Andai, suami saya tahu bagaimana mulut pedas ibunya padaku mungkinkah dia membela saya? Dari dulu kenapa hidup saya seakan tidak boleh bahagia sih Lis, hiks...hiks.." rasanya aku sudah putus asa dengan keadaan kayak gini. Diperlakukan tidak adil oleh mertua, disindir keluarga besar pun suamiku tak pernah menasehati saudara-saudaranya, selalu memintaku untuk sabar dan tidak dimasukkan ke dalam hati.

__ADS_1


Kurang sabar seperti apalagi aku, pencapaian kesuksesan yang aku raih sendiri pun diaku karena jerih payah suamiku. Hellowww uang kalian memang banyak tapi jangan lupa yang kamu hina adalah wanita pekerja keras yang bisa hidup tanpa sokongan dana Muhtar. Aku juga heran padahal suamiku sudah mengatakan berulang kali aku sukses karena usahaku, tapi yang namanya orang sudah gelap mata pasti tak mau tahu.


"Seandainya aku terbuka dengan suamiku, mungkin dia akan memilih ibunya daripada ku," keluhku sekali lagi pada Elis yang terus menepuk pundakku lembut, mengantarkan kekuatan serta kesabaran padaku. Ah ...sabar, kata yang hanya berarti omong kosong. Selama 20 tahun sabar juga berefek ditinggal suami dan putranya sekaligus.


__ADS_2