
"Maksudnya?" tanya Almira belum ngeh dengan pertanyaan Aqil.
"Gadis kota siapa yang kamu maksud di grup bareng rombongan Oliv?" ulang Aqil sekali lagi. Ia tak mau Almira berpikir aneh tentangnya apalagi menyangkut hubungan dengan gadis lain. Dia sampai mengungsi pulang lantaran menahan diri agar tak berdekatan dengan Almira, eh dituduh punya pacar gadis kota. Parah pemikiran gadis taksirannya ini.
"Aku hanya menebak Kang," sahut Almira tak mau memperpanjang, toh ia hanya emosi sesaat saja. Setelah mendengar suara Aqil, dirinya mendadak slow aja.
"Gadis kota yang bikin aku kepincut cuma kamu," kembali Aqil mengungkap perasaannya pada Almira, dan itu membuat pipi gadis cantik seperti Almira merona.
"Heleh gombal, telpon cuma tanya itu doang Kang?" tanya Almira memberanikan diri. Ia juga ingij tidur, besok ia mau dijemput sang papa dan kedua adiknya pagi-pagi. Ia juga akan merencanakan untuk sekolah kembali. Rasanya sudah mulai jenuh dengan aktivitas di pondok.
"Jangan ditutup dulu ya, aku masih kangen kamu, udah seminggu loh kita gak ketemu," kata Aqil dengan jujur. Sibuknya ikut proyek dosen
membuat waktunya terkuras di kota.
"Emang mau ngomong apa lagi?"
__ADS_1
"Apapun deh, emang kamu udah ngantuk? baru juga habis isya, Al."
"Enggak juga sih, cuma mau istirahat lebih awal saja, besok mau kencan sama papa."
"Oh mau keluar toh, ada apa?"
"Kangen lah, sama anak gadisnya."
Terdengar tawa Aqil di seberang, suara kesal Almira sangat menggemaskan di telinganya. Kalau melihat langsung, mungkin gadis cantik itu sambil melotot juga. Bertemu papanya kok pakai ditanya, aneh.
Almira berhasil membuat Aqil terdiam seketika. Perasaannya mendadak tak tenang, sangat khawatir kalau Almira memilih kampus di kota dan meninggalkan pondok. Kampus Aqil tak jauh dari pondok, ia harap Almira masuk kampus itu saja.
"Mau kuliah di mana?" tanya Aqil harap-harap cemas.
"Masih bingung, udah bosen juga di sini Kang."
__ADS_1
Aqil menghela nafas berat, kekhawatirannya semakun besar setelah tahu Almira jenuh dengan suasana pondok. Memang kalau sore dia banyak kegiatan tapi kalau Intan dan Lila berangkat sekolah, Al tidak punya teman lagi. Bosen dan jenuh sudah ada di kepala Almira. Oleh sebab itu lebih baik ia mengambil kuliah saja.
"Kuliah di mana?"
Almira tertawa mendengar pertanyaan hal itu seakan Aqil adalah orang yang butuh kabar darinya. "Kepo amat deh Kang."
"Iyalah, kawal calon makmum."
Almira terdiam, dua kali ia merasakan 'dilamar' laki-laki, Pak Sultan dan Aqil, entah serius atau tidak yang jelas Almira cukup baper diberi sebutan calon makmum oleh Aqil. Bayangan Pak Sultan ketika mengajak nikah dulu kembali muncul. Mendadak Almira merasa sangat bersalah pada Pak Gurunya itu. Dan Kalau membuka hati untuk Aqil tentu ia akan menuntaskan status pasti Pak Sultan dengan dirinya, jangan sampai menggantung, meskipun hingga kini Almira belum berani menghubungi Pak Sultan.
"Al?" tegur Aqil yang tak mendengar apapun dari lawan bicaranya. "Gak usah dipikirkan omongan saya, apalagi perasaan kamu pasti masih sama dengan saya. Hanya menganggap sebagai teman."
"Hem? Oh...maaf Kang!" Almira tersadar dan beruntung masih ngeh dengan penjelasan Aqil.
"Kabari saya tempat kuliah kamu di mana, aku harap kita satu kampus, karena bagaimana pun aku ingin berjuang mendapatkanmu."
__ADS_1
"Iya, nanti aku kabari.".