MENTAL

MENTAL
BALIK KUCING


__ADS_3

"Kasih solusi Mbak Al dong, gimana biar bisa bertemu mama?" tanya Almira mendesak mereka yang mendadak melow, tak ada lagi sahutan ataupun ocehan yang absurd menuju bar-bar. Sepertinya mereka mulai introspeksi akan sikapnya selama ini terhadap kedua orang tua mereka.


"Mbak kita loh anak nakal juga, gak bisa kasih solusi," cicit Mita sembari mengusap air mata di pipinya. Pembahasan sore tentang mama sangat mencolek hati mereka. Biasanya nasehat guru atau siapapun yang mengingatkan akan orang tua terasa abai begitu saja, tapi tidak saat ini. Pembawaan Almira yang kalem, cantik dan pintar membuat mereka terkesan pada pertemuan awal.


Tepat saat pembahasan mama, mereka langsung terenyuh, sebagian besar dari mereka merasa gadis cantik, kalem dan pintar saja begitu merasa bersalah pada sang mama, lah gimana dengan kita (rombongan Oliv) yang dari penampilan saja sudah menunjukkan anak bar-bar. Merasa masa depan terlihat di depan mata.


"Makanya aku pengen tahu, solusi yang diberikan oleh 'anak nakal' seperti apa?" tanya Almira bahkan ia sampai menggerakkan dua jari yang mengisyaratkan label anak nakal.


"Mbak kita kayaknya gak berhak buat kasih solusi, sedangkan kita saja ke mama kita bandelnya naudzubillah, ya gak man," jawab Leo sembari menyenggol lengan salah satu temannya, dan diangguki oleh sebagian besar anak secara serempak.


"Memangnya kalau anak nakal gak bisa bahagiain orang tua ya?" lagi-lagi pertanyaan yang diajukan Almira menohok relung hati mereka. Bahkan Mita langsung memeluk Almira dengan menangis sesenggukan, sedangkan yang lain hanya memegang kepala sembari menunduk.


"Ayo, kita mungkin dianggap anak nakal bagi orang tua, teman, guru atau yang lain. Tapi kita bisa buktikan bahwa kita lahir sebagai anak istimewa dan akan bisa sukses dengan bakat kita. Mau ikut sukses dengan Mbak Al?" tanya Almira dengan sumringah, dan beruntung wajah sumringahnya juga menular kepada rombongan Oliv.


"Siaaaap, mau disuruh bayar 100 ribu sekali datang gue jabanin dah," pekik Jihan dengan bangga.


"Betul, uang jatah minum gua alihkan buat kakak cantik deh," celetukkan Edo berhasil membuat mereka menatapnya tajam. Cowok itu langsung menutup bibirnya rapat, lalu menjulurkan tangannya membentuk V, "Otw insap!" lanjutnya yang diikuti kepalan tinju ke arahnya.


Puas sudah bercanda, mencairkan suasana dan menyamakan frekuensi agar sama mencapai tujuannya. Bukan menyamakan kemampuan tapi mereka cukup sederhana dalam menyamakan visi yakni membahagiakan mama, sesimple itu tapi bermakna.


Sudah menjelang petang, mereka pun pamit. Besok setelah pulang sekolah langsung otewe ke pondok, bahkan ada celetukan boleh gak tinggal di sini? namun Almira belum mengiyakan, karena perlu izin dari Bu Puguh.


"Mbak, ini!" Oliv yang memang rumahnya tak jauh dari pondok, sengaja pamit belakangan. Ia juga menunggu moment berdua untuk menjalankan transaksinya. Amplop putih disodorkan pada Almira dengan senyum cerianya.

__ADS_1


"Eh apa ini?" tanya Almira, tak menyangka kalau Oliv berniat bagi hasil. Padahal Almira tadi tidak maksimal dalam menjelaskan, malah diajak curhat.


"Bagi hasil kita, masa' mbak lupa sih!"


"Eh gak usah, tadi mbak gak ngajar kok, kan cuma pengenalan."


"Jangan gitu Mbak, kita sudah sepakat di awal. Aku gak mau yah dianggap korupsi oleh mereka!"


Almira terdiam, sekali lagi ia terpesona dengan Oliv. Ternyata gadis yang dianggap kecentilan oleh Intan, punya sisi yang belum tentu dimiliki anak lain, apalagi di zaman sekarang dan berurusan dengan uang, yaitu jujur dan amanah. Seandainya Oliv menjadi kontestan putri Indonesia, tentu memiliki inner beauty yang patut diperhitungkan. Ceileh...macem jadi juri ajaaaa!


"Kamu menarif mereka gimana?" tanya Almira penasaran dengan marketing ala Oliv.


"Yah bilang saja, mau encer matematika, ikut gue, dijamin disayang mama, murah meriah cukup 50 ribu bonus guru cantik."


"Memang teman kamu kayak mereka semua?" tanya Almira penasaran. Bisa dibayangkan bagaimana peningnya guru yang mengajar mereka.


"Sebagian besar iya, kan kita berada di sekolah swasta pinggir daerah, ya isinya kayak mereka semua. Tapi yang baik ada, kayak Intan gitu."


"Gurunya gak naik darah melihat tingkah kalian kayak gini?"


"Tiap hari lah, Mbak Al. Gak usah ditanya kalau itu. Di sekolah itu kelihatan banget kalau guru butuh murid."


Almira menepuk lengan Oliv pelan, "Gak boleh gitu, gimana mau pintar kalau guru saja tidak dihormati."

__ADS_1


Oliv bukannya marah dinasehati untuk kesekian kali malah terkekeh, "Otak mereka gak nyampe kali Mbak buat hormati guru. Mereka anak orang kaya yang punya kekurangan di otak. Alhasil selalu mengandalkan uang bapak mereka. Aku aja shock lho mereka tunduk dengan ucapan Mbak Al."


"Iya juga ya, oke sampai jumpa besok ya. Jangan lupa ingatkan mereka buat masa depannya," ucap Almira mengingatkan. Oliv yang kemudian berjalan pulang hanya mengacungkan jempolnya pada Almira.


"Semoga kita bisa membahagiakan mama kita dengan cara istimewa ya guys," gumam Almira sembari menutup pintu.


*****


"Jadi?" tanya dokter Ibram meminta kepastian. Lebih tepatnya sebuah kesepakatan pada sang ponakan untuk mengontrol emosi menghadapi sikap Almira. Bagi dokter Ibram, kondisi Almira sudah sangat membaik, apalagi kecakapannya membangun kedekekatan dengan rombongan Oliv tadi membuat Ibram merasa puas. Pasien VIPnya sudah menunjukkan kesehatan mental yang membaik. Dikatakan sembuh tidak bisa 100% karena datangnya rasa was-was bisa terjadi di setiap moment yang dilalui Almira. Pintar-pintar saja menahan emosi. Dokter Ibram sering mengajak Almira merefleksi diri. Setidaknya Almira diminta memprediksi solusi atau apa yang akan dilakukan Almira pada situasi itu. Dokter Ibram pun tak menyalahkan jawaban Almira hanya memberikan umpan balik agar bisa diterima gadis itu.


"Siap lah, Bang. Bantu Almira, semakin ke sini aku semakin kagum dengan sikapnya. Bahkan aku sadar, sikapku kemarin kekanak-kanakan."


"Banget! Kamu S2, lebih dewasa dari dia, harusnya lebih lapang dada menerima apapun jawabannya. Mulai sekarang kamu harus menanamkan di sini," dokter Ibram menunjuk pelipisnya agar Aqil bisa berpikir, "Kamu harus siap dengan apapun rencana Allah meski tidak sesuai dengan keinginanmu."


"Baik, Bang!" jawab Aqil pasrah.


"Siapkan mental juga kalau Almira mencibir, duh kalau gue jadi kamu Qil, mending pakai topeng deh, daripada balik kucing begini. Kemarin aja juteknya minta ampun. Sok sok an buang muka, eh sekarang mau dekat lagi."


"Terus saja, Bang ngehina gue," tantang Aqil semakin kesal dengan ejekan dokter Ibram. Baru saja kalimat PDKT tersusun rapi, eh buyar sudah karena ejekan dokter sableng itu. Hufh...mendadak insecure kalau sampai Almira hanya menanggapi dengan senyuman dan memilih menjauh.


Duh Gusti, jangan sampai. Batin Aqil menolak.


"

__ADS_1


__ADS_2