
Almira melambaikan tangan mengantar rombongan Oliv keluar dari aula pondok dan mulai berjalan keluar gerbang. Senyum terus mengembang jika mengingat tingkah anak SMP itu.
"Manis banget," gumam Aqil yang setia mendampingi Almira mengantar Oliv CS, sembari mencuri pandang pada perempuan yang masih ingin diperjuangkan itu.
"Kang Aqil ngomong sama saya?" Almira masih mendengar gumamannya dan dengan polos menanyakan hal itu langsung.
"Bukan ngomong sama kamu, tapi muji kamu!"
"Dih..gombal," percayalah kawan. Meskipun Almira menolak perasaan Aqil, tapi namanya perempuan kalau dipuji gitu meleleh juga lah.
Aqil tersenyum melihat Almira salah tingkah, oke dia akan mengikuti anjuran dokter sableng untuk PDKT lebih dulu dengan Almira, baru ekskusi perasaan.
"Kang Aqil beneran bisa bantu kita?" kini keduanya memilih duduk di ruang TV pondok, apalagi di sana sudah ada Bu Puguh yang sedang mengatur pembukuan bisnis.
"Beneran, Al," jawabnya singkat. Kalau ada orang lain, sikap Aqil kembali datar dan dingin seperti jaga image, bahkan dihadapan Budhe nya sendiri. Ia tak mau perasaan untuk Almira tampak jelas di mata orang lain.
"Kenapa?"
"Kang Aqil mau bantu Almira sama anak-anak mengembangkan bakat," ujar Almira sembari membuka ponselnya, melihat chat masuk dari sang papa.
"Bukannya udah ya?" memang program pengembangkan bakat minat di pondok milik dokter Ibram ini sudah berjalan. Tiap anak yang masuk pondok akan diminta memilih sesuai keinginannya mau mengembangkan bakatnya apa. Mau olahraga ada voli, basket dan badminton, IT juga ada. Tapi kebanyakan mereka yang sudah tinggal di sini cenderung memilih konsen pada sekolah, terkadang masih olahraga dan belajar komputer namun tak optimal.
__ADS_1
"Ituloh Budhe, Al kan mengajari rombongan Oliv, nah mereka sepertinya berat di matematika atau pelajaran sekolah, tapi mereka ada bakat di main game, ya kan Kang?" Almira memancing Aqil untuk bicara, karena tadi Aqil yang banyak bicara dengan Oliv CS. Lagian sejak kehadiran Aqil, Almira gak digubris lagi, apalagi Mita, Diva, Lina, mata para gadis langsung ijo melihat penampakan Aqil. Mana tiba-tiba lagi, serasa mendapat durian runtuh.
Aqil hanya mengangguk saja, sedangkan Almira melongo dibuatnya, bagaimana bisa kalau bersama dirinya begitu banyak omong sedangkan dengan Budhenya bisa kincep gitu. Ini budhe kamu loh, batin Almira protes.
"Oh ya, Aqil mau ajari mereka apa? bukan modus PDKT ke kamu kan, Al!" tuduh Bu Puguh tepat sasaran, dan sukses membuat keduanya tersedak.
Bu Puguh semakin curiga dengan kedekatan mereka. Mau bagaimana pun mereka sudah dewasa, dan khawatir terjadi hal-hal yang membuat orang berpikiran negatif. Keduanya tinggal di area yang sama, yah meskipun Almira tinggal di area pondok putri dan Aqil di rumah utama. Hanya saja lingkungan mereka ya situ-situ aja, intensitas bertemu sangat tinggi, jangan sampai pondok ini dianggap mesum dan ada pasangan yang kumpul kebo. Eh....naudzubillah.
"Kok Budhe bilang gitu?" tanya Almira setelah menetralkan suaranya. Bingung saja dengan Budhe yang punya pemikiran seperti itu. Pasalnya beliau tahu bagaimana perasaan Almira terhadap Aqil sekarang.
"Budhe cuma mewanti kalian saja, jangan sampai terlalu dekat dan keseringan bersama. Takut ada yang salah paham," jelas Bu Puguh meluruskan. Beliau juga khawatir Almira menangkap ucapannya mentah-mentah, kondisi gadis itu bisa saja sensitif dan memikirkan hal yang tidak-tidak, tentu bisa mempengaruhi kestabilan emosinya. Oleh sebab itu, beliau sangat berusaha menjelaskan apapun pada Almira secara terang-terangan, agar clear.
"Bisa janji untuk tetap menjaga pandangan dan tidak berduaan?" Bu Puguh meminta kesepakatan pada Aqil dan Almira. Soal ketertarikan dengan lawan jenis beliau tidak melarang, karena memang itu fitrah manusia, hanya saja beliau sangat tegas bila menyangkut hubungan lawan jenis. Jangan sampai pondok yang ia bangun untuk pendidikan anak kurang mampu dibalut zina. Interaksi anak pondok lawan jenis saja diawasi dengan ketat, tidak boleh ada yang berduaan ataupun mojok, dilarang keras.
Mungkin beliau beranggapan bahwa, Aqil boleh menyatakan cinta tapi tak harus berpacaran kan. Kasus kisah kasih ini baru pertama kali terjadi, mau secantiknya Dena atau anak pondok yang usia SMA Aqil tetap datar dan terlihat tidak tertarik. Sangat berbeda dengan kehadiran Almira, matanya langsung kesetrum melihat perempuan idaman hatinya. Definisi cinta pada pandangan pertama terjadi pada Aqil.
"Bisa Budhe," jawab Almira tegas, memang dia tidak ada rasa dengan Aqil. Hubungannya dengan ponakan pemilik pondok juga sebatas layaknya guru dan murid, karena Aqil memegang keterampilan komputer, daj Almira tertarik pada dunia IT.
Mendengar tanggapan Almira, Aqil sontak menoleh. Sikap Almira menunjukkan dia masih belum bisa membuka hati untuk Aqil.
Kecewa? pasti.
__ADS_1
Marah? Benar.
Tapi dirinya bisa apa, sudah diberikan kesempatan untuk dekat Almira saja dia sudah bersyukur. Ingat saran dokter Ibram pula, harua berjuang dan sabar untuk mendapatkan Almira.
"Tenang saja, Aqil insyaAllah bisa menjaga pandangan dan jarak dengan Almira," jawabnya kalem, meski menahan egoisnya laki-laki yang sedang tebar pesona.
"Oke, Budhe pegang ucapan kalian. Dan satu hal yang budhe ingin tahu, terutama untuk kamu, Qil!" Bu Puguh menghentikan aktivitasnya dan bicara serius dengan keduanya. "Kamu berniat serius dengan Almira atau hanya sekedar cinta monyet, naksir-naksir ala anak SMA?"
Aqil berdehem sebentar, menetralkan degupan jantung yang mendadak cepat, terutama diberikan pertanyaan dari sang Budhe. "Serius," jawab Aqil menatap Budhenya.
"Mau nikah sekalian?" lah Bu Puguh main to the point aja. Nikah loh? butuh kesiapan mental yang luar biasa dari kedua belah pihak.
"Budhe kok tanya begitu?" Almira kaget muncul soal nikah, padahal untuk menerima Aqil saja belum kepikiran, eh ini ditawari nikah.
Aqil menoleh ke arah Almira lalu menatap Budhenya lagi, "Aqil siap Budhe," lanjutnya mantap. Almira gelagapan, kok jadi gini?
"Yakin kamu mau serius dengan Almira? yakin juga sudah siap menerima kondisi Almira?" Bu Puguh masih terus memborbardir keseriusan Aqil. Beliau tak mau anak gadis orang di-PHP saja. Bagaimananpun juga jodohnya Aqil, Bu Puguh berhak menilai. Kalau pun pilihannya dengan Almira, Bu Puguh setuju saja, asal Aqil siap menerima kondisi mental Almira.
"Aqil tidak bisa berjanji tidak membuat Almira menangis, tapi Aqil bisa berjanji akan berusaha membahagiakan Almira budhe, di setiap kondisi."
"Kamu kok bisa berubah drastis gini dengan perempuan?" Bu Puguh masih meminta kepastian hati Aqil, butuh beberapa kali pertanyaan agar meyakinkan. Apalagi Aqil juga serius dan siap kalau diminta menikahi Almira.
__ADS_1
"Tanyakan pada hati saya, Budhe!" lagi-lagi jawaban Aqil membuat Bu Puguh heran setengah mati. Pesona apa yang terlihat pada diri Almira sehingga pria kaku seperti Aqil luluh.
"Kalau Almira?" kini giliran Bu Puguh ingin mengetahui perasaan Almira terhadap Aqil.