MENTAL

MENTAL
PERTEMUAN


__ADS_3

Pukul dua tepat, Radit dan kedua orang tuanya sudah duduk di dalam restoran, menunggu dokter Ibram.


"Kalau perkembangannya gak bagus kita pindah saja," usul mama dengan ketus.


"Mama mending diam atau ke klinik aja deh daripada bikin ruwet aja." Sungguh menajubkan sikap papa, terkesan cuek namun menusuk, bahkan mama pun sampai menyentak agak kasar tak terima. Diskusi dengan Radit membuat Pak Muhtar meniru cara pemuda itu memainkan emosi nyonya Anggraini.


"Kalau mama masih kekeh dengan sikap mama kayak gini, lebih baik pulang. Selama ini mama sudah sibuk mengurusi Almira, sekarang giliran papa dan Radit yang akan merawatnya," suara papa terdengar santai tapi berhasil membuat mama terdiam. Wanita cantik itu kesal setengah mati, raut wajahnya memerah dan bibirnya terkatup rapat, Radit ingin tertawa saja, baru kali ini mamanya kincep dan terkalahkan.


Dokter Ibram datang tak berselang lama, dokter tampan itu begitu ramah menyapa sekaligus menyalami satu per satu keluarga Almira.


"Silahkan duduk," ucap Pak Muhtar tak kalah ramah. Ia sangat berterima kasih kepada dokter Ibram yang sangat telaten dalam menangani sakit mental Almira. Mungkin masih banyak dokter jiwa lainnya, tapi dokter Ibram benar-benar membuat Pak Muhtar percaya dirinya bisa menyelesaikan permasalahan Almira sejal dua bulan lalu. Masih muda, lulusan dari kampus ternama, attitudenya bagus, sopan dan ramah menjadi nilai plus dokter Ibram dipilih Pak Muhtar sejak dua bulan lalu.


Berkali-kali dokter Ibram diremehkan oleh sang istri, nyonya Anggraini, tapi beliau hanya tersenyum dan memberikan bukti nyata akan perkembangan mental Almira.


"Sebelumnya saya mohon maaf karena sepertinya mulai saat ini saya ingin mengorek informasi Almira lebih dalam," ujar dokter Ibram mengawali diskusi berat.


"Bukannya selama ini dokter sudah meminta penjelasan tentang Almira ya," sahut mama bernada ketus. Radit sudah menggelengkan kepala, sedangkan sang papa hanya menatapnya tajam.


"Masih belum detail, dokter," jawab dokter Ibram dengan ramah, ia tak mau terpancing emosi dokter kecantikan itu, yang ada kredibilitasnya jatuh karena tidak bisa mengontrol emosi.

__ADS_1


"Tentang apa, dok?" tanya Radit, mengalihkan suasana tegang akibat protesnya sang mama.


"Begini, baik Bapak maupun Ibu Muhtar apa sudah membaca rekam medis Almira yang terupdate?" pancing dokter Ibram dengan fokus pada Pak Muhtar saja tanpa menatap pada dokter Anggraini.


"Sudah," jawab Pak Muhtar, sedangkan Radit terdiam. Ia belum melihat rekam medis sang kakak meski sudah dua bulan di rawat di rumah sakit, bukan apa-apa tapi memang ia tak tahu kalau ada rekam medis yang dilaporkan tiap hari pada kedua orang tuanya.


"Apa yang dapat Anda cermati dari racauan Almira?" tanya dokter Ibram serius.


"Almira capek dan saya menangkapnya dia tertekan atau takut sama mamanya," ucap Pak Muhtar sembari menatap sang istri. Nyonya Anggraini masih memasang wajah datar, dalam lubuk hatinya ia tak pernah sedikit pun menekan Almira, hanya saja ada dorongan terkuat untuk menjadikan Al sebagai gadis priyayi, yang cantik, sopan, cerdas dan beprestasi hingga kejadian tumbangnya mental Almira.


"Betul, dia memang merasa capek, merasa tertekan, takut pada sang mama, takut kalau tidak berprestasi bahkan ingin tidur yang lama tanpa dibangunkan," terang dokter Ibram mengulang rekam medis Almira saat terapi. "Sekarang, saya minta kepada Pak Muhtar dan dokter Anggraini untuk memilih saya menjadi dokter VIP nya Almira atau mencari ganti dokter lain yang lebih kompeten?"


"Baik, saya akan mulai membuka kasus ini lebih detail lagi mengingat kondisi Almira yang sudah bicara banyak, sedikit demi sedikit akan membuka permasalahannya."


"Dari dulu ngomongnya gitu, tapi tetap saja anak saya setengah waras," gerutu mama sembari bersedekap angkuh. Radit hanya memutar bola matanya, malas, sang mama kok bisa jadi begini kasar dan sangat keras kepala.


"Ma, kalau tidak bisa kompromi silahkan pergi," sekali lagi Pak Muhtar memberikan ultimatum, dan nyonya Anggraini pun terdiam.


"Baik, saya mulai dari kata capek yang diucap berulang kali oleh Almira. Sebenarnya kegiatan apa saja yang menyita waktu, pikiran dan tenaga Almira sehingga merasa capek?"

__ADS_1


Pak Muhtar dan Radit saling pandang, namun tak juga kunjung menjawab sehingga nyonya Anggraini yang menanggapi.


"Pertayaan seperti ini sudah sering dokter Ibram tanyakan, bahkan sejak awal pun jawabannya akan sama. Buang-buang waktu," mama masih mengoceh dengan suara sengaknya, membuat sang papa hanya menggelengkan kepala.


"Biar saya yang jawab," ucap Radit sembari melirik sang mama. "Mbak Al sibuk belajar, ikut lomba dan olahraga. Dia tidur mulai jam 9 hingga puku 12 teng. Setelah itu dia belajar, hampir setiap hari temannya buku, kalau weekend les piano dan renang. Teman gak punya, tiap bulan pasti mengikuti lomba dan selalu mendapat juara. Kalau juara satu ditraktir mama kalau enggak juara 1 diomel mama." Lugas sekali jawaban Radit, hingga sang mama menepuk lengannya berkali-kali, tapi ia tak bergeming. Sudah cukup selama ini diam, hampir dua bulan sang kakak tidak ada kemajuan pesat, pun dokter tak bisa menganalisis lebih dalam karena sang mama terus saja bilang Almira belajar seperti biasa pulang sekolah les layaknya anak biasanya.


"Ma-ma!" papa pun tak percaya Almira bisa mendapat juara dan berprestasi layaknya kerja rodi dan itu semua diatur oleh sang istri. Dokter Ibram hanya tersenyum, sejak awal ia sudah curiga, penyebab utama Almira tekanan batin adalah sang mama.


"Gak ada kayak gitu ya, Dit!" tegur mama tak terima, beliau akan bersuara namun Radit segera memotongnya.


"Silahkan cek CCTV kamar Mbak Almira," saran Radit yang membuat ketiga orang melongo.


"Kok bisa di kamar pribadi ada CCTV, gimana kalau Mbak Almira gak pakai baju?" mama tak terima dengan ide sang putra.


"Maaf, Ma. Putramu cerdas, sehingga hal pribadi tentang Mbak Almira masih tertutup." Siasat Radit bisa membungkam protesnya mama, "Ini dok, di video itu hanya tertera kegiatan Mbak Almira selama di kamar dengan kegiatan yang berkutat pada buku, dan papa mama silahkan ikut mencermati durasi belajar Mbak Al dari video itu."


Ketiganya pun mengamati video kegiatan Almira di masing-masing ponselnya, Radit sudah mengirimkan pada ponsel masing-masing. Dokter Ibram dan papa tampak hanyut menyaksikan betapa kerasnya Almira belajar, kalau di hitung durasi belajarnya lebih dari 8 jam di luar kegiatan sekolah.


"Video apa-apaan ini, mama gak pernah ya suruh Almira belajar seperti ini," sang mama masih tak terima. Sungguh sikap mama tidak mencerminkan dokter yang elegan dan ramah ketika menangani pasien, kalau sudah membahas Almira beliau berubah menjadi emak-emak judes dan julid yang salah tapi tak mau mengakui.

__ADS_1


"Dia minum obat apa?" tanya dokter Ibram yang tiba-tiba menghentikan tayangan video pada detik ke 78, dan membuat ketiga orang terdiam heran.


__ADS_2