
Semalam Almira tidur sangat nyenyak bersama Bu Puguh, aneh saja ia langsung bisa dekat dengan ibu dokter Ibram itu. Almira juga tak merengek sama sekali saat papa dan adiknya berpamitan. Masih ingat dia melambaikan tangan ketika mengantar Pak Muhtar dan Radit di depan pondok. Tampak ia bahagia meski ditinggal sendiri, di lingkungan baru ini.
"Mau mengaji?" tawar Bu Puguh pada Almira, selepas sholat shubuh berjamaah di musholla pondok.
"Boleh, dulu Almira juga les qira'ah budhe."
"Ouh ya, coba Budhe mau dengar," pinta Bu Puguh sembari menyerahkan mushaf Al-Qur'an pada Almira. Gadis itu menerima dengan tersenyum, membuka sembarang ayat lalu melantunkan surat itu dengan suara merdu.
"Gimana perasaannya?" tanya Bu Puguh setelah Almira meletakkan kembali mushaf tersebut. Kini keduanya akan beranjak pulang, karena matahari sudah mulai menampakkan sinarnya.
"Alhamdulillah, Almira tenang di sini. Suasananya juga asri dan orangnya sepertinya ramah."
"Setelah sarapan saya kenalkan kamu dengan anak pondok di sini ya."
"Bu de yang masak?"
"Bantu aja, yang masak mbak-mbak sini aja. Kamu mau sayur apa, kita bisa ambil di kebun samping situ!" ujar Bu Puguh ramah, dan Almira langsung mengangguk setuju. Wajah ceria terus terpancar pada Almira yang mengikuti langkah Budhe barunya itu.
"Almira bisa makan apa saja, Budhe."
Bu Puguh memperhatikan, Almira bukan sosok anak yang terlihat sakit, kalau ada orang yang melihatnya tanpa tahu kasus yang sebenarnya tentu menganggap dia gadis normal. Dokter Ibram sudah menjelaskan bahwa sejak Almira sudah bisa diajak berkomunikasi, perkembangan Almira semakin bagus, tinggal menyetabilkan emosinya.
"Benarkah, lalapan juga mau?"
Almira mengangguk, ia terus mengikuti apa yang dilakukan bu dokter, termasuk menaruh mukenah dan berjalan ke area kebun. Sudah ada anak pondok yang berolahraga sekedar joging baik laki-laki maupun perempuan yang berhasil menarik perhatian Almira.
__ADS_1
"Budhe, mereka juga sama kayak Almira?" tanya Almira sambil menunjukk anak pondok yang berlalu lalang di area lapangan.
"Memangnya Almira kenapa?" pancing Bu Puguh sembari memetik cabe.
"Almira kan sakit jiwa Budhe," jawabnya lirih, khawatir saja kalau ada yang mendengar dan melarangnya tinggal di pondok ini. Dari awal bertemu Bu Puguh dia sudah nyaman, makanya dia biasa saja ketika ditinggal sang papa dan adiknya pulang.
Bu Puguh hanya tersenyum tipis, meski ia tahu Almira ada gangguan jiwa tapi tak setega itu menyebut gadis cantik itu gila. "Mulai sekarang mau sembuh ya?"
Almira mengangguk, dan kembali ke aktivitas mengambil daun ketela rambat. Bersama Bu Puguh ia benar-benar menikmati segarnya udara yang dingin dan berembun serta hangatnya mentari yang mulai menyapa. Sepertinya suasana seperti inilah yang dibutuhkan orang yang sedang depresi, ketenangan yang menyatu dengan alam.
Setelah mendapat sayuran yang diinginkan, Almira ikut Bu Puguh menyiapkan sarapan, bahkan Almira langsung akrab dengan mbak-mbak bagian dapur. Dia begitu ceria, sangat berbeda dengam cerita dokter Ibram. Mungkin saja memang Almira hanya butuh perhatian dan lingkungan yang nyaman. Bertemu orang asing pun dia tampak sopan dan memperlihatkan sosok gadis yang menyenangkan.
Tepat pukul 6 pagi, anggota pondok Padang Asa berkumpul, pondok utama menjadi pemisah antara pondok putra dan putri, namun ketika sarapan, makan siang dan makan malam semuanya berkumpul. Kegiatan makan memang sangat cocok untuk mendekatkan anggota pondok, Almira tampak senang punya banyak teman. Terbukti ketika Bu Puguh setelah memimpin doa sebelum sarapan menyempatkan memperkenalkan Almira pada anak pondok lain. Mereka menyambut kedatangan Almira dengan senang hati.
Setelah sarapan usai mereka mulai melakukan aktivitas masing-masing, masih di pondok utama yang memiliki beberapa ruang keterampilan seperti menjahit, lab komputer kecil ataupun ruang bahasa. Anggota pondok dipersilahkan mengikuti keterampilan sesuai keinginan mereka. Ada juga yang bermain voli ataupun bercocok tanam karena bidang itu yang difasilitasi pondok. Keluarga anggota pondok pun tak perlu membayar mahal, melainkan seikhlasnya saja. Tujuan didirikan pondok ini memang salah satunya membantu pelajar yang putus sekolah atau anak jalanan.
"Dulu berani Budhe, tapi sekarang enggak. Karena Al suka bangun tengah malam lalu histeris," jawab Almira dengan jujur. Entah doa apa yang dibaca Bu Puguh sehingga bisa meluluhkan hati Almira. Gadis itu tampak nyaman mengutarakan apa yang ia suka atau tidak.
Bu Puguh membelai rambut anak didik barunya itu, sambil tersenyum. "Baiklah, untuk sementara tidur bersama Budhe dulu ya, kebetulan kamar untuk anak putri sudah penuh."
"Tapi Budhe, apa mereka tidak marah kalau hanya Al yang tidur bersama Budhe?"
"Mereka sudah pernah merasakan seperti kamu, Al. Mereka di sini sudah hampir 2 tahun lebih, yang paling terakhir masuk sini itu si Lila," jelas Bu Puguh ramah.
"Lila anak kecil itu?" tanya Almira kaget. Ia masih ingat saat berkenalan tadi, ada anak gadis, masih kecil dan mungkin kelas 5 SD yang begitu cerewet. Inilah kelebihan Almira meski ada gangguan mental tapi soal ingatan masih sangat bagus.
__ADS_1
"Iya, dia masih 8 atau udah 1 tahun ya, Budhe lupa." Kini Bu Puguh ikut duduk di samping Almira.
Lama keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing, hingga pukul 8 teng para pengajar mulai berdatangan, mereka sudah siap mengajari anak pondok dengan berbagai keterampilan, dan tak lupa Bu Puguh mengenalkan Almira pada para pengajar.
Almira terus melihat para pengajar yang salim takzim pada Bu Puguh lalu menuju ruang keterampilan. Ada rasa iri melihat orang alin berpenampilan necis dan nyaman melakukan aktivitasnya, tidak seperti dirinya yang terus diatur oleh sang mama. Hidup Almira terkesan monoton dan tertekan.
"Kenapa?" wajah sendu Almira pun tak luput dari pandangan Bu Puguh, namun Almira sepertinya tak mau berbagi cerita, mulai oleng lagi emosinya. Mendadak ingin menangis ditandai dengan wajah memerah dan nafas yang memburu. Bu Puguh segera merangkul pundak Almira, menepuknya pelan, sambil membacakan ayat suci agar hati Almira tenang. Benar saja, tak sampai 10 menit, Almira mulai menangis dan memeluk Bu Puguh erat, bahkan isakannya membuat anak pondok yang bermain voli menoleh ke arahnya, namun cepat-cepat Bu Puguh menempelkan bibirnya di mulut, mengisyaratkan untuk diam.
"Kok nangis?" tanya Bu Puguh pelan.
"Maaf, Bu!" ucap Almira sambil mengurai pelukannya.
"Kenapa?"
"Almira ingin seperti mereka," jawab Almira dengan menundukkan kepala, "Tapi Almira gila."
"Mereka siapa? anak pondok atau pengajar tadi?"
"Pengajar tadi."
"Kenapa kamu ingin seperti mereka?" pancing Bu Puguh membangun komunikasi.
"Entahlah, Budhe. Yang Al lihat mereka berdandan rapi, melakukan pekerjaan sesuai keinginannya. Seperti tidak ada paksaan."
Bu Puguh mengangguk, inilah manusia selalu menganggap orang lain lebih beruntung daripada dirinya, padahal hidup hanya sebatas sawang-sinawang (anggapan) saja.
__ADS_1
"Dan kamu pun bisa seperti mereka bahkan lebih, karena kamu dilahirkan menjadi gadis istimewa. Sabar, nanti kamu akan sukses juga."
"Caranya?"