
Nyonya Anggraini agak tak terima dengan balasan sang suami yang menganggap keinginannya menemani terapi Almira sebagai sesuatu hal yang khayal. Kenapa suaminya menyebalkan sekali, sebegitu marahkah sampai kata pisah tersirat diucapkan, pun begitu sengaja menjauhkan dirinya dengan Almira.
"Buktikan kalau kamu memang mau menemani terapinya, saya tunggu kabar tempat yang baik untuk terapi Almira sampai besok malam." Pak Muhtar masih begitu sinis, seolah semua yang menimpa Almira adalah kesalahannya.
Nyonya Anggraini menarik nafas dalam lalu menghembuskannya, sekali lagi dirinya ditinggal begitu saja oleh sang suami. Tangannya mengepal erat, kalau dia mau egois dia sendiri yang akan mengajak suaminya itu berpisah. Sudah 20 tahun hidup penuh sindiran, sekarang dijauhkan dengan anak pula.
"Oke, aku kuat. Aku bisa mengatasi masalah ini!" inilah wanita dan seorang ibu yang akan melakukan segala macam cara untuk kebaikan sang anak. Meski dirinya harus berkorban nyawapun akan dilakukan. Ia tak peduli sang suami akan memberikan kebebasan bertemu dengan Almira atau tidak, yang penting dia punya andil untuk menetapkan tempat terapi jiwa Almira.
Sepeninggal Pak Muhtar, nyonya Anggraini tetap duduk si kursi kantin, mengirim beberapa chat ke sahabat kuliahnya dulu, menanyakan adakah tempat yang cocok untuk terapi Almira.
Ting
Dokter Maulana, dokter Jantung teman S1nya dulu mengirim balasan.
dr. Maulana : Hubungi dokter Ibram di rumah sakit swasta ini, dokter jiwa, muda dan punya pondok untuk terapi kejiwaan. Bagus ya, recommended.
Nyonya Anggraini dibuat melongo dengan jawaban dr. Maulana, dokter Ibram ternyata punya pondok yang diinginkan sang suami, dan yakin dokter muda itu sudah memberikan solusi untuk ke sana.
Tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi sang suami. Cukup lama sambungan telponnya diabaikan, namun pada akhirnya diangkat oleh sang suami pula.
"Dokter Ibram punya pondok yang seperti kamu inginkan, kamu bisa minta tolong untuk hal itu. Soal biaya aku akan ikut membiayai kebutuhan hidup Almira di sana. Semoga anakku lekas sembuh, dan sekali lagi aku minta maaf. Tut."
Nyonya Anggraini tak memberikan kesempatan Pak Muhtar untuk bicara, rasanya sudah malas ia berdebat dengan sang suami. Merasa tugasnya sudah selesai, ia menuju kamar Almira terlebih dulu, sepi dan pintunya tertutup rapat. Seorang ibu hanya bisa berdiri di depan kamar, menahan rasa rindu yang luar biasa, tapi mengalah untuk kebaikan semua pihak. Anggraini sudah terbiasa dengan mengalah, dan ia akan melakukannya kali ini.
__ADS_1
Beberapa suster yang sudah mulai bertugas hanya menunduk hormat, tersenyum ramah untuk sekedar menyapa pada dokter cantik itu.
"Bu dokter," sapa suster Rani yang sepertinya hari ini bertugas untuk Almira. "Kenapa tidak masuk?" tanya Suster Rani hanya sekedar basa-basi, karena sebenarnya ia tahu Pak Muhtar melarang dokter kecantikan itu mendekat ke kamar inap Almira apalagi sampai masuk.
"Mau periksa putri saya?" tanya dokter Anggraini ramah, memang beliau terkesan jutek tapi kalau sudah dekat sangat ramah. Suster Rani pun agak kaget dengan intonasi beliau yang berubah, karena setiap bertemu kesan jutek dan angkuh sangat kentara sekali.
"Iya, nona Almira kondisinya sudah membaik dan sudah berkomunikasi dengan Mas Radit saja, meski hanya beberapa kata," terang suster Rani. Ia juga tak tega melihat seorang ibu yang dilarang menjenguk anaknya yang sakit.
"Suster Rani tahu kapan Almira dipindahkan?"
Suster Rani menggeleng, karena dokter Ibram dan Pak Muhtar belum memutuskan, masih ada pertimbangan beberapa hal agar Almira keluar dari rumah sakit.
"Suster Rani punya nomor saya kan? kalau ada apa-apa kabari saya," pinta nyonya Anggraini Terdengar suaranya yang memohon. Suster Rani hanya mengangguk saja.
Selepas hari itu, nyonya Anggraini mendapatkan info perkembangan Almira dan siapa saja yang menemaninya dari suster Rani. Ia harus berterimakasih pada suster cantik itu yang bisa diajak kerjasama. Nyonya Anggraini pun tak pernah absen mengirim pesan pada sang suami serta Radit juga, menanyakan kabar Almira. Sialnya, hanya Radit yang membalas, sang suami seolah benar-benar melupakannya. Chatnya lun hanya dibaca, sangat menjengkelkan.
Selain mengirim pesan, Nyonya Anggraini juga selalu datang mengunjungi Almira meski dari luar saja. Ia selalu datang pagi sebelum jam 7, di situ ia juga melihat Radit yang keluar dari kamar inap pada 6.45 dengan berpakaian seragam. Kondisi seperti itu membuatnya menangis dalam diam, Radit begitu perhatian pada sang kakak sampai berangkat sekolah pun dari rumah sakit.
Bagaimana dengan Bima, meski nyonya Anggraini sudah tidak tinggal di rumah lagi, ia tetap memantau Bima. Dia bilang ke Pak Muhtar agar tiap hari dirinya saja yang menjemput Bima dari sekolah, namun hanya ditanggapi satu huruf Y. Tega.
"Mama kenapa sih gak pulang malah tinggal di klinik, Bima kesepian tau. Tiap hari setelah isya rumah sepi. Mas Radit juga langsung ke rumah sakit setelah pulang sekolah," adu Bima sembari mencomot ayam krispy, keduanya sedang makan siang bersama di dekat sekolah Bima.
"Mama masih ada urusan, Dek!"
__ADS_1
"Semua ada urusan, papa juga pulang hanya ganti baju setelah itu ke rumah sakit, kerja, Bima kapan sih diperhatikan. Lama-lama, Bima juga bisa jadi gila baru deh mama dan papa pulang."
Deg
Nyonya Anggraini langsung menghentikan kunyahannya, mencerna ungkapan hati anak bungsunya. Jangan sampai ia menyepelekan juga. Dulu, Almira psikisnya diabaikan bisa depresi. Bima yang lebih vokal bahkan telah memberikan warning jangan sampai anaknya kembali menjadi korban.
"Jangan ngomong gitu, Dek. Gak baik."
"Bima sendiri, Ma. Berangkat juga kebanyakan di antar sopir. Sebenarnya Bima anak mama dan papa gak sih, hanya Mbak Almira kali anak mama dan papa."
Nafsu makan nyonya Anggraini mendadak hilang. Beda anak beda tipe, Almira cenderung diam memendam semua rasa bahkan dia depresi karena sikap pendiamnya. Sedangkan Bima, anaknya sangat terbuka dan sudah memberikan warning sebelum dia menjadi gila. Astaga, anak ini.
"Bima maunya gimana?" yah sekarang Anggraini mencoba sadar, menerapkan sikap demokrasi pada ketiga anaknya. Mereka berhak menyuarakan apa keinginannya.
"Ya aku maunya juga diperhatikan, Ma. Papa dan mama juga harus memperhatikan aku. Bagaimana kalau aku diperhatikan orang lain."
Ya Allah, nyonya Anggraini ingin tertawa mendengar keluhan Bima, bukan apa-apa tapi anaknya sungguh menggemaskan bicara seperti itu.
"Perhatian kayak gimana yang Bima mau?"
"Ya yang kayak gini, makan ada yang nemenin. Sekolah diantar jemput mama atau papa, hem boleh deh sekali-kali sopir. Trus aku ditanya kabar sekolah. Ditanya di sekolah ngapain aja Bima udah seneng tau, Ma."
Anggraini mengangguk setuju. Kadang permintaan seorang anak yang sederhana saja bisa membuatnya bahagia, tidak melulu sebuah materi.
__ADS_1
"Oke ..mama akan lakukan itu!" janji nyonya Anggraini.