
Mengobrol dengan Intan ternyata memberikan keuntungan bagi Almira, bagaimana tidak gadis cerewet itu semangat sekali memberikan ide untuk mencari cuan dengan sosial media. Gadis SMP itu mulai mengeja ide apa saja yang cocok untuk dikembangkan agar mendapat cuan.
Tutorial make up, ide pertama kali muncul tanpa berpikir panjang. Padahal jenis make up saja Almira tak tahu, gimana mau bikin tutorial make up. Belum lagi bagaimana caranya membuat wajah full make up tapi tak menor, Almira tak sanggup. Ide pertama ditolak. "Make up mahal kali, Tan!" protes Almira memberikan alasan masuk akal.
"Tutorial jilbab deh," oke ide kali ini lumayan bisa dipertimbangkan. Intan sehari-hari mengenakan jilbab, otomatis dia mungkin punya pengalaman kreasi segi empat. "Mbak nanti yang jadi modelnya, biar aku yang uplek-uplek kreasi gimana?"
Almira tampak diam, "Boleh, kita coba aja sekarang gimana?"
"Nanti merekamnya pakai ponsel Mbak ya, hasil jepretan apel tergigit pasti lebih bagus daripada ponsel usangku ini," ucap Intan sendu sambil mengelus layar ponselnya yang sudah ada beberapa bagian yang retak.
"Harus bersyukur masih punya ponsel kan, nanti kalau kita dapat cuan insyaAllah bisa beli ponsel," saran Almira bijak yang langsung diamini Intan.
Setelah itu keduanya menuju kamar Intan, mengambil beberapa jilbab segi empat, inner jilbab, peniti dan jarum pentul serta bros. "Koleksiku gak banyak, Mbak."
"Gak pa-pa, seadnya dulu aja!" balas Almira yang membantu membawa keperluan jilbab ke kamarnya, karena kamar Almira lebih privat daripada kamar Intan yang ada Kia sedang mengerjakan tugas.
Almira mulai bersiap, ia memakai bedak lebih dulu, eyeliner, dan lip tint, make up standar dia punya, karena sang mama dulu selalu membelikannya. Kemarin, melalui Radit sang mama membawakan alat make up dasar. Meski Radit bilang yang membelikan tetapi Almira tak percaya. Mana paham Radit dengan merk make up dan jenisnya, otomatis mama lah yang mempersiapkannya.
"Eyeliner aku ketebalan gak, Tan. Udah lama nih gak pakai," ucap Almira yang masih mengaca dan berusaha menyeka goresan eyeliner di ujung matanya.
"Eh...eh jangan, udah pas kok," cetus Intan yang langsung menarik Almira ke kursi riasnya. "Kameranya segera disetting, pastikan kepalaku gak kelihatan, model dan MUA nya jauh bedanya!"
Almira terkekeh mendengar ocehan Intan itu, "Jauh apanya, kamu kan juga cantik kali Tan," goda Almira sambil terkikik.
"Cantil versi tomingse maksud Mbak, makaseeh!" jawab Intan dengan suara dibuat kesal-kesal menggemaskan, jangan tanya betapa nyaringnya Almira tertawa mendengar kata tongmingse (tolong mingkem sedikit alias agak tongos).
"Nanti kalau udah dapat cuan, aku ajak ke dokter gigi deh buat rapihin," membujuk semangat anak remaja seperti Intan memang gampang, kasih aja umpan cuan pasti semakin semangat. Apalagi seperti anak yang tinggal di pondok yang sebagian besar punya masalah keluarga.
__ADS_1
"Ih..pokoknya jangan PHP deh, Mbak. Nanti aku udah mengharap uang diujung ubun-ubun malah gak mencapai target.
Almira terdiam, rendah dirinya muncul semangat dan percaya diri menjadi model tutorial hijab nyungsep. Pandangannya sendu, tak ada wajah ceria lagi, malah kini ia seperti melamun.
Intan sudah tiga kali menggoyang lengan Almira agar sadar dan segera take video. "Mbak kok melamun sih," protes Intan merasa dicuekin.
"Hah?" Almira tersentak dan melihat wajah Intan yang cemberut. "Ouh video ya, oke siap!" untung saja Almira langsung konek sehingga Intan tak perlu menjelaskan dengan detail.
Almira sudah meletakkan kamera ponsel menghadapnya. Dia dan Intan sudah siap take video. Begitu timernya berjalan, Intan dengan cekatan mulai memberikan sentuhan kreasi pada jilbab segi empat yang berwarna mocca itu. Intan pintar sekali memadu -padankan kombinasi warna jilbab yang Almira pakai dengan pakaiannya.
Gaya simpel untuk hang out ala IntEl, semoga bermanfaat dan jangan lupa klik subscribe, like and share ya kawan.
Begitu Intan memberikan ajakan bagi pengikutnya agar segera nonton dan biaa menaikkan jumlah viewer dong.
Klik
Almira menekan tombol selesai, kemudian dibantu Intan melepas segala printilan jarum pentul. "Mbak, kamu tuh cantik banget loh, pakai hijab."
Keduanya serius melihat video tersebut, tampak amatir namun Almira akan searching untuk editing video sehingga bisa layak posting.
"Gimana kalau minta bantuan Kang Aqil, jago tih editing video," usul Intan to the point, namun Almira menggeleng, menolak tegas.
"Kang Aqil kayanya marah deh sama aku," curhat Almira pada remaja baru puber ini. Almira tak sungkan untuk berkeluh kesah pada anak kecil, karena baginya uneg-uneg dalam hati harus diungkap pada orang yang menurutnya memang tepat. Intan dirasa tepat untuk menjadi tempat keluh kesah Almira.
"Kok bisa? bukannya tadi pulang dari musholla masih jalan beriringan dengan mesra," goda Intan dengan menaik turunkan alis, Almira tertawa dibuatnya bagaimana bisa gadis kecil itu bisa main mata dengan centil dan tengil.
"Mungkin ada ucapanku yang membuatnya marah, Kang Aqil langsung ngeloyor pergi tanpa pamit, makanya aku sudah mengambil kesimpulan aja kalau dia lagi marah sama aku."
__ADS_1
"Tetot," Intan menyilangkan kedua jari telunjuknya, ia yakin pasti ada kesalah pahaman diantara keduanya. Gak mungkin juga Kang Aqil bisa marah, selama ini sama anak putri selalu baik dan ramah.
"Biar jadi urusan Intan," lanjutnya sambil membusungkan dada. Jumawa.
"Eh gak ada ya gitu-gituan, udah biarin kita belajar otodidak saja. Sekarang belajar apapun via youtub* bisa kok."
Intan menggeleng, "Pasti lama, kalau ada yang ahli kenapa gak diberdayakan. Udah urusab Intan itu mah, tapi...."
Almira mengerutkan dahi, menagkap bau-bau signal mencurigakan. "Pinjam hpnya!" ucap Intan sambil mengadah.
"Enggak ada pinjam hp, nanti kamu usil kirim-kirim ke Kang Aqil."
"Dih...dih...suudzon, kalau gitu kirim video tadi ke nomorq?"
"Buat apa?" tanya Almira dengan lirikan curiga.
"Ya aku mau share dong, kan kita jual video tutorial jilbab, gimana sih Mbak Al ini!"
Almira terdiam, agam tak rela sih, tapi wajah Intan meyakinkan bahwa video itu sudah layak untuk dishare, ya meski di lingkup antar teman dan guru aih. "Emang memori ponsel kamu cukup?" tanya Almira yang benar saja membuat Intan kikuk. Hp jadul memorinya tinggal beberapa MB saja belagu minta video dengan resolusi tinggi.
"Cukup kok, aku habis bersih-bersih tadi. Membuang sampah ataupun cache," jelas Intan meyakinkan..
"Ya udah berapa nomornya," Almira pun menyerahkan ponselnya begitu saja dan mengizinkan Intan mengirimkan video.
Sambil memastikan video sudah terkirim, Intan menahan tawa setengah mati. Khawatir Mbak Al tahu dan pasti marah.
"Ini udah!" sodor Intan menyerahkan ponsel Almira. Tanpa curiga sedikitpun Almira menerima ponsel itu dan pada detik berikutnya pesan masuk dari nomor tak dikenal.
__ADS_1
"Cantik," tulis seseorang nan jauh di sana. Almira penasaran tentunya, ia langsung menekan foto profil empunya dan yang membuat Almira melongo, wajah ganteng Kang Aqil terpampang nyata.
Mati gue......