MENTAL

MENTAL
VIA CHAT


__ADS_3

Sidang dari Bu Puguh memberikan efek luar biasa pada Almira dan Aqil. Keduanya benar-benar mematuhi peringatan keras dari beliau dan tak protes sama sekali. Sadar juga kalau kedekatan mereka nanti berefek pada citra pondok. Terutama Aqil pun menerima dengan legowo.


Boleh chat kan ya?


Begitu pesan Aqil saat keduanya sudah masuk ke kamar masing-masing, dan bersepakat dengan Bu Puguh untuk tidak berhubungan lebih lanjut. Hanya mengutarakan perasaan saja.


Almira yang baru saja selesai menggunakan perawatan kulit menengok sebentar pada ponsel.


Boleh


Jawab Almira singkat. Ia tak mau jutek atau apapun karena menambah teman tentu lebih baik, Aqil pun tahu Almira hanya menganggap teman padanya.


Janji kita profesional aja. Selamat malam


Aqil memang tak mau gegabah dalam memperlakulan Almira. Ia sadar betul pada gadis itu tidak ada perasaan padanya. Biarkan mengalir begitu saja, toh Almira pasti terjaga di dalam pondok. Interaksinya dengan lawan jenis terbatas, dan anak pondok usianya di bawah Almira.


Sejak saat itu Almira dan Aqil jarang bertemu. Sesekali saja Aqil kirim chat gimana kabar, basa-basi sih sebenarnya dengan alasan dirinya masih sibuk tugas kampus. Almira pun juga sibuk menemani anak pondok dan rombongan Oliv, giliran saja. Mereka juga sudah menetapkan bakat yang akan dikembangkan, sebagian dari mereka memilih yang berhubungan dengan IT, untuk medianya pun sudah tersedia, yakni laptop. Mereka berasal dari anak orang kaya sehingga laptop dengan spek tinggi pun mereka punya.


Kang, masih sibuk?


Terpaksa malam ini Almira mengirim chat Aqil lebih dulu, ia sudah menerima ide dari anak-anak dan sepertinya membutuhkan bantuan Aqil. Namun sayang, bukan chat yang masuk justru panggilan telpon Aqil.


"Iya?" tanya Almira gugup, ditelpon Aqil saat ini rasanya campur aduk. Malu, cemas, dan penasaran jadi satu. Sudah lama tak mengobrol membuat Almira canggung.


"Gimana? Aku lagi di kota, Al. Belum bisa balik ke pondok, emang anak-anak udah fix mau belajar sama aku?" tanya Aqil di seberang dengan suara di belakang yang lumayan berisik.


"Kang Aqil lagi di mana, berisik banget loh?" bukan menjawab pertanyaan Aqil malah menanyakan keberadaan pemuda itu. Penasaran juga, di kota dan dalam keadaan berisik.

__ADS_1


"Lagi di cafe, kenapa?" Aqil sengaja keluar dari cafe, mencari tempat yang sepi agar mendengar suara Almira.


"Enggak kok berisik banget," nada suara Almira terdengar tak suka. Entah karena apa mendengar Aqil pergi ke cafe dan ia yakin ada teman cewek yang ikut di cafe tersebut.


"Jadi gimana?" tanya Aqil kembali ke topik sebelumnya.


"Mereka sih tertarik belajar sama Kang Aqil, katanya IT lagi booming. Tau dari mana coba lagi booming segala," masih sewot dan tiba-tiba ingin menyudahi percakapan dengan Aqil. Apalagi barusan suara cewek memanggil Aqil untuk segera masuk.


"Bukan kamu kan yang promosiin aku ke mereka?" goda Aqil, karena sebetulnya ia sangat kangen dengan gadis ini, namun dipaksa untuk menahannya. Dia pun akhirnya lebih suka kembali ke rumahnya di Jakarta, mengambil proyek bersama dosen dan teman agar tak sering di pondok. Kalau pun pulang ke pondok sangat larut, agar tak bertemu Almira.


"Enggak lah, ngapain," jawab Almira sok jutek.


"Udah berapa hari loh kita gak ketemu, kok jadi jutek banget?" Aqil masih tak tahu kalau Almira sudah keluar tanduknya, yah sekali lagi ia mendengat suara cewek bahkan suaranya sepertinya sangat dekat dengan Aqil.


"Telpon dari siapa sih, Qil. Sampai keluar segala, yuk!" ajak teman perempuan Aqil yang sengaja menjemput Aqil di luar cafe.


"Udah dulu Kang, sepertinya Kang Aqil sibuk," ucap Almira yang entah sekarang ingin menampol wajah Aqil dengan bantal. Gemes tapi bisa apa, masih sadar dirinya bukan special one untuk Aqil. Bisa saja karena ditolak dan dibatasi interaksi oleh Bu Puguh, Aqil move on.


"Iya nih, besok aku telpon deh. Kayaknya belum bisa balik ke pondok!" jawab Aqil yang semakin membuat Almira gondok setengah mati hingga ubun-ubun.


Setelah sambungan telpon ditutup, Almira menghela nafas berat. Keluar kamar, niatnya mau mengambil air minum lalu mencari udara segar, suasan hatinya lagi kesal.


"Gue tuh kenapa sih, dulu orangnya nyatain cinta ditolak. Sekarang, orangnya mau move on gue yang gak rela. Heh...hati lo maunya apa?" gumam Almira bermonolog. Merasakan hatinya mau apa.


Perempuan oh perempuan sukanya kok main tarik ulur, di saat perhatian dan sengaja didekati malah ditolak. Kalau di chat juga dibalas, bahkan tak pernah sekalipun diabaikan, kini giliran jauh dan punya teman perempuan kok hati rasanya panas.


...****************...

__ADS_1


Rombongan Oliv selain Rangga, memilih bidang IT untuk mengembangkan bakatnya. Mereka sudah ancang-ancang ide apa yang akan dibahas saat bertemu dengan Aqil nanti. Sampai lebih dari seminggu Aqil belum pulang ke pondok, karena masih berkutat dengan proyek di Kota serta hari tenang di kampus membuat Aqil awet di sana. Almira berusaha bersikap profesional dia pun masih meladeni chat Aqil. Toh Aqil sudah jarang chat Almira, hanya tanya lagi apa? gimana rombongan Oliv masih les privat? dan itu bisa dihitung dengan jari.


Sore ini, Oliv CS memaksa Almira membuat group Youtuber Masa Depan. Mereka yang memutuskan ke bidang IT masuk ke grup tersebut, Almira pun memasukkan nomor Aqil.


Grup apa ini? Aqil membuka sapaan saat kontaknya masuk grup.


Kang ganteng kangeeennnn, si centil Diva beraksi.


Widih..nanti ada yang cemburu loh kalau bilang Kang Aqil ganteng, balas Lina, hanya sekedar komentar saja, karena hubungan Aqil dan Almira tidak menyebar luas.


Eh udah ada yang punya? Diva kepo.


Coba tanya Mbak Al! Aqil memancing jawaban Almira, mau tahu saja perasaannya dengan dirinya stagnan atau sudah berupa.


Lama rombongan tersebut tak membalas ternyata Diva sedang mengintrogasi Almira. "Mbak jawab dong pertanyaan Kang Aqil di grup," bujuknya sebelum pulang, karena memang jatah belajar bersama Almira sudah beres.


Almira tak mau ambil pusing, membaca gruo yang ia buat beberapa menit lalu. Mengingat kejadian tempo hari, mendadak dirinya kembali kesal.


Gadis kota, Div. Sampai Kang Aqil gak pulang ke pondok.


Aqil sudah membaca di grup, dan tak membalas, malah mengirim chat pribadi ke Almira. Merasa ada yang tak beres dengan komentar Almira. Biasanya gadis ini kalem, kalau bukan urusannya tak ditanggapi. Lalu kini apa maksudnya? apa mungkin lagi down dan labil. Aqil tak tenang.


Setelah isya aku mau telpon. Begitu chat pribadi yang ia kirim pada Almira.


Benar saja, belum juga Almira melepas mukenahnya, Aqil sudah telpon. Basa-basi di awal menanyakan kabar dan kegiatan sehari-hari, lalu Aqil memberanikan diri bertanya.


"Gadis kota siapa?" tanya Aqil dengan harap-harap cemas.

__ADS_1


__ADS_2