
Almira terpaku menelisik tiap inci bangunan rumah yang sudah ditinggalkan beberapa bulan. Tak banya berubah, masih sepi saja. Selama di perjalanan, ia tak banyak bicara dengan Radit. Perjalanan jauh biarkan sang adik konsentrasi pada keselamatan berkendara, lagian khawatir berdebat juga. Sekarang, Almira tak punya keberanian untuk masuk. Bayangan dia tertekan di kamar melintas beruntun, hingga lututnya tak kuasa menahan tubuhnya. Ia bahkan memejamkan mata, mengingat cara mengontrol emosi yang ia dapatkan ketika terapi dengan dokter Ibram. Tarik nafas, buang perlahan, dan yakinkan diri semua akan baik-baik saja.
"Ayo masuk, Mbak. Rumah ini masih sama kok kayak dulu," intonasi suara Radit lebih lembut dan terdengar memang tulus meminta Almira pulang. "Takut?"
Almira menoleh pada sang adik dan tak lama kemudian mengangguk juga, Radit tersenyum maklum. Pemuda itu langsung menggenggam tangan sang kakak, memberikan kekuatan bahwa sang kakak pasti mampu menghapus kenangan buruk di rumah ini. "Kita keluarga Mbak, selalu melindungi Mbak. Kubur jauh-jauh kenangan pahit tiga bulan kemarin!" saran Radit begitu dewasa mendukung Almira menyetabilkan emosi.
Perlahan, langkah kakak beradik itu pun menuju pintu utama. Genggaman Almira semakin erat, dan terasa dingin. Beberapa kali terdengar gadis itu menghela nafas berat. Dadabya bergemuruh karena rasa cemas datang bertubi-tubi. Begitu pintu dibuka, Almira melepas genggaman Radit dan spontan bersembunyi di balik punggung sang adik.
"Gak ada orang, Mbak!" seru Radit langsung menarik tangan Almira agar tetap berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Lo anak hebat, Mbak. Buang semua rasa cemas lo," ucap Radit sedikit tegas. Jangan sampai tindakan paksaannya berakibat kemunduran mental sang kakak lagi. Malah runyam nanti.
"Mama sudah tidak tinggal di sini," akhirnya Radit jujur dengan keadaan keluarga mereka saat ini. Terbukti pegangan tangan Almira yang sangat erat di jaket Radit mengendur. "Beliau sudah keluar dari rumah ini."
Almira terdiam. Mencerna kalimat yang barusan tercetus dari bibir sang adik. "Beliau menyerah karena kekacauan dalam rumah tangga ini akibat sikap ambisius mama."
Air mata Almira menetes, rasa cemas berubah menjadi rasa bersalah. Mamanya keluar dari rumah juga akibat keegoisannya yang tak kunjung sembuh. "Plis, aku mohon kita sebagai anak harus bisa kerja sama untuk memperbaiki keadaan keluarga ini."
"Mbak Alllllll!" teriak Bima dari lantai dua, remaja itu kegirangan melihat sang kakak sudah sampai di rumah. Ia tak menyangka Radit bisa membawa kakak mereka pulang. Suatu keajaiban yang perlu dirayakan. "Aku seneng banget Mbak Al pulang, kangeeeen!" Bima memeluk sang kakak erat. Sungguh pemandangan yang menyayat hati. Tiga anak yang akan beranjak dewasa, saling menguatkan di saat kondisi keluarga sedang di ujung tanduk.
__ADS_1
Radit sekuat tenaga menahan tangis, sudut matanya sudah menampung air, bila berkedip sekali saja akan meluncur. Ia harus kuat, mengambil peran anak laki-laki pertama, pelindung kakak perempuan dan adiknya, meski dirinya sendiri rapuh, belum saatnya berkutat pada masalah seperti ini.
"Mbak Al gak usah takut, di sini tinggal kita bertiga. Mama dan papa sudah punya kehidupan masing-masing. Kita bebas, tapi tetap menjadi anak baik kok," celoteh Bima dengan menarik tangan Almira untuk naik menuju kamarnya. Hati Almira sedikit lega, karena dari pengakuan Bima dan Radit, mama dan papa sedang tidak ada di rumah.
"Kita bertiga ini lucu ya Mbak, uang banyak tapi tak punya keluarga utuh," cicit Bima dengan suara sendunya.
"Papa dan mama katanya mau break dulu jadi pasangan, mereka egois gak sih. Gak punya hati, tega, gak pernah memikirkan perasaan kita bertiga."
Almira tambah shock mendengar keputusan akhir dari papa dan mamanya, tak pernah terpikir kalau mereka menyerah juga. "Tapi jangan khawatir, kita bersaudara, kita tak boleh meniru egoisnya orang tua kita. Kita bertiga berkumpul, akan membuktikan pada mama dan papa bahwa kita pun sanggup memupuk cinta sesama keluarga, tapi kalau masalah uang gak pa-pa ya kita masih minta mereka!"
__ADS_1
Almira sedikit tersenyum, lalu merangkul pundak sang adik dan mengangkat kepalanya tegak menuju kamarnya, menyingkirkan rasa takut, tangannya mendorong pelan kamar pribadinya, "Ya kita bisa, bisa saling menyanyangi meski papa dan mama tak peduli lagi. Temani, Mbak ya!"
"Selalu!" jawab Bima mantap.