MENTAL

MENTAL
SARAN DARI AKANG


__ADS_3

"Jadi?" tanya Kang Aqil usai zoom meeting bersama anak didik dadakan saat Almira masih tinggal di pondok dulu. Aqil tak melepaskan mereka meski Almira sudah tidak tinggal di pondok lagi, murni keinginan untuk mengajar mereka.


"Entahlah, aku masih belum bisa legawa ketika berdekatan dengan mama. Hem salah gak sih?" Almira meminta persetujuan Aqil. Ia rasa Aqil lebih dewasa darinya siapa tahu memberikan solusi yang pas untuk hubungan Almira dengan sang mama.


"Kamu minta pendapat aku?" tanya Aqil penasaran, ia sudah dibilang oleh dokter Ibram bahwa kadang kala Almira bicara hanya untuk didengar, jangan sampai memberikan komentar apalagi menjudge.


Almira mengangguk, "Bisa?" pintanya membuat Aqil berpikir sejenak. "Bayangkan saja Kang Aqil diposisiku!" lanjut Almira bijak.


"Sebenarnya aku tak punya pengalaman seperti ini sebelumnya. Hanya saja kalau aku di posisi kamu, pasti marah dan kecewa itu sangat wajar. Kita boleh kok egois juga. Hanya saja aku bukan tipe orang pendendam, aku akan marah sesaat setelah itu aku fine. Aku anggap masalah itu selesai dan gak bakal aku mau mengulang peristiwa itu."


Almira mengangguk dengan jawaban Aqil. Memang dalam hati ia sebenarnya ingin seperti Aqil. Marah dan kecewa hanya sesaat, dan mengaggap selesai semua. Lalu memperbaiki keadaan. Namun itu hanya teori atau pengalaman orang lain, tidak bagi Almira.


Rasa sakit hati yang diciptakan sang mama sangat dalam, bahkan ada niatan menganggap mama tidak ada, agar hidup tenang. "Emang kamu gimana sih rasanya bertemu dengan mama kamu?" tanya Aqil penasaran.


Almira hanya mengedikkan bahu, "Susah dijelaskan."


Aqil tahu raut kecewa dan sakit hati Almira pada sang mama sangat menumpuk, "Ya udah sih, dimaafkan aja."


"Alasannya?"


"Beliau sudah minta maaf.Apalagi beliau orang tua kamu loh, Al. Jangan sampai ada penyesalan nantinya, karena suatu saat nanti kamu pun akan menjadi ibu," ucapan Aqil serius namun ditanggapi kekehan Almira. "Kok ketawa sih?"


"Aku baru sembuh, Kang. Masih belum kepikiran jadi ibu, lagian siapa yang mau nikah sama mantan orang sakit mental."


"Aku!"


"Mulai deh, apapun diskusi kita tetap ya menuju ungkapan hati," ledek Almira sembari menahan tawa melihat Aqil yang frustasi. Berkali-kali ditolak bos. Sakitnya tuh sampai ulu hati.


"Namanya juga usaha untuk bahagia," jawab Aqil lesu. Setiap ditolak Almira, ingin sekali ia putus telponnya, atau paling tidak ngomel lah. Ya kali, cowok seganteng dan sekalem ini ditolak terus. Mengenaskan!!


"Akang mau tau gak kenapa aku gak suka Akang mengungkapkan perasaan ke aku?"


"Kenapa?"


"Sampai saat ini aku masih insecure dengan diriku. Aku sangat khawatir mentalku masih sakit . Apa Akang tidak malu punya pasangan gila?"


Aqil tersenyum sembari mengangguk-anggukan kepala. " Manusiawi pemikiran kamu, never mind. But you should remember, you just wanna a close friend in your life, just it, and i do!"


"Makasih!"


"Kok makasih? Emang masih ingat vocab inggris ya?"


"Boleh nimpuk muka ganteng Akang, gak!" kesal Almira yang diejek Aqil. Ia pahan dengan ucapan Aqil, hanya saja hati Almira belum bisa menentukan siapa teman dekatnya. Rasa percaya pada orang lain, sirna ketika hantaman paksaan dari sang mama mengubah mentalnya begitu dalam.

__ADS_1


"Akang teman dekat aku gak?" tanya Almira yang akan menilai teman dekat yang ia butuhkan seperti apa. Intinya Almira harus mendapat teman dekat di lingkungannya


"Enggak!"


"Kok enggak sih? Kan kita hampir tiap hari komunikasi loh, masa' Kang Aqil gak merasa teman dekat aku sih," protes Almira sembari manyun. Sangat menggemaskan.


"Karena aku tak hanya teman dekatmu," ucap Aqil serius sembari menatap mata Almira intens.


"Hah? Apa emang?"


"Ck....gak peka banget, kamu tuh udah aku anggap teman hidup kali," lagi-lagi Aqil mengungkapkan perasaannya.


"Akang tuh beneran punya perasaan cinta sama aku?"


"Iya, aku sayang aku cinta dan aku menerima kamu apa adanya," jawab Aqil tegas. Baru kali ini ia bicara serius masalah hati pada lawan jenis.


"Akang mungkin punya perasaan seperti itu karena Akang kasihan sama aku," Almira menebak asal muasal rasa itu muncul dalam hati Aqil.


"Enggak sih, justru aku awalnya malah penasaran kenapa kamu bisa setengah oleng gitu!"


"Lama-lama menyebalkan banget nih orang," Almira tak tahan dengan sifat menyebalkan Aqil. Begitu lancar menyebut setengah oleng. Bikin insecure banget.


Aqil tertawa, ia sangat menikmati wajah kesal Almira saat ini. "Lah emang awalnya gitu. Gak ada tuh rasa kasihan melihat kamu."


"Kamu anak orang kaya, pasti penyakit mental kamu akan teratasi. Bahkan papa kamu bisa membooking dokter Ibram loh."


"Ya kan kerjaannya!"


"Ya memang, hanya saja ditangani langsung secara privat oleh dokter spesialis tuh feenya gede tahu!"


Almira mengangguk paham. "Lalu?"


"Ya aku melihat kamu terus, saat bicara sama Bu de, saat berinteraksi dengan anak pondok, tawa kamu semua bikin aku penasaran, sampai akhirnya aku bilang ke bude dan dokter Ibram!" aku Aqil jujur. Aqil mau Almira tahu latar belakang rasa itu muncul, dan tertanam dalam.


"Bilang apa?"


"Aku suka kamu, dan minta izin agar terlibat dalam penyembuhan kamu!"


Almira menganga, kaget. Tak mengira Aqil yang tampak cari perhatian punya misi khusus. "Kenapa? Gak nyangka ya?"


Sekali lagi Almira mengangguk.


"Ya karena kalau aku udah sayang sama orang, i wanna be the best for her, baik sikap maupun perhatiannya."

__ADS_1


"Segitu sayangnya sih, bikin salah tingkah aja!"


"Lah kan biar kamu tahu aku gimana," jelas Aqil yang ikut tersenyum mendengar kejujuran Almira.


"Oke ...karena aku sudah mendengar yang sebenarnya. Akang mau apa?"


"Mau kamu!"


"Serius napa!"


"Dua rius malah, Al."


"Ck...Almira masih banyak kurangnya loh, Kang."


"Manusia itu merasa kurang terus, gak bakal berhenti pada keinginan sekarang. Malah bisa dibilang jatah keinginan tahun depan pun kalau bisa diambil sekarang, ya sekarang."


"Pak Ustadz!"


"Dih...." cicit Aqil tak suka dengan sebutan Pak Ustadz.


"Yang jelas Akang tahu jawabanku saat ini sama seperti kemarin-kemarin. Banyak hal yang butuh diperbaiki Al, Kang!"


"Mau tahu yang harus kamu perbaiki lebih dulu, dan paling penging?"


"Apa?"


"Terimalah maaf mama kamu, dan hal itu akan membuat hidupmu lebih berkah dan berharga. Lawan ketakutannya, karena itu hanya godaan syetan. Ingatlah pengorbanan mama kamu menjadikan kamu seorang gadis cantik, dan baik hati sampai keponakan Bu Puguh lopedeath banget!"


Almira tersenyum malu, bahkan sempat menundukkan kepala, menyembunyikan semu merah di pipinya.


"Kalau kamu takut, ajak aku untuk bertemu mama kamu."


"Kok?"


"Sekalian melamar!"


"Gombal terooooooos," ledek Almira yang sepertinya akan menyetujui saran dari Aqil.


"Mulai besok ya?"


"Lah bagaimana caranya?"


"Buka komunikasi via chat dengan mama!" ucap Aqil tegas.

__ADS_1


__ADS_2