MENTAL

MENTAL
SARAN BERHARGA


__ADS_3

Elis menepuk bosnya dengan sabar, bahkan dia sempat menitikan air mata, tak tega dengan peristiwa yang sedang dialami dokter cantik itu. Sekilas Elis paham alasan nyonya Anggraini bersikap seperti itu pada putrinya, dan tak bisa menyalahkan bosnya juga, karena mau bagaimanapun seorang ibu tidak akan membiarkan anak gadisnya menderita layaknya nasib dokter Anggraini dulu. Tapi Elis juga tidak bisa membenarkan sikap otoriter bosnya itu karena sudah tidak zamannya mendidik ala diktator pada anak gen Z.


Gen Z lebih terbuka, suka tantangan tapi tidak mau susah, tidak mau banyak aturan dan Elis yakin kalau Almira diberikan kebebasan sesuai keinginan gadis itu, pasti sekarang dia sudah bisa menorehkan prestasi yang luar biasa. Lagi-lagi, Elis sadar, doktrin sukses ala dokter Anggraini adalah menjadi dokter. Mau sekaya apapun atau banyak prestasi Almira di luar akademik tidak akan membuat nyonya Anggraini bangga, karena menurut beliau sukses hanya sebagai dokter.


"Aku hidup untuk siapa, Lis, hiks...hiks..," dokter kecantikan itu menghambur dalam pelukan Elis, sepertinya sangat membutuhkan sandaran agar bisa meluapkan segala emosi dan ganjalan hati.


"Ibu harus kuat, hidup untuk anak-anak ibu," sahut Elis menguatkan. Almira bisa depresi seperti itu karena tidak ada keluarga yang menguatkan, gadis itu terlalu larut dalam aturan sang mama, dan Elis tak mau melihat bosnya ikut depresi juga. Ia akan berjuang sekuat tenaga untuk membantu bu dokter dan keluarga memutus rantai depresi.


"Anak dan suami saya selalu menyalahkan saya, Lis. Sakit Lis hati ini," isak beliau sembari menepuk dada. Percayalah, pasti tak tega melihat betapa hancurnya dokter Anggraini sekarang. Wajahnya sembab, matanya bengkak, suaranya mulai serak, tubuhnya pun tak berdaya untuk berdiri, keluarga yang ia sayangi satu per satu meninggalkannya.


"Aku harus gimana agar mereka mau melihat aku lagi, Lis. Mereka kekuatanku untuk hidup," keluhnya lagi, terdengar sangat pilu sebagai wanita mandiri yang sudah ditinggalkan kedua orang tuanya lama. Kini, kekayaan, aset serta ilmu yang ia genggam serasa tak berguna kala cinta lepas dari hidupnya. Terpuruk, amat terpuruk.

__ADS_1


"Ibu ngomong jujur ke Bapak, gimana, dicoba atuh!" Elis spontan saja memberikan ide. Sebenarnya ia gemas juga kalau Bu Anggraini ini terlalu tertutup pada suaminya, segala macam keluh kesah dan sakit hati pada ibu mertuanya dipendam sendiri, dibagi sedikit pada Elis itu pun pasti tidak bisa melegakan perasaannya.


Dokter Anggraini menggeleng keras, ia tak yakin sang suami mau menemuinya. "Dicoba, Bu!" pinta Elis sekali lagi.


"Setelah kejadian seperti ini apa papa dan Radit bisa percaya sama aku," bahkan rasa percaya diri yang selama ini melekat pada dirinya ikut hilang. Elis menatap nanar pada atasannya itu.


Puk


Puk


"Ibu tahu kenapa saya dan suami saya bisa berpisah?" Elis sengaja memberikan gambaran akan sakitnya perpisahan dengan orang yang dicintai karena hal sepele.

__ADS_1


Nyonya Anggraini terdiam, menatap terapisnya itu dengan seksama, meski masih sesenggukan.


"Karena komunikasi kita buruk. Selama ini dia sangat memendam ketidak sukaannya akan masalah penghasilan. Dia merasa harga dirinya terinjak karena penghasilan saya lebih tinggi darinya. Dia tak pernah mengungkapkannya dan saya selalu menganggap kondisi kami baik-baik saja, apalagi suami saya memang pendiam. Mungkin sudah puncak deritanya, langsung menalak saya, dan ibu tahu malam itu kami tidak bertengkar sama sekali ketika talak terucap, kami mengungkapkan apa yang kita harapkan masing-masing, sampai menjelang pagi kami pun akhirnya minta maaf dan sepakat untuk tidak melanjutkan pernikahan kami. Terlalu banyak ketimpangan yang dirasakan oleh suami saya hingga dia sendiri tak yakin akan bahagia bila melanjutkan."


"Aku gak mau berpisah, Lis."


Elis mengangguk, memeluk mama dari Almira itu, "Bicaralah yang sebenarnya pada Pak Muhtar, ungkapkan segala ganjalan hati ibu, jangan pernah takut untuk mencoba. Kalaupun gagal kita tidak akan menyesal bahwa kita pernah berjuang untuk mempertahankannya."


Saran berharga dari orang kepercayaannya membuat nyonya Anggraini kembali menangis, ia harus bersyukur karena ada orang alin yang begitu perhatian padanya. Ada dorongan hati untuk mengikuti saran Elis itu, egonya pun tertindas oleh rasa ketakutan akan ditinggal olej orang terkasihnya.


"Saya pesankan makanan ya, Bu. Menghadapi Pak Muhtar besok juga butuh tenaga yang fit loh," ucap Elis dengan nada bercanda.

__ADS_1


"Terimakasih," ucap bu dokter sembari tersenyum tipis.


__ADS_2