MENTAL

MENTAL
KUNJUNGAN SURPRISE


__ADS_3

Almira tertawa riang bersama rombonga Oliv. Kini anak SMP yang dulu malas sekali dengan matematika perlahan tertarik juga. Bahkan ada yang sudah insyaf sampai bilang ternyata kita butuh matematika ya di dunia ini. Lucu kan?


Selain bertemu secara tatap muka, Almira dan rombongan Oliv melakukan diskusi daring. Kesibukan Aqil yang masih mengerjakan proyek mengharuskan ia menawari diskusi daring tersebut. Jadi sesuai kesepakatan, selepas isya hanya sekitar satu jam mereka berdiskusi. Aqil menjadi tutornya untuk pengembangan bakat di bidang IT. Aqil tiap hari memberikan tutorial membuat desain, hal yang paling sederhana yang bisa dilakukan mereka. Melalui virtual meeting, rombongan Oliv yang notabenenya anak hoyang kayah, mengikuti tahapan yang diucapkan Aqil. Ternyata pemuda itu sangat sabar dan telaten mengajari mereka, bahkan terkesan tutor yang banyak omong. Sangat berbeda dengan kebiasaannya yang datar dan dingin.


Sebenarnya, Almira tak perlu ikut virtual juga gak pa-pa, tapi Aqil yang meminta dia harus hadir. Alasannya agar anak-anak lebih terpantau dengan kehadiran Almira. Padahal niat di balik itu Aqil yang ingin melihat Almira tiap hari.


"Jadi?" tanya Aqil di akhir meeting malam ini. Kebetulan anak didiknya sudah leave meeting, Aqil mengajak Almira tetap di depan layar laptopnya. Pembahasan di mana Almira akan kuliah belum sempat dibahas lagi.


"Belum ada keputusan," jawab Almira santai. "Kang Aqil pengen tahu banget kayaknya."


"Iya, aku memang pengen tahu banget tentang kamu."


"Dehhhh, mulai lagi nembaknya!" sindir Almira seakan malas menanggapi. "Kang, Almira malas banget loh bahas ini. Kang Aqil gak bosen ya minta Al jadi pacar akang?"


Almira kesal, wajahnya pun cemberut, "Udah ah, aku end meeting aja," ucap Almira yang kesal. Belum juga Aqil menjawab, gadis itu benar-benar keluar. Kembali kecewa ditolak, Aqil hanya menghembuskan nafas berat. Kalau seperti ini lebih baik ia kembali mengalah, mengalah untuk tidak melibatkan perasaan.


Mood Almira anjlok seketika. Padahal malam ini ia mau improvisasi materi yang diajari Aqil beberapa menit lalu, tapi sayang sudah badmood duluan karena Aqil 'tembak' lagi.

__ADS_1


"Mau sampai kapan sih Aqil kayak gini. Udah dibilang gak usah bahas cinta, bahas terus bikin males aja. Perlu dicatat nih ya, cewek kalau udah dikejar kayak tukang kredit panci, rasanya tuh ilfeel. Bukannya sombong dan gak butuh laki-laki. Tapi ada hal lebih penting dari urusan cinta," gerutunya sebelum masuk selimut.


Gadis itu pun iseng membuka chat dengan sang adik. Dari beberapa hari yang lalu ingin curhat tentang Pak Sultan, guru rasa gebetan ala Almira. Namun malam ini baru berani membahasnya. Almira ingin tahu keadaan hati Pak Sultan, setidaknya kalau sudah mendapat perempuan yang menyanyanginya Almira akan terima. Bila belum, maka ia akan bersemangat untuk sembuh dan melanjutkan perasaan dulu.


Dek, udah tidur? kamu sibuk gak? Almira mengirim pesan itu pada Radit. Dilihatnya sang adik baru saja online.


Baru aja mau aku telpon, Mbak. Aku udah di ruang tamu pondok.


Badan Almira yang baru saja berselimut langsung melonjak kaget setelah membaca balasan Radit. Malam-malam begini, kenapa juga dia ke sini. Apa yang terjadi? pikiran buruk mulai melintasi Almira dengan dirinya sibuk mengganti baju tidur.


"Temani adik kamu dulu, ya. Bu dhe mau siapkan makan malam, khawatir adik kamu belum sempat makan," ucap Bu Puguh sembari menepuk pundak Almira. Almira hanya mengangguk saja.


"Ada apa?" tanya Almira begitu duduk di hadapan sang adik. Almira menatap lekat Radit, ingin tahu alasan apa yang membuat Radit ke mari.


"Aku mau tinggal di sini!" celetuk Radit tanpa beban. Sedangkan Almira melongo dibuatnya. Kok bisa? Ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba?


"Dit, ada apa?" tanya Almira sedikit mendesak.

__ADS_1


"Aku mau merasakan tinggal di sini, Mbak. Aku ingin merasakan tempat yang bikin Mbak Al nyaman itu seperti apa!" jawab Radit tanpa ada keraguan. Almira masih diam, ia tak mau membantah atau bahkan memberondong pertanyaan lebih dalam lagi.


"Pasti ada tujuan tertentu kan?" Almira tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres di rumah sampai membawa sang adik ke pondok. "Kamu naik apa?" tanya Almira lagi, setelah Radit tak menjawab tujuan apa yang membawanya ke mari.


"Motor."


Almira mengelus dada, sejauh ini dan malam ini berangkat menggunakan motor lagi tentu ada hal penting yang terjadi. "Jujur sama aku, Dit. Kamu kenapa ke sini? apalagi sampai mau tinggal di sini?"


"Ingin merasakan seperti Mbak Al."


"Termasuk menjadi setengah gila?!" kesal Almira karena masih belum bisa menebak kenapa Radit di sini.


"Mungkin."


"Aku telpon papa kalau gitu!"


"Silahkan, dan jangan menyalahkan aku bila Mbak Al tambah gila," ucap Radit ketus, tak peduli kesehatan Almira.

__ADS_1


__ADS_2