MENTAL

MENTAL
AMARAH PAPA


__ADS_3

Mengenaskan, kondisi Almira mendadak seperti mayat hidup. Tubuhnya terbaring kaku dan sangat dingin. Suster Devi sudah menangis layaknya kehilangan saudaranya. Tak menyangka pertemuan nyonya Anggraini dengan Almira yang tak lebih dari setengah jam berakibat fatal.


Suster Devi berdebar ketika diminta menjelaskan perihal dropnya Almira, sembari menyeka air mata dan terisak, Suster Devi berhasil menyebut nyonya Anggraini yang terakhir menemui Almira dan dirinya diminta meninggalkan keduanya.


Rahang Pak Muhtar mengeras seketika, kepalan tangannya bahkan sampai muncul urat-urat yang menandakan beliau sedang menahan amarah. Radit hanya menepuk pundak sang mama, "Kita urus Mbak Almira dulu," begitu tenang meski dalam hatinya sangat prihatin dengan keadaan sang kakak.


"Bagaimana,Dok?" tanya Radit pada dokter Ibram yang baru saja memberikan suntikan, sepertinya obat penenang dan tak berlangsung lama sang kakak sudah tidur.


"Kita tunggu dokter Anggraini dulu, kita bicarakan di ruang kerja saya," ucap dokter Ibram yang kemudian menuju ruang kerjanya sembari dibuntuti suster Devi.


"Kemana mama kamu?" tanya papa ketus.


"Sabar, Pa. Kita harus menyelesaikan dengan kepala dingin, singkirkan dulu amarah papa. Ingat tujuan kita untuk fokus pada kesembuhan Mbak Al."


Pak Muhtar terdiam, sungguh kalau menggampar orang tidak dikenakan pasal pidana, sungguh saat ini beliau ingin melakukannya. Keduanya duduk diam di sofa kamar Almira dengan pikiran masing-masing, hampir 10 menit sudah menunggu kedatangan sang istri namun tak kunjung datang juga, padahal wanita cantik itu sudah membalas segera datang karena masih di daerah sekitar rumah sakit.


Ceklek.


Radit dan Pak Muhtar menoleh ke sumber suara, nyonya Anggraini dengan elegan menenteng tas brandednya mendekati sang suami dan putranya. "Apa yang terjadi?"


Tak usah basa basi, Pak Muhtar langsung berdiri dan menggeret sang istri keluar kamar, matanya menyalak menandakan amarah yang memuncak. "Kamu sekarang tinggal pilih cerai atau menjauh dari Almira."


Pilihan yang membuat nyonya Anggraini membulatkan mata dan langsung menghempaskan cengkraman sang suami, "Maksud papa apa?"


"Sekarang, sebelum kita mengetahui apa yang terjadi pada Almira, saya mau dengar jawaban kamu," titah Pak Muhtar tegas.


"Pa..papa tuh emosi, kenapa harus ada pilihan seperti itu, apa salah mama sih?"

__ADS_1


"Cerai atau menjauh dari Almira!"


Nyonya Anggraini tersenyum sinis, pilihan apa itu jelas-jelas merugikan dirinya. Meskipun salah satu dipilih tetap saja sang suami akan membatasi pertemuaannya dengan Almira. Mau cerai atau tidak tetap saja efeknya sama. "Jangan gila kamu, Pa!"


"Justru kamu yang sudah gila, egois dan gak pernah sadar sudah membuat darah dagingmu menderita."


"Kenapa sih papa selalu memojokkan mama, mama pernah gak mikir hebatnya Almira itu karena didikan siapa!" sentak nyonya Anggraini tak kalah sengit.


Radit tiba-tiba membuka pintu lalu menatap tajam kedua orang tuanya yang terus saja berdebat dengan saling menyalahkan.


"Mama dan papa silahkan pulang, lanjutkan debatnya di rumah. Mbak Almira biar aku yang rawat," tanpa menunggu jawaban kedua orang tuanya Radit berjalan menjauh tujuannya adalah ruang praktik sang dokter. Terserah sudah kedua orang tuanya tetap mempertahankan ego atau tidak, kalau tidak dibantu Radit akan menghubungi Pak Sultan, meminta bantuan beliau dalam penyembuhan Almira.


Tok


Tok


Tok


Radit masuk, menganggukkan kepala tanda hormat dan dokter muda itu hanya mengerutkan dahi, "Maaf dok, mama dan papa tidak bisa hadir."


Dokter Ibram tampak kecewa, beliau spontan menghela nafas berat. "Biar urusan Mbak Al dengan saya saja!" lanjut Radit tegas.


"Sebenarnya perkembangan kesehatan Almira harus diketahui kedua orang tua kamu. Tanggung jawab mereka, Dit!"


"Lalu bagaimana kelanjutan kasus ini. Suntik mati aja kalau begitu!" ekstrem sekali saran dari remaja ini. Setega itu dengan sang kakak.


"Ini keluarga apa sih, kenapa seribet ini buat kesembuhan sang anak." Dokter Ibram sudah emosi mendengar saran Radit, gila aja suntik mati orang sehat wal afiat. Bisa kena pasal dan dicopot secara tidak hormat oleh rumah sakit.

__ADS_1


"Dokter juga sama, saya sekarang wali Mbak Al. Dokter bisa leluasa bilang ke saya tentang Mbak Al. Tak usah ikut campur masalah pribadi orang tua saya. Saya bisa bertanggung jawab."


"Tetap tidak, kita tunggu orang tua kalian."


Radit terdiam, kalah telak karena sang dokter juga begitu kekeh ingin bertemu dengan kedua orang tuanya. Lama menunggu dalam diam, Pak Muhtar mengetuk pintu, beliau masuk setelah dipersilahlan dokter Ibram.


Tatapan mata Radit dan Pak Muhtar bersibobrok sebentar lalu saling menatap dokter Ibram. "Silakan duduk, saya jelaskan kejadian kali ini."


Radit dan Pak Muhtar mengangguk, keduanya hanya bisa pasrah mendengar penuturan dokter ganteng itu mengenai Almira.


Almira saat ini sudah lumayan stabil. Interaksi dengan saya atau suster sangat bagus. Bahkan tadi sudah menanggapi obrolan Suster Devi. Dia mengalami shock karena kalimat seseorang dan bisa saya pastikan orang itu adalah dokter Anggraini.


Kalimat dokter Ibram terus berputar dalam pikiran Radit dan Pak Muhtar, bahkan keduanya setelah keluar dari ruang dokter itu hanya berjalan bersisian tanpa bersuara. Keduanya juga tak menganggap Nyonya Anggraini yang sedang duduk menunggu keduanya, kini wanita cantik itu dilarang masuk ke rawat inap sang putri.


"Pa...!"


"Jangan menemui kami, kami ingin hidup tenang!" ucap Pak Muhtar tanpa menoleh pada sang istri dan langsung masuk kamar sang putri. Begitu juga dengan Radit yang hanya diam dan tak mengatakan apapun pada sang mama.


"Radit mama mohon," tapi sayang sang putra langsung masuk ke kamar Almira begitu saja. Kejam, memang tapi bukankah sikap sang mama yang membuat keutuhan keluarga berantakan seperti ini. Kadang seseorang perlu ditampar dengan keadaan yang kejam agar sadar bahwa dirinya salah.


"Kalian kejam pada mama," rintih beliau dengan deraian air mata. Tubuhnya luruh seketika seolah tak mampu menahan ego yang selama ini beliau agungkan. Tidak ada wajah angkuh yang bisa mendikte orang lain sesuai keinginannya.


Wanita cantik itu rapuh, separuh jiwanya sudah hilang ditelan kalimat tajam dan sikap cuek sang suami dan putranya. Kilasan Almira yang ia asuh sejak lahir berkeliaran. Senyum manis anak gadisnya begitu manis dan membuat beliau sangat bangga karena gadisnya tumbuh sangat cantik.


Air mata dan isakan dokter kecantikan semakin terdengar kala mengingat histerisnya Almira dua bulan lalu seperti orang gila. Sungguh perjalanan hidup tak mudah bagi seorang ibu yang telah berjuang mendidik sang anak dan kini dipisahkan. Baginya ini tak adil, Almira tetap putrinya. Ia yakin Almira masih sangat membutuhkan perhatian serta kasih sayangnya.


"Muhtar gila!!" sentaknya sembari menendang kamar Almira, tak peduli pandangan orang yang melintas di lorong VIP itu, baginya penolakan dari orang terdekatnya adalah racun dalam hidupnya. Perlahan tapi pasti akan membunuhnya.

__ADS_1


__ADS_2