
Setelah mengakhiri panggilan video dengan Aqil. Almira merebahkan diri sembari menatap langit kamarnya. Saran dari Aqil akan dipertimbangkan. Memang benar, sudah saatnya ia berdamai dengan sang mama.
Peran beliau membentuk kepribadiannya tak bisa dilupakan, andai saja sang mama tidak menekannya berlebih mungkin Almira tidak sekuat ini, menjadi perempuan yang baik hati dan mempesona.
"Haruskah aku mencobanya?" lama menimbang Almira pun akhirnya terlelap dengan pemikiran berat.
Memang tak mudah, menghilangkan sebuah trauma apalagi trauma itu diciptakan oleh orang terdekatnya. Kadang kala, untuk mengedepankan kebahagiaan diri sendiri itu perlu, agar sesorang tidak mudah ditindas.
Sakit mental Almira memang cukup pelik, di saat dia sudah sembuh dan belajar menjadi diri sendiri, ia harus mengorbankan hubungannya dengan sang mama. Suka tidak suka, mau tidak mau, Almira harus berdamai dengan sang mama. Hubungan anak dan orang tua tak akan terputus, kalau pun mau egois, melupakan sosok mama dalam hidup Almira, pasti ada kehampaan dalam hidupnya nanti.
Pagi menjelang....
Usai beribadah pagi, Almira bergegas membantu Bik Ratmi menyiapkan sarapan. Ia akan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan di pondok. Ingat betul apa kata Budhe dulu, orang sukses bangunnya sebelum matahari terbit.
"Pagi, Bik!" sapa Almira ramah, dengan senyum manisnya. Ia menghampiri Bik Ratmi yang sedang meracik bumbu nasi goreng untuk sarapan pagi ini.
__ADS_1
"Loh Non, kok sudah bangun? Sudah biar bibik saja," larangnya saat Almira mulai mengambil cobek. Kebiasaan Bik Ratmi sejak dulu tak akan mau pakai blender dalam meracik bumbu nasi goreng, pasti akan pakai cobek. Kata beliau biar bau khas duo bawang terasa.
"Gak pa-pa, Bik. Di pondok Almira juga bantu siapin sarapan kok, malah anggotanya lebih banyak."
Bik Ratmi pun mengangguk, menatap sekilas anak majikan yang berubah dalam hitungan bulan. Jujur, Bik Ratmi menyukai Almira sekarang ketimbang dulu yang hanya fokus pada buku.
"Papa emang lama ya, Bik kalau keluar kota?" sengaja Almira membahas tentang sang papa yang sampai saat ini tak ada kabar. Bahkan dokter Ibram masih kirim chat mengecek keadaan Almira, sedangkan sang papa seolah tak mau tahu keadaan anaknya.
"I..iya, Non!" Bik Ratmi gugup mendapat pertanyaan seperti itu. Takut salah diintrogasi lebih lanjut, salah ngomong berujung kambuhnya Almira malah tambah fatal.
"Kalau mama? Memang gak tinggal di sini lagi? Apa karena ada aku ya mama gak mau ke sini?"
"Bik?" panggil Almira lagi, bahkan sampai menoleh ke arah Bik Ratmi. Sebisa mungkin pura-pura tak mendengar, malah kena tegur.
"Hmmm...Nyonya...Nyonya!" percayalah, semakin orang menjawab gagap, akan semakin menunjukkan sebuah kecurigaan yang besar, termasuk Almira. Dilihatnya Bik Ratmi begitu intens, hingga membuat ART itu tak berdaya. Takut kumat, gimana kalau ngamuk-ngamuk, begitu batin Bik Ratmi yang menganggap Almira seperti orang gila pada umumnya. Mengamuk bila tidak sesuai keinginannya.
__ADS_1
"Anu... Anu!" Bik Ratmi masih saja tergagap. Konsentrasi untuk mengulek bumbu menguap sudah.
"Bik, ayolah cerita aja keadaan mama dan papaku!" rengek Almira manja pada ART keluarganya ini. Rasa ingin tahu tak terhindar lagi. Ia harus tahu keadaan yang sebenarnya, meski ia dan kedua adiknya sudah sepakat hidup bersama, saling menyanyangi meski kedua orang tua mereka seakan lepas tangan. Tidak sepatutnya keluarga bahagia dulu harus saling menjauh karena masalah mental Almira.
"Harusnya aku tuh didukung untuk sembuh. Mama dan papa malah saling menyalahkan. Aku gak butuh pengakuan yang salah ataupun yang benar, aku hanya butuh dukungan Mbak Al ayo sembuh mama dan papa menyayangimu, kamu boleh minta apapun dari kami. Tapi mustahil ya Bik," monolog Almira dengan nada sendu. Ia ingin bercerita saja, ditanggapi syukur gak ditanggapi juga tidak masalah. Almira hanya butuh didengar karena baginya solusi ada pada dirinya sendiri.
"Non," Bik Ratmi sungguh tidak tega. Wajah sendu Almira menandakan gadis cantik itu masih hidup dalam tekanan.
"Kadang aku mikir, hidup ini untuk apa sih, Bik. Semua orang berlomba-lomba menunjukkan kehebatannya. Harta, kepintaran, strata sosial, sebenarnya semua itu untuk apa. Padahal bahagianya orang berbeda, heran aku tuh."
"Begitulah manusia, Non. Maunya menjadi yang terbaik, sampai kadang kala lupa caranya bersyukur. Non gak usah mikir macam-macam, kedua orang tua Non Almira pasti baik-baik saja." Kali ini Bik Ratmi terkesan lebih santai suaranya, beliau terlihat sudah bisa mengontrol emosinya.
"Mungkin mereka pura-pura baik, tapi hati mereka sedang tidak baik-baik saja!" sahut Almira cepat. "Menurut Bibi apa perlu aku memulai membangun komunikasi dengan mama lagi?"
Bik Ratmi yang sudah bisa sedikit tenang, kembali gusar dengan pertanyaan Almira, ia takut kalau Almira berdekatan dengan sang mama akan kembali sakit, meski Bik Ratmi yakin sang nyonya sudah berubah.
__ADS_1
"Bik," tegur Almira kembali.
Bik Ratmi terkesiap lalu mengangguk.