MENTAL

MENTAL
SEKALI LAGI


__ADS_3

"Pa....semua bukan salah mama, kenapa papa selalu memojokkan mama sih," teriak mama tak kalah keras, kedua orang tua Almira ini tengah berseteru di ruang keluarga. Pemandangan seperti ini sudah sering terjadi sejak Almira masuk rumah sakit. Keduanya saling menyalahkan dalam pengasuhan ketiga anaknya terutama Almira.


"Sudah jelas dia menyebut kamu terus....," papa tak kalah marah. Rasanya beliau yang berwajah teduh dan selalu memanjakan ketiga anaknya sudah habis kesabarannya, ada rasa bersalah dan kecewa pada keadaan putrinya sekarang.


Beliau sering meninggalkan keluarganya ke Kalimantan untuk mencari nafkah, agar kebutuhan keluarganya tercukupi, tapi malah keadaannya seperti ini. Uang banyak, psikis anak bermasalah. Pikiran untuk kerja tak bisa fokus, pasti tertuju pada Almira.


"Cukup!" sentak Radit yang baru saja sampai setelah menemui Pak Sultan beberapa menit yang lalu. "Gak usah menyalahkan satu sama lain, sudah terlambat semua. Kalau papa dan mama kayak gini, bukan hanya Mbak Almira yang gila tapi aku dan Bima," tegas Radit dengan menahan kesal pada mama dan papanya yang masih egois dan saling menyalahkan.


"Mau mama dan papa itu gimana sih? anaknya sukses? anaknya hebat? atau anaknya sakit jiwa semua!" Radit meradang, ia tak segan menatap kedua orang tuanya tajam. Sopan santun ia nomor duakan, dirinya sudah muak dengan kondisi keluarga seperti ini.


"Ayolah kasih contoh yang benar buat kami. Anak akan mencontoh perilaku kedua orang tuanya, sekolah kami pertama adalah kedua orang tua kami, bukan yang lain. Jadi please...ayo kita sembuhkan Mbak Al sama-sama."


Kedua orang tua itu terdiam, kalau sudah anak yang bicara dan memang benar, mama dan papa menyadari kesalahannya, seakan rasa sesalnya mencul kalau ada Radit atau melihat Almira.


"Mama....sekarang Radit tanya, mama mau Mbak Al sembuh?" tanya Radit serius.


"Gak usah ditanya, sebagai seorang ibu jelas menginginkan anak-anaknya sehat wal afiat."


"Oke....kalau begitu berikan kebebasan Mbak Al untuk menjalani hidup sesuai keinginannya."


Mama terkejut, memberikan kebebasan pada Almira? memikirkannya pun tak pernah, bagi mama hanya dirinya yang bisa membuat Almira sukses dan menjadi wanita idaman. "Maksudnya? mama gak boleh mendidik Almira begitu?"


Radit menggeleng, "Mama dan papa masih punya kewajiban untuk mendidik kami, tapi kami juga berhak hidup dengan keinginan kami asal tidak melanggar norma agama dan sosial."


"Bisa diperjelas gak, keinginan apa yang kamu maksud ini?" terlihat jelas mama tak setuju dengan ide Radit, beliau masih kekeuh mendikte anak dalam pola pengasuhan.

__ADS_1


"Mama selama ini sudah mengatur kami dalam segala hal, mulai dari kecil hingga sekarang. Tapi Radit minta kesempatan pada mama agar kami memilih jalan sesuai bakat dan minat kami sendiri."


"Kamu yakin bisa sukses sesuai bakat dan minat kamu?" tantang mama dengan ketus.


"Yakin."


"Kenapa kamu bisa seyakin itu padahal kamu selama ini tidak memiliki kelebihan apapun," ketus mama tanpa tedeng aling-aling, bahkan tak memikirkan perasaan Radit.


"Mama merupakan mama yang hebat kan, sangat perhatian dengan semua anak, tapi kenapa mama tidak tahu kelebihan Radit?" sindir Radit dengan senyum mengejek. Kadang keras kepalanya orang tua perlu diluruskan agar sang anak tidak menjadi korban.


Merasa tensi emosi sang istri dan putranya meninggi, Pak Muhtar lebih memilih mendengar saran Radit. Percuma meladeni permintaan sang istri yang terkesan mendominasi tanpa memberi solusi. "Lalu mau kamu apa?" tanya Pak Muhtar pada Radit.


"Biarkan Mbak Al keluar dari jurusan kedokteran--"


"Ma...dengarkan dulu alasan Radit," pinta Pak Muhtar kesal.


"Papa jangan ikutan dia, gak ada hubungannya sakitnya Almira dengan jurusan kedokteran. Kamu jangan mengada-ada ya, Dit."


Radit hanya tersenyum sinis, "Radit baru saja menemui seseorang yang menjadi tempat curhat Mbak Al selama ini."


Nyonya Anggraini dan Pak Muhtar terdiam seketika.


"Bahkan Radit sampai heran, kita yang mengaku sebagai keluarga, mengaku paling sayang sama Mbak Al, bahkan mengaku paling peduli dengan Mbak Al tak pernah sekalipun diajak curhat. Anak gadis papa dan mama sangat pandai menampilkan wajah bahagianya sehingga tekanan batin yang ia alami tidak terendus sama sekali."


"Siapa orang itu?" tanya Pak Muhtar, beliau akan meminta orang itu untuk dekat dengan Almira agar sang putri merasa aman dan bisa berbagi keluh kesahnya.

__ADS_1


"Radit tak mau menyebutnya dulu, Radit hanya ingin papa dan mama tahu keluhan Mbak Al selama ini. Mbak Al sudah merasa tekanan batin mungkin bisa dikatakan menginjak masa SMA. Ritme belajarnya semakin menggila, tidak ada teman, tak punya pacar dan mendapat tuntutan dari mama lagi," Radit mulai membeberkan rentetan keluhan Almira yang ia baca dari ponsel Pak Sultan tadi.


"Bahkan Mbak Al bisa menangis berjam-jam dengan orang itu, hanya sekedar melepas ganjalan hatinya. Dia capek dengan perintah mama, belajar, les, dan doktrin mama menjadi wanita idaman. Puncaknya ketika mama berdebat dengan Bu Endah."


Radit sengaja berhenti sebentar, melihat raut sang mama yang sempat tertangkap sangat kaget ketika dirinya menyebut salah satu nama guru BK di sekolahnya. Pak Muhtar pun penasaran, beliau sontak menoleh dan memberi pandangan yang menusuk pada sang istri.


"Apa yang mama perdebatkan sebenarnya sampai Mbak Al merasa sangat malu?"


"Debat apa, mama gak mendebat apa-apa sama guru itu!"


"Ceritalah, Ma. Agar masalah ini segera menemukan solusi, sekali saja mama tidak menjunjung ego mama agar harmonisnya keluarga kita tetap terjaga," pinta Radit sampai menurunkan suaranya.


"Ck....kamu itu kok ngeyel banget sih, Dit. Udah dibilang mama gak berdebat dengan guru BK itu."


"Baiklah, besok Radit yang akan cari tahu sendiri."


"Kamu ini tinggal cerita kronologinya gimana kok ribet banget, atau jangan-jangan kamu memang tak mau dibuka agar perilaku kejammu pada Almira tidak kami ketahui," mulai deh, suasana saling menyalahkan muncul.


"Papa jangan menuduh sembarangan ya. Mama gak pernah berbuat kejam pada Almira. Mama menyuruh Almira berprestasi agar Almira menjadi wanita cerdas dan idaman. Makanya mama menyuruhnya les pelajaran, renang dan piano agar dia menjadi wanita berkualitas. Mama juga menyuruh dia masuk kedokteran karena mama pikir hanya menjadi dokter, orang itu dikatakan sukses."


Radit dan papa kompak menggelengkan kepala, "Mama kayaknya lagi konslet!" ejek papa yang langsung beranjak, pembahasan Almira dengan sang istri selalu berujung selisih pendapat. Rasanya Pak Muhtar ingin sekali menempeleng kepala sang istri agar sadar egomu menghancurkan anakmu.


"Kita bicara di ruang kerja papa, Dit. Kita bisa cari solusi tanpa mama kamu," tambah Pak Muhtar dengan nada menyindir. Tanpa pamit Radit pun meninggalkan sang mama yang sekali lagi diabaikan begitu saja oleh sang suami dan putranya.


"Terus saja mama gak dianggap," sentak mama penuh emosi.

__ADS_1


__ADS_2