
Pak Muhtar, Radit, Suster Devi yang bertugas mendorong kursi roda Almira diikuti oleh dokter Ibram yang hari ini sengaja mengosongkan jadwalnya keluar dari pelataran rumah sakit. Mereka hari ini akan bertolak ke pondok milik keluarga dokter Ibram di daerah Bandung. Kondisi Almira yang stabil dan sudah bisa interaksi kembali pasca drop beberapa hari yang lalu membuat Pak Muhtar segera mengikuti saran dokter Ibram untuk mengubah suasana di sekitar Almira. Dua bulan sudah dia dikungkung dalam rumah sakit, mungkin saja membuat Almira semakin stres.
Rombongan itu telah bersiap, namun Almira tampak gusar. Berkali-kali ia menoleh ke kiri dan kanan, seolah mencari seseorang, dan hanya Suster Devi yang menyadarinya. "Cari siapa?"
"Mamaku mana?" tanya Almira lirih dengan mendongakkan kepala pada Suster Devi. Sekuat tenaga, suster khusus pasien VIP itu menahan tangis. Pandangan seorang anak yang mencari ibunya meskipun usia Almira sudah beranjak dewasa tetap saja mengharapkan kehadiran sang mama. Apalagi beberapa hari setelah kejadian itu, nyonya Anggraini memang tak diperbolehkan mendekati Almira.
"Mau pamit sama mama?" tanya dokter Ibram yang mendengar bisik-bisik suster dan pasiennya.
Dokter Ibram juga sering memberikan saran agar nyonya Anggraini tetap berdekatan dengan Almira namun Pak Muhtar masih belum tega bila Almira kumat lagi. Almira mengangguk pelan.
"Aku kangen mama!" ucapnya lagi, bahkan kali ini memegang lengan sang suster yang hendak membantunya naik dari kursi rodanya.
"Nanti mama menyusul!" potong Pak Muhtar tegas. Almira hanya mengangguk takut, ia pun segera melepas lengan suster Devi dan segera masuk ke mobil.
Dalam perjalanan menuju pondok pun ia banyak diam, Radit duduk di depan sering kali menoleh ke sang kakak, menawarkan camilan, minum atau mengajak ngobrol. Almira pun menanggapi bahkan ia juga sempat terdengar tawa kala Radit melontarkan candaan. Kesempatan baik untuk memberikan laporan serta foto ke nyonya Anggraini melalui suster Rani. Berasa pesan berantai.
"Dit, mama kenapa gak pernah jenguk aku?" tanya Almira tiba-tiba di sela candaan mereka. Radit tergagap begitu pun suster Devi yang sedang berkirim pesan dengan suster Rani spontan menjatuhkan ponselnya.
"Ke-kenapa, Mbak Al tanya begitu?"
"Ya kangenlah, meskipun mama agak jahat, aku tetap kangen sama mamaku," ucap Almira manja, bahkan sampai memanyunkan bibirnya.
"Emang, Mbak Al gak takut sama mama?" goda Radit. Sekarang ia sudah diberikan intruksi dari dokter Ibram, cara tepat untuk mengajak Almira berkomunikasi adalah intonasi suara rendah, sambil tersenyum, dan tatap matanya agar Almira merasa diperhatikan.
"Takut."
"Nah kalau takut kenapa mau bertemu?"
"Kangen."
__ADS_1
"Kalau kangen terus takut, aku harus gimana?"
Almira terkekeh karena sang adik terlihat menggemaskan, "Dih, ketawa!" sindir Radit.
"Mama kecewa mungkin ya sama aku, makanya gak mau jenguk aku lagi."
Radit menghela nafas berat, mulai lagi deh sensitifnya Almira. "Enggak, mama dan papa gak ada yang kecewa sama Mbak, semua sudah takdir yang bicara. Makanya ayo sembuh."
"Aku sakit ya, Dit?" tanya Almira berlagak polos.
Radit tertawa bahkan pak sopir ikut tertawa juga, pertanyaan Almira mengandung tawa saja bagi keduanya. Wajar saja dia bertanya seperti itu karena suka tidak sadar jiwanya yang sakit.
"Aku sakit apa, Dit?" tanya Almira lagi yang membuat dua laki-laki duduk di depan itu semakin tertawa dan diikuti suster Devi. Di saat tawa mereka hampir berhenti, terdengar Almira yang tertawa juga. Sontak ketiganya diam, saling lirik, "Kok diam? aku kan lucu," sahut Almira yang masih terus tertawa.
Kini ketiganya seolah tertampar karena sikap mereka yang tak sengaja meledek kondisi Almira. Suster Devi pun segera merangkul pundak gadis itu, menepuk lengannya pelan. Sebuah sentuhan yang bisa mengembalikan kesadaran Almira.
"Oh aku ingat, aku sakit jiwa, iya kan?"
"Iya sih, aku kan depresi. Aku sadar kalau aku gila, makanya aku dijauhi mama. Mama kan mau aku jadi bintang. Bintang kecil....alangkah indahmu..." Almira terus saja menyanyi, berlagak seperti anak kecil. Sungguh ironi, gadis cantik, pintar, anak orang kaya mendadak gila.
Radit kembali menundukkan kepala, tak sanggup memikirkan kondisi sang kakak yang tak kunjung membaik. Semoga dengan tinggal di pondok Padang Asa ini, Almira bisa sembuh.
Hampir 2 jam perjalanan, iringan mobil yang mengantar Almira sampai juga di pondok yang bentuk bangunannya seperti padepokan bernuansa modern dan pedesan yang berkombinasi apik.
Papa dan dokter Ibram ternyata sampai lebih dulu, kini menyambut kedatangan Almira ditemani Bu Puguh, mamanya dokter Ibram yang bertanggung jawab akan pondok ini. Wanita paruh baya, mungkin berusia 58 tahun ini sangat cantik dan kalem. Sudah berdiri dan siap menyambut kedatangan Almira.
Baru turun mobil, Almira diam sebentar sembari berpegangan pada pintu mobil dan melihat sekeliling, ia tersenyum. Tak lama ia menoleh pada Bu Puguh, dan semakin membuat semuanya terkejut, karena Almira langsung memeluk Bu Puguh.
"Budhe, rawat Almira biar sembuh."
__ADS_1
Kalimat yang membuat semua orang di situ menitikan air mata, bahkan Pak Muhtar menoleh ke sisi lain, tak sanggup melihat kelemahan sang putri. Dengan orang lain ia begitu mengharapkan dibantu kesembuhannya, tapi dengan mama kandungnya justru diperlakukan bak tawanan. Rasa benci pada sang istri tiap hari kian menambah saja.
"Pasti, Budhe akan membantu Almira sembuh,"ucap Bu Puguh sembari menepuk punggung kurus gadis itu.
"Budhe kok tahu namaku Almira?" tanya Almira polos sembari mengurai pelukannya pada Bu Puguh.
"Tuh!" tunjuk Bu Puguh dengan dagu ke arah dokter Ibram.
Almira tersenyum, ikut menoleh dan menatap dokter Ibram, lalu menatap Bu Puguh kembali. "Bu Puguh kenal sama dokter Ibram?"
"Kenal, dia---"
"Almira juga kenal, dokter itu baik tapi belum menikah."
Sontak semua tertawa, "Almira kok tahu, eh kita cerita sambil masuk ke dalam, yuk!" Bu Puguh berhasil mengambil perhatian Almira, gadis itu langsung menggandeng lengan ibu dokter Ibram itu, bahkan duduk berdampingan.
"Almira tahu karena dokter Ibram lebih banyak sama aku daripada pacarnya."
"Emang Almira tahu pacar dokter Ibram?" tanya Bu Puguh sembari mempersilahkan para tamu menikmati hidangan rebusan singkong dan teh hangat.
"Kata suster Devi dan suster Rani punya."
Suster Devi menunduk, dalam hati merasa takut sekali karena ketahuan menggosip di belakang dokter ganteng itu dan kini dibongkar oleh pasiennya. Double kill.
"Iya...mau menikah juga!" ucap Bu Puguh menyindir secara tidak langsung, karena beliau sudah meminta sang putra segera mengakhiri masa lajangnya.
"Ouh...kalau udah menikah gak boleh merawat Almira kalau begitu," sahut gadia yang sedang terganggu jiwanya.
"Kenapa?" semua orang kaget dan kompak bertanya.
__ADS_1
Almira tertawa mendengarnya, "Karena nanti istrinya cemburu, Almira kan cantik budhe!" ucapnya tersipu malu bahkan sampai mendusel ke lengan ibu dokter Ibram, sedangkan orang yang ada di ruangan itu tergelak mendengarnya.