
"Masih betah di pondok?" tanya papa saat makan siang menjelang sore di salah satu restoran, bersama Radit, Bima dan Almira, Pak Muhtar meluangkan khusus hari ini untuk kencan bersama ketiga anaknya. Bima agak cemberut karena hari ini harusnya ada tambahan les, tapi sayang setelah dijemput sang papa, belum sempat ganti seragam sudah menuju ke pondok menjemput Almira.
"Betah sih, hanya saja udah jenuh dengan aktivitasnya," jawab Almira jujur. Kata kunci ia bisa melewati masa depresinya adalah berani mengungkapkan perasaannya pada keluarganya, ia tidak nyaman akan bilang, ia bahagia juga akan bilang.
"Lalu?" papa menatap sang putri intens, sepertinya akan ada pembahasan serius, dan sejak Almira membaik, Pak Muhtar akan lebih memperhatikan sang putri.
"Pa ..aku ingin kuliah," Almira sempat tergagap untuk mengutarakan niatannya. Sempat takut bila sang papa menolaknya.
"Kuliah?" ulang papa sembari mengerutkan dahi. Beliau tak pernah membayangkan Almira kembali ke bangku kuliah setelah gangguan mental beberapa waktu yang lalu. Mungkin akan melanjutkan kuliah setelah 1 atau 3 tahun yang akan datang. Tapi ini, baru juga sembuh satu bulan sudah minta kuliah. Beliau masih khawatir dengan keadaan Almira. "Kedokteran?" tebak papa sedikit ragu Pasalnya Almira mau menjadi dokter adalah dikte dari sang mama.
Almira menggeleng, jelas ia menolak menjadi mahasiswa kedokteran lagi. Otaknya sudah tak mampu menampung tuntutan ilmu yang begitu rumit. Bagi gadis cantik ini, ia ingin kuliah di jurusan yang lebih banyak menggunakan keterampilan dan kreativitas, tak perlu berkutat pada hitungan yang kompleks.
"Lalu?" tanya papa kembali.
"Kalau aku kuliah di swasta daj mengambil jurusan IT boleh?"
Papa terdiam. Ia kaget dengan permintaan Almira. Sebuah jurusan yang tak pernah sekalipun dilirik Almira dulu. Eh..lupa, Almira memang sejak dulu tidak memiliki pandangan untuk kuliah. "Kenapa pindah haluan?" tanya papa lebih lanjut. Beliau juga tidak mau serta merta menuruti keinginan Almira, baik buruknya perlu dipertimbangkan lebih, mengingat kondisi Almira yang fluktuatif. Belum konsultasi dengan dokter Ibram juga.
"Sudah bilang ke dokter Ibram?" Pak Muhtar saat ini bukanlah satu-satunya pengambil keputusan dalam Almira sekarang.
"Belum, aku masih bilang sama papa," tutur Almira santai. "Eh sama Kang Aqil juga," lanjutnya dengan wajah tanpa dosa. Seorang Almira menyebut nama laki-laki sukses membuat Radit tersedak.
"Pacar Mbak Al?" tanya Radit to the point.
"Bukan, tapi dia memang menyukai kakak!"
__ADS_1
Radit kembali tersedak, sejak agak gesrek Almira memang seember itu. Masalah privasi dan rahasia lebih baik tidak diceritakan pada gadis cantik itu.
"Percaya diri amat sih lo, Mbak! dia menyukai lo, ck!" Radit berdecak sebal. Bagaimana tidak, Mbak Al yang keadaannya agak sesuatu saja bisa menarik perhatian pemuda lain. Lah apa jadinya kalau dia memang benar-benar bermental normal. "Pasti dia gak tahu lo lagi sakit," si judes mulai bereaksi, bahkan sambil makan bisa julid seperti itu, sampai saat ini Pak Muhtar tak terima kalau siapapun menganggap Almira sakit. Beliau sontak menepuk pundak putra keduanya.
"Ngomong yang baik," tegurnya dengan nada sinis. Sedangkan Almira hanya mencebik kesal, "Asal kamu tahu, Dit. Kang Aqil tuh udah cari info tentang sakitku pada dokter Ibram."
"Kok dokter Ibram kasih tau riwayat kamu?" Pak Muhtar tidak setuju dengan keputusan dokter Ibram. Mau bagaimana pun kondisi Almira adalah rahasia dokter, pasien dan keluarga pasien. Sangat melonggar kode etik bila dokter Ibram menjelaskannya.
"Gak kasih tahu secara gamblang kayaknya, Pa. Dokter Ibram hanya mengatakan kalau kondisi saya belum stabil, itu aja mungkin."
"Harus klarifikasi nih, Pa. Jangan biarkan anak papa dianggap gi---," mulut Radit spontan dibungkam gumpalan tisu oleh Almira. Julidnya kebangetan mulutnya si Radit itu. Berasa jadi kompor meleduk.
"Iya nanti papa akan klarifikasi. Kembali ke topik, Al. Kamu yakin mau pilih kuliah IT?"
"Yakin, Pa!"
Almira menggeleng, "Berat. Otak Al sudah banyak yang konslet."
"Di IT juga berat loh, Al. Kamu sanggup?" Pak Muhtar seolah meyakinkan Almira hingga ratusan kali dalam memilih jurusan kuliahnya mendatang.
"Sanggup, Pa."
"Les aja lah, Mbak Kalau mau bidang IT. Sekedar bisa akses komputer kan?" Radit mencoba mempengaruhi keputusan sang kakak. Jurusan IT di beberapa kampus memang salah satu jurusan dengan grade tinggi. Tentu beban mata kuliahnya berat.
"Enak aja, bedalah ilmu yang diperoleh otodidak atau diajari secara mendasar," jelas Almira, sangat masuk akal.
__ADS_1
"Papa tidak melarang, hanya saja papa belum berani mengambil keputusan, papa tidak mau kamu kumat di dalam kelas dan membuat kamu malu seumur hidup." Beginilah sikap protektif sang ayah, cukup sekali mengalami kegagalan dalam mendidik Almira dan beruntung masih bisa disembuhkan. Untuk kepentingan anak, beliau tak mau coba-coba.
"Tapi papa setuju?"
"Kalau dokter Ibram yes, maka papa yes."
"Mama pasti juga yes," celetuk Bima yang sedari tadi mengunyah makan dan sekarang malah fokus pada ponsel. Bersikap tak peduli tapi ternyata sangat peduli dan berusaha memasukkan sang mama dalam pertemuan kali ini. "Ayo dong, Mbak. Melek. Jangan abaikan mama lagi."
Radit terdiam, mungkin na*su makannya menguap sudah. Pembahasan krusial yang tidak bisa diprediksi. Setelah kerja sama Radit dan Bima dulu, mereka akhirnya menyerah karena penolakan Almira dan saran dari mama yang membiarkan Almira menjauh sementara dari dokter cantik ini. Celetukan bahaya dari Bima ini murni berasal dari pemikiran anak SMP ini, dan berhasil membuat semuanya terdiam.
"Mbak, Al tahu Mbak Al bukan satu-satunya anak papa dan mama. Tapi keadaan Mbak Al berhasil menyita perhatian mama dan papa. Bahkan aku yang anak paling bontot saja, di keluarga lain bisa sangat dimanja tapi di keluarga ini sangat terabaikan."
"Bima," tegur Radit dan papa kompak. Bahkan keduanya menatap Bima tajam. Jangan sampai ulah anak puber ini bisa mempengaruhi mood Almira. Bahaya.
"Gak pa-pa, Dek. Lanjutkan!" Almira menahan lengan sang papa agar beliau melunak dan menghargai ucapan Bima.
"Ayo pulang, kita perbaiki semua yang membuat Mbak Al terluka. Jangan sampai sikap Mbak Al yang menjauh bisa melukai hati anak papa dan mama yang lain."
"Bima, kamu yang sopan!" tegur Pak Muhtar tegas. Suara beliau terkesan menahan umpatan agar Bima tak melanjutkan pembahasan tentang mama.
"Pa, biarkan. Papa harus tahu ungkapan hati Bima. Kesalahan Almira dulu adalah memendam semua rasa benci, kecewa, dan takut sendiri. Bima bicara lantang seperti ini agar hati dan pikirannya plong, tidak ada beban."
"Tapi.." Pak Muhtar ingin membantah namun Almira malah memeluk sang adik.
"Teruslah berbicara, jangan pernah takut untuk berkata jujur. Mbak Al sudah siap mendengarnya," ucap Almira sembari menepuk punggung Bima pelan.
__ADS_1
"Kapan mau menemui mama?" todong Bima tegas.