MENTAL

MENTAL
BAHAGIA


__ADS_3

Almira masih sesenggukan dalam dekapan sang mama seolah menumpahkan segala beban hati selama ini. Sungguh perasaan kangen akan kasih sayang mama yang mendominasi. Rasa takut dan tak suka dirasa tak ada. Almira begitu nyaman kala dekapan sang mama begitu erat.


"Maafin mama ya?" ucap mama lirih dengan mengelus punggung sang putri. Beliau pun merindukan putrinya. Tak bisa dipungkiri Almira adalah anak kesayangannya, bagi Nyonya Anggraini melihat Almira adalah melihat dirinya saat remaja dulu. Oleh sebab itu dulu, tanpa beban beliau memoles Almira sesuka hatinya. Bahkan, apa yang diinginkan nyonya Anggraini dulu diterapkan pada Almira. Orang tua egois.


Tak mau mengulangi kesalahan fatal seperti bulan lalu, Nyonya Anggraini tak akan


memaksakan kehendak lagi. Biar mereka menentukan masa depannya asalkan masih dalam koridor yang benar.


"Udah dong, jangan tangis menangis. Hidup tuh harus dinikmati. Yang salah minta maaf jangan berlarut-larut," pinta Bima yang kelihatannya sudah capek menangis. Memang siapa yang tidak terharu atau menangis, terlebih Bima tahu permasalahannya.


"Heleh, bilang saja kamu sudah laparkan?" ledek Radit sembari melempar gulungan tisu kepada adiknya.


"Udah-udah, gak usah usil. Segera pesan makanan, hari ini ditraktir mama!"

__ADS_1


"Yuhu," teriak Almira dengan suara seraknya. Mata sembapnya tertutup dengan senyuman manisnya. Yes, uang tabungannya tak jadi berkurang.


"Curaaaang," kesal Bima namun dilerai Radit, si anak tengah begitu dewasa menghadapi situasi, dan tahu kapan harus serius kapan harus bercanda. Bima sebagai anak bontot mana bisa berkutik.


Sembari menunggu pesanan, Nyonya Anggraini menanyakan kabar dan kegiatan mereka tadi pagi. Beliau belajar dengan dokter Ibram bagaimana menghadapi anak remaja. Nyonya juga bercerita kesibukkannya, yang sebenarnya sebagi pengalihan rasa kangen pada ketiga anaknya.


"Malam ini tidur di klinik mama, yuk!" ajak mama penuh harap. Berkumpul dengan sang anak tentu menjadi kebahagian tersendiri untuk Nyonya Anggraini, hubungan dengan sang suami yang sepertinya sudah tidak bisa diselematkan lagi, harapan satu-satunya pada hubungan dengan anak-anak.


Tekad dokter cantik ini hanya satu membahagiakan ketiga anaknya secara demokrasi. Sudah tak ada niatan memaksa sang anak mau jadi apa. Meyakini saja mereka lahir dengan keistimewaan sehingga mereka bisa sukses dengan cara mereka sendiri.


"Beres. Kalau kamu Radit?"


Anak keduanya ini hanya memberikan jempol tanda setuju, kini giliran Al. Sang mama maju mundur untuk bertanya, namun gadis itu peka.

__ADS_1


"Aku juga deh, Ma. Aku mau nginep di klinik mama!"


"Siiip. Kita bakar-bakar gimana, habis ini kita beli sosis, dan jagung ya!"


"Nanti aku tidur sama mama ya?" pinta Almira tiba-tiba. Ah Nyonya Anggraini tidak bisa berkata-kata. Langsung memeluk sang putri dan menangis. Sungguh beberapa kemarin adalah bulan penyiksaan. Anak hampir gila, bertengkar dengan suami. Tak ada keluarga, hanya ipar yang semakin memperburuk keadaan.


"Mama sangat sayang sama kamu, Nak. Maafkan mama."


Almira hanya mengangguk dan membalas pelukan sang mama. Keluarga itu pun akhirnya memilih pulang, dan mampir ke supermarket membeli kebutuhan acara bakar-bakar nanti malam. Meski lahannya terbatas, mereka akan memanfaatkan balkon lantai 2.


Tiba di supermarket, terjadilah keributan dalam pemilihan merk sosis. Diam-diam sang mama memotret dan mengirimkan kepada sang suami.


Mereka sedang berdebat, memilih sosis. Sangat bahagia. Bagaimana dengan kita sebagai orang tua? Begitu pesan yang dikirim nyonya Anggraini kepada sang suami.

__ADS_1


Lebih dari 20 menit menunggu sang suami pun membalas. Mereka bisa bahagia tanpa memiliki keluarga utuh. Setelah urusanku selesai. Aku akan mengurus perceraiaan kita. Jaga Almira!!


__ADS_2