
Almira duduk termenung sembari mengusap air matanya. Tak sadar bila ada seseorang yang sedang mengamatinya sejak tadi, penasaran karena gadis cantik itu setelah sholat Isya malah duduk di lapangan voli. Lampu temeram tak menyurutkan keberaniannya duduk seorang diri. Merasa aneh , Aqil memperhatikan lamat-lamat. Saking penasarannya, Aqil sengaja mendekati Almira perlahan. Matanya menelisik ada apa gerangan hingga mengusap air mata.
"Kok sendiri?" suara Aqil dibuat selembut mungkin, khawatir saja kalau mengagetkan Almira.
"Eh..." Almira menoleh sekilas lalu mengusap sisa air matanya. "Iya lagi cari angin, Kang," ucap Almira beralasan. Tanpa diduga Aqil duduk di samping Almira hanya saja tak terlalu dekat.
"Kalau kata temanku, cewek menyendiri di tempat sepi tuh sedang menyembunyikan masalahnya. Benar gak sih?" Aqil sengaja memancing apa yang sedang dialami Almira. Ia tak menatap gadis itu, matanya justru menatap lurus ke depan, agar Almira tak canggung bila ingin bercerita.
"Benar kali."
"Berarti kamu juga lagi menyembunyikan masalah ni?" terka Aqil menoleh ke Almira sebentar lalu mengarahkan pandangannya ke depan kembali.
"Enggak. Aku habis telpon sama adikku aja. Kangen rumah."
"Bisa banget nona ngelesnya," ujar Aqil sembari tersenyum meledek. Sedangkan Almira menanggapinya dengan tawa kecil yang memperlihatkan gigi putihnya.
"Dibilangin gak percaya," lanjut gadis itu dengan mencibir. Keduanya tampak menikmati dinginnya angin malam, mereka hanyut dengan pikiran masing-masing. Tak ada yang berniat masuk ke pondok, tapi mereka juga hanya diam.
"Al, boleh aku ngomong sesuatu?" tanya Aqil yang kini merangkul kedua lututnya, menatap lekat wajah cantik gadia yang berhasil mencuri perhatiannya.
"Boleh. Silahkan," jawab Almira.
"Kamu pasti sudah dengar dari Budhe, anak pondok putri, Lila pasti kalau aku kagum sama kamu," ucap Aqil berniat mengutarakan perasaannya. Memanfaatkan waktu berdua saja seperti malam ini, karena tak yakin ada kesempatan berduaan lagi.
Almira menggeleng, dan itu membuat Aqil mengerutkan dahi, apa iya Budhe tidak memberikan signal perasaan gue?
"Aku gak pernah dengar Kang Aqil kagum sama aku," Almira tersenyum tipis sembari menoleh ke arah pemuda itu, "Tapi aku tahunya Kang Aqil suka sama aku," lanjutnya masih dengan menatap Aqil.
__ADS_1
EH
Aqil langsung salah tingkah, mata yang beberapa menit lalu menatap lekat sang gadis, kini tak berani. Ia malu, ketahuan suka deh.
"O," hanya itu yang mampu diucap Aqil. Ia masih menetralkan degup jantung yang tiba-tiba berdetak tak menentu seolah ia ketahuan mencuri mangga milik tetangga.
"Kang Aqil kenapa bisa suka sama aku?" Almira dengan percaya dirinya mengatakan hal ini pada tersangka, tak tahu saja pertanyaan sekaligus tatapan Almira membuat Aqil menyesal berdekatan dengannya malam ini. "Karena aku cantik?" Almira mencoba membantu memberi jawaban dengan nada mencibir.
Aqil mengangguk, tak berani menatap Almira.
"Masa' sih aku cantik," Almira tekekeh dan menangkup pipinya sendiri, tak percaya ada laki-laki yang menganggap dirinya cantik. Eh...dia lupa mungkin kalau lawan jenis yang bisa dekat dengan dirinya hanya Pak Sultan dan Kang Aqil serta dokter Ibram, wajar saja kalau ia merasa tersanjung mendapat pujian seperti itu. "Lalu apalagi?" lah kok Almira ingin disanjung terus, membuat Aqil akhirnya menatap heran.
"Kenapa? kaget ya dengan pertanyaanku?" tanya Almira tepat sesuai sasaran. Mungkin bagi sebagian orang, rasa suka dan cinta tak membutuhkan alasan apalagi karena fisik, tapi tidak untuk Almira. Ia ingin tahu alasan laki-laki itu menyukai dirinya.
"Aku tidak mempunyai alasan kuat kenapa aku bisa suka sama kamu, karena hatiku yang klik saat bertemu hampir tiap hari denganmu."
"Romantis banget sih, Kang!" Almira memalingkan wajahnya, menyembunyikan signal panas yang menjalar di pipinya detik itu.
"Aku?" tunjuk Almira pada dirinya sendiri. "Mau jawab jujur atau..."
"Ck...jujur lah!" sahut Aqil sembari berdecak sebal. Hatinya sudah tak karuan eh malah dipancing seperti itu, gemas gak sih.
Almira tertawa, tak menyangka ia seberani itu pada lawan jenis. Kalau dipikir dengan Pak Sultan saja ia membutuhkan waktu yang lama untuk bicara berdua dan tak berani bertanya lebih dulu, apalagi menggoda, ouh tidak mungkin. Tapi kini, ia bahkan berani menggoda Aqil hingg pemuda itu tampak kesal.
Almira mengalihkan pandangannya dari Aqil, ia akan berbicara yang sebenarnya. Bagi perempuan bila disukai lelaki seperti Aqil yakin deh bakal bahagia banget, tapi tidak untuk Almira. Ia tak mau bermain hati bila sang kekasih tidak bisa menerima kondisi depresinya. "Aku merasa senang sudah ada orang lain yang menyukaiku, selain keluargaku. Tapi aku tak berani berharap orang itu tulus menyukaiku, karena hati sangat bisa dibolak balikkan oleh sang pencipta."
Aqil terdiam. Ia masih belum bisa mengambil kesimpulan ditolak atau diterima. "Kang Aqil tahu kenapa aku bisa di sini?" Aqil mengangguk.
__ADS_1
"Apa?" tanya Almira ingin mendengar langsung pandangan orang tentangnya.
"Kamu ingin menenangkan diri dari masalah keluargamu," jawab Aqil yang tahu hanya sebatas itu. Budhe tak pernah menceritakan background anak pondok, beliau mengenalkan anak pondok baru karena ingin menenangkan hati. Just it, dan Aqil bukan pemuda kepo dengan urusan orang lain.
"Yang lain?"
"Gak ada, aku gak terlalu kepo dengan urusan orang lain."
"Kang Aqil memang gak pernah curiga ketika dokter Ibram bersamaku?" pancing Almira serius.
"Enggak ada, aku hanya pikir kamu anak jurusan kedokteran yang sedang cuti agar tidak lupa makanya kamu diskusi dengan dokter Ibram."
"Yakin nih pemikiran mahasiswa S2? Gak berniat menganalisis lebih lanjut?"
"Enggak sih,"
"Trus Kang Aqil gak mau cari tahu tentang orang yang Kang Aqil suka, misal keluarganya gitu?"
Aqil menggeleng, "Dalam prinsipku, mendalami latar belakang kamu sambil jalan saja, toh aku gak mau bersusah payah dulu sebelum diterima."
Almira tertawa, tak menyangka kalau Aqil serealsitis ini. "Kenapa?"
"Kalau kata Intan dan Lila Kang Aqil bakal jadi bucin loh, tapi ternyata masih realistis kok. Benar juga loh prinsip Kang Aqil gak usah susah payah dulu sebelum diterima. Lebih baik lagi gak usah jagain jodoh orang," Almira tertawa kemudian, geli saja bisa bicara tentang cinta atau pasangan, jelas sekali pengalaman Almira dalam hal ini minim.
"Jadi? Aku ditolak?"
Almira mengangguk pasti, "Aku tak mau hubungan aku dan Kang Aqil yang baik ini akan berubah bila Kang Aqil tahu bagaimana aku sebenarnya, maaf ya!" sesal Almira sebelum beranjak pergi.
__ADS_1
"Kamu bukan gila...."
Almira terpaku seketika.