MENTAL

MENTAL
AKSI BIMA


__ADS_3

Moment melow-melow akhirnya terlewati, mobil Pak Muhtar sudah sampai ke parkiran mall dan Almira tampak sudah stabil. Tawanya sudah muncul meski beberapa kali isakan masih terdengar.


"Mau makan dulu atau gimana nih?" tanya Pak Muhtar yang hari ini mengenakan kaos polo dan jeans tampak masih mudah. "Mau beli baju?" tanya Pak Muhtar kembali sembari merangkul bahu Almira.


"Aku kayak pacar papa bukan sih?" tanya Almira sembari mendongakkan kepala.


"Iyalah, papa kan cinta pertama kamu!" jawab Pak Muhtar sembari mengusap puncak kepala sang putri. Tiba-tiba lengan kiri Pak Muhtar disampirkan ke pundak Bima.


"Papa juga cinta pertamaku!" cetua Bima tak mau kalah karena selama ini ia lebih dekat dengan sang mama. Bahkan beberapa waktu terakhir, sang papa sibuk dengan Almira, Bima hanya berdua dengan sang mama.


"Dih, ikut-ikutan!" protes Almira sambil mencibir.


"Papa cinta pertama kalian!" Pak Muhtar menengahi dengan merangkul keduanya.


"Aku cinta tante-tante menor!" sahut Radit yang dari tadi berjalan di belakang ketiganya.


Seketika itu langkah ketiganya berhenti dan menoleh pada Radit sambil tertawa ngakak, Almira pun menarik tangan Radit dan merangkulnya, "Kamu cinta keduaku deh!" Radit pun tertawa mendengarnya, ia pun dengan suka rela menyampirkan lengannya pada Almira. Keempatnya menuju ke outlet Un*lo. Pak Muhtar memberikan kebebasan belanja untuk Almira, Radit dan Bima. Beliau pun ikut berbelanja.


"Mama size L, Mbak!" ucap Bima mendekati sang kakak yang sedang memilih kaos lengan pendek berwarna peach, warna kesukaan sang mama.


"Iya, aku ambil buat mama juga kok. Kita biasa kembarang kan, tapi gak tau kapan kasihnya."


"Jangan kumat ya, gimana kalau minggu depan aja?" ajak Bima tanpa merasa bersalah memberi kalimat awal sebuah peringatan. "Aku diam-diam deh, gak bilang papa. Cuma kita bertiga aja, gimana?" nego Bima sembari melirik Radit dan papa yang sedang fokus memilih kaos.


"Aku takut ketemu mama, Dek!" Almira terdiam sejenak, dan Bima langsung memegang lengannya.


"Tenang...tenang, jangan kumat ya, nanti kita malu!" Lah Bima malah membuat Almira semakin berpikir kalau dirinya gila. "Tapi jangan mikir Mbak Al gila ya, Mbak Al tuh cuma agak ngeleg aja."


"Sembarangan!" protes Almira sembari tersenyum tipis. Lumayan terhibur dengan bertemu Bima.


"Mau gak?" tawar Bima lagi.


"Lihat ntar deh!"

__ADS_1


"Tau gak Mbak, mama tuh kangen Mbak tahu. Setiap hari kan jemput aku lalu kita makan siang di luar kadang juga makan di rumah, nah setiap mama menyendok makanan, mama bilang Mbak Al gini makan apa ya?" cerita Bima dengan wajah kesal.


"Sebel sih sebenarnya dengar mama bilang gitu tapi mau gimana lagi anaknya sakit, gak di rumah lagi," ujar Bima lagi. Sepertinya ia punya misi tertentu yang hanya dirinya yang tahu, atau dia sudah dibriefing oleh Radit untuk banyak omong saat bersama Almira.


"Kasihan kamu, Dek. Maaf yah," bukan ini yang diharapkan Bima karena mendadak respon Almira merasa bersalah dan suaranya kembali lirih, pasti akan menangis.


"Yah makanya...Mbak Al harus sembuh, biar kita bisa kumpul lagi. Lagian nih Mbak...harusnya Mbak lebih nyaman dengan kita," seloroh Bima tanpa beban, meski di dalam hatinya sedang merutuki bibirnya yang kelewat cerewet.


"Gitu yah?"


"Iy-"


"Kalian mau belanja atau ngobrol?" Radit datang tiba-tiba, memotong ucapan Bima lagi. "Lagian kamu, Mbak. Harusnya gak usah mikir buat belanja, kan cewek suka belanja, puas-puasin deh. Noh..tas....noh heels...noh blazer," cetus Radit juga sambil menunjuk stand yang menyediakan perlengkepan perempuan.


Almira termenung sejenak, kedua adiknya berubah drastis. Dulu, mereka kebanyakan sering bertengkar dan memperebutkan hal yang gak penting. Tapi dua bulan lebih tidak di rumah, Almira menemukan perbedaannya. Radit dan Bima seolah berusaha dekat dengannya. Mungkin mereka mendapat arahan dokter Ibram untuk mendukung kesembuhan Almira.


"Aku sayang kalian," ucap Almira sembari merangkul pinggang keduanya. Bahkan tas belanjaannya dijatuhkan begitu saja.


"Kenapa kalian jadi teletubbies?" tanya Pak Muhtar yang mendekati ketiga anaknya.


Memilih aneka olahan seafood dengan tambahan sambal pencit (mangga muda) dan aneka jus. Mereka memilih tempat di area luar cafe, yang lebih luas dan sepi. Angin sepoi menerpa wajah cantik Almira.


"Pa...Papa sekarang lebih sering di rumah daripada Kalimantan?" tanya Almira sembari menatap sang papa yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Lebih banyak di sini, ke Kalimantan dua minggu sekali."


"Enak gini Mbak Al, biar bisa kumpul sewaktu-waktu, lagian papa uangnya udah banyak."


Beginilah si bungsu paling bisa mencairkan suasana, ocehannya yang ceplas-ceplos malah bikin ketawa. "Sok tau!" Radit dengan seenak jidatnya menonyor kening sang adik.


"Eh Radit," tegur papa yang tak suka dengan sikapnya.


"Diamini kenapa sih, Mas, rese' ah," lah si anak bontot ngedumel. Tingkah kedua adiknya berhasil membuat Almira tertawa. "Mbak, pulang yuk, biar rumah ramai." Ajakan Bima berhasil membuat Almira kincep. Pak Muhtar mengamati perubahan wajah sang putri, beliau paham betul masih ada guratan kekhawatiran dalam benak Almira.

__ADS_1


"Gimana Pa?" tanya Bima pada sang papa, ia ingin mama dan Almira bertemu, yakin seyakinnya mama sekarang berubah dan pasti membimbing Mbak Al lebih baik.


"Semua terserah Mbak Al, papa tidak akan memaksa."


Almira terdiam, lalu menghela nafas berat. "Tunggu bulan depan saja ya, Mbak Al ingin suasana nyaman dulu."


Pak Muhtar mengangguk, "Terserah kamu saja, senyamannya kamu!"


"Beneran pa?" Pak Muhtar mengangguk.


"Biayanya?" tanya Almira.


"Mbak Al gak usah mikir biaya, kali ini Radit setuju dengan Bima, kalau uang papa udah banyak."


"Udah, gak usah memikirkan uang. Itu tugas papa buat mencukupi kebutuhan kalian."


Makan siang pun datang, mereka makan dengan lahap, hening tanpa ada obrolan karena mereka sepertinya kelaparan. Selepas makan, mereka beranjal ke musholla mall, menunaikan kewajibannya sebagai muslim.


Almira berdoa dengan khusyuk, melihat keakraban kedua adiknya ia ingin sekali bergabung dan kembali ke rumah. Rumah yang selama ini menjadi tempat mendapat tempaan mental dari sang mama diyakini telah berubah juga, mungkin sekarang lebih bahagia dan berwarna.


"Mbak, aku punya sesuatu!" cetus Bima mendekati Almira, padahal ia belum memakai sepatu.


"Punya apa?"


"Aku kasih saat sudah sampai di pondok, nanti segera dibuka ya?"


"Kamu tuh gak usah bilang, bikin penasaran saja."


"Eh..anggap aja surprise!"


"Emang kamu punya uang buat beli barang?" cibir Almira.


"Eh...barang itu bukan dari aku tapi dari mama!"

__ADS_1


Mama? Barang apa itu?


__ADS_2