MENTAL

MENTAL
BISA, YAKIN BISA!


__ADS_3

"Bagaimana?" tawar dokter Ibram yang malam itu terpaksa pulang ke pondok demi menuntaskan program terapi lanjutan pada Almira. Selama perjalanan menuju pondok, obrolan dengan Pak Muhtar terus terngiang.


"Kita mendekatkan dokter Anggraini dengan Almira by chatting. Pak Muhtar bisa meminta Nyonya Anggraini chat terlebih dulu pada Almira, bisa? "


"*Iya nanti saya akan bilang ke mamanya anak-anak!"


"Pak Muhtar, sebenarnya saya tidak mau mencampuri urusan rumah tangga Pak Muhtar. Hanya saja saya harus menyampaikan karena ini terkait dengan perkembangan Almira."


"Apa*? "


"Sebelum Pak Muhtar meminta Almira kembali pulang, saya harap hubungan Pak Muhtar dengan dokter Anggraini sudah membaik. Kalau Pak Muhtar belum bisa memberikan kondisi nyaman, saya katakan percuma. Kunci utama Almira bisa sukses menjalani terapi adalah suasana di pondok nyaman. Hubungan antar anggota juga baik, dan lagi banyak kegiatan yang bisa ia lakukan bersama orang lain."


Pak Muhtar tampak menghela nafas berat, "saya memang ingin berpisah dengan mamanya anak-anak."


Dokter Ibram terdiam mendengarnya, masalah apalagi ini. Memang Almira trauma dengan sikap sang mama, tapi ia yakin Almira tidak akan setuju dengan keputusan sang papa. Mencari solusi bukan dengan perceraian, tapi menurunkan ego semata. Bekerja sama menyembuhkan Almira, dan menciptakan suasana rumah yang nyaman harus disadari oleh keduanya. Tak ada yang mendominasi, tak ada yang merendahkan. Harusnya Pak Muhtar dan dokter Anggraini bergandengan tangan, menyelesaikan bersama.


"Kalau Pak Muhtar dan dokter Anggraini pisah, tentu bukan hanya Almira saja yang sakit, tapi Radit dan Bima juga lebih sakit lagi."

__ADS_1


Giliran Pak Muhtar terdiam. Menatap lekat dokter muda itu dengan berusaha memasukkan ucapan ketus tersebut dalam otak beliau. Ucapan dokter Ibram tidak salah, tapi susah dilakukan. Kecewanya Pak Muhtar sudah sampai di ubun-ubun dan tidak berniat menghilangkannya. Seakan menimbun penuh kecewa menjadi dendam dan berujung keputusan pisah. "Saya juga masih kecewa dengan Anggraini, dok. Susah menghilangkannya.


Sesi curhat dimulai pada obrolan itu, Pak Muhtar sudah tidak memiliki tempat berkeluh kesah lagi, hanya dokter Ibram yang mumpuni. Kembali ke keluarga besar tentu tidak mungkin mengingat perlakuan mereka pada Anggraini seperti apa, malah bisa jadi menyetujui untuk segera pisah.


Berbicara dengan kedua anaknya, beliau masih belum berani mengusik mereka. Radit dan Bima masih panas dan getol menginginkan Almira pulang, namun Pak Muhtar belum bisa memenuhinya. Jalan satu-satunya adalah menemui dokter Radit. Dan memang syukur Alhamdulillah saran dari dokter muda itu sangat mudah dilakukan, yakni mengajak duduk bersama anggota keluarga sekali lagi. Mau apa? jadinya bagaimana? kalau berpisah akan seperti apa? kata dokter Ibram bicara jujur meskipun sakit itu lebih baik, daripada memendam semua seakan baik-baik saja dan menjadi bom waktu.


Dan sekarang giliran dokter Ibram yang melakukan terapi dengan Almira, mengemas permintaan Pak Muhtar dengan kata ala dokter jiwa, tidak menuntut dan menganjurkan tapi menggiring jawaban Almira sampai gadis itu menemukan jawaban atas permasalahannya sendiri.


"Takut," jawab Almira menanggapi penawaran dokter Jiwa yang meminta belajar mengontrol emosi dengan sang mama.


"Semua tentang mama."


"Beneran?" tanya dokter Ibram memastikan, tak lama kemudian beliau mengeluarkan foto dokter Anggraini saat melakukan konsultasi dengan pasiennya. Terlihat ramah dan murah senyum. "Apa yang kamu pikirkan tentang beliau di foto ini?"


"Palsu," jawab Almira tegas dan tak mau berlama-lama menatap foto itu. Ia mengalihkan tatapan matanya ke arah dokter Ibram dengan cepat.


"Kenapa bilang palsu?"

__ADS_1


"Karena mama tak pernah bersikap ramah apalagi murah senyum seperti itu ke aku. Mungkin ramah dengan pasien karena mereka memberikan uang pada mama sedangakan aku hanya bisa menghabiskan uang mama."


Dokter Ibram tersenyum tipis, menyamarkan keterkejutan akan jawaban Almira yang tak pernah disangka sebelumnya. "Bukannya uang kebutuhan kalian dari papa?"


"Aku gak tau uang itu dari mama atau papa, yang jelas mama selalu bilang, jangan menghamburkan uang hanya sekedar jalan-jalan, ingat kamu masih minta orang tua, gunakan uang saku kalian sebijak mungkin. Aku bisa tapi tidak dengan Radit, aku selalu kasih dan tak mau dikembalikan. Aku buat apa, punya teman enggak, gimana mau habisin jatah uang saku."


Dokter Ibram masih menyimak, sepertinya harus berusaha keras untuk mengembalikan emosi stabil Almira tentang mamanya. "Oke, tapi bisa saja mama kamu berubah saat ini?"


Almira tersenyum sinis, "dokter Ibram yakin mama bisa berubah?"


"Yakin, karena hati manusia bisa dibolak balik," jawab dokter Ibram meneduhkan, seperti siraman rohani.


"Kalau aku enggak!" Almira menjawab dengan tegas. "Kalau mama bisa berubah, tidak egois, dan memikirkan kepentingan keluarganya, tentu mama bisa memperbaiki hubungan papa dengan mama, tapi apa setiap kali kita kencan, setiap Bima menyebut mama, papa langsung kehilangan navsu makan dan terlihat badmood, so watak mama belum bisa berubah meski aku telah pergi jauh dari jangkauan beliau."


Dokter Ibram terdiam, tak bisa berkomentar, analisis sesorang Almira sangat bagus, dan di luar ekspektasi dokter Ibram. Yakin 100%, otak Almira waras, dan berfungsi sangat baik. Menjelaskan penuh emosi tapi cerdas.


Hari pertama terapi gagal, tulis dokter Ibram mengabari via chat, bahwa Almira masih.tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


__ADS_2