MENTAL

MENTAL
MERANCANG MASA DEPAN


__ADS_3

Almira menutup mulutnya menahan gelak tawa, sore ini rombongan Oliv sudah datang, mereka kembali diomeli Oliv karena baru sampai gerbang sudah rusuh. Entah apa yang membuat mereka begitu rusuh, yang jelas Oliv masuk ke aula pondok sampai membawa penggaris besi dan yang membuat Al tertawa adalah wajah kesal rombongan itu. Bagaimana tidak, di rumah mereka mungkin menjadi raja, tapi di sini harus takluk dengan Oliv.


"Emang ada apa sih?" tanya Almira penasaran, khususnya rombongan cowok yang saling senggol lengan dan melirik satu sama lain.


"Ehm..anu...anu Mbak Al, Rangga!" tunjuk Leo dengan tergagap, lempar batu ke arah rangga yang gelagapan juga.


"Eh..enggak, gak ada gak ada!" tolaknya sembari mengibaskan kelima jarinya.


"Ck....makanya kalau masih bau kencur gak usah sok jadi playboy!" ketus Mita dengan lirikan tajam pada rombongan laki-laki. Namun sejurus kemudian, Mita mengeluarkan sebuah snack bucket berisi cokelat dengan ukuran besar.


Almira dibuat melongo, karena Mita menyodorkan bucket padanya. "Buat siapa?" tak mau ge-er takut malu.


"Buat Mbak Al dari kita," sahut Oliv dengan isyarat telunjuk menempel di bibir tanda mereka harus diam. Sepertinya ada udah dibalik rempeyek nih.


"Cantik banget, mahal pasti!" tebak Almira yang memandang penuh haru pada bucket tersebut, baru kali ini dia mendapat perhatian khusus penuh cinta gini. Padahal ia belum melakukan hal yang berarti untuk mereka.


"Padahal bunga itu bukan dari kita, ya kali kita punya inisiatif beli ginian," gumam Rangga berbisik namun diam seketika saat Oliv menatapnya tajam.


"Buat siapapun yang kasih terimakasih banyak. Aku simpan, ehm jadi gak tega nih buat bongkat. Cantik banget loh."


Mereka hanya terdiam dan meringis, kata yang kirim bucket tadi akting mereka cukup sampai Almira menerima bucket itu. Selebihnya langsung dialihkan ke diskusi sore ini yang kata Diva Menjemput Masa Depan.

__ADS_1


Setelah berdoa, mereka mulai memperhatikan cara Almira menjelasakan operasi matematika yang sederhana saja karena ia sadar anak didiknya tidak bakat dalam hitungan. Malah Rangga sudah berapa kali bertanya namun tak paham juga.


"Otak lo fokus di sini kan?" sentak Diva yang gemas karena hanya Rangga saja yang belum paham, sedangkan yang lain mau lanjut ke level yang lebih tinggi harus menunggu. Bayangkan saja, mereka sudah paham lalu diminta menunggu teman yang belum paham, serasa menunggu bisul pecah, gemas.


"Ya Allah, otak gue di sini dari tadi. Wajar dong, otot gue yang berkembang bukan otak," sewot Rangga pada Diva. Almira hanya bersedekap mengamati interaksi Diva dan Rangga, tersenyum sendiri karena keduanya tampak lucu, bertengkar hanya karena beda pemahaman. Kalau dulu saat SMP, Al dan teman-teman Al akan berlomba untuk paham materi sebelum diterangkan guru. Jadi kalau guru masuk, menjelaskan materi maka Al dan anak kelas akan berebut tanya materi yang lebih tinggi namun masih relevan. Sangat bersaing, oleh sebab itu Al dituntunt untuk menguasai semua materi.


"Kok pada diem?" tanya Almira seraya menoleh kanan kiri, siapa tahu ada yang datang ke aula pondok karena Rombongan Oliv ini akan berubaha menjadi anak baik saat ada orang lain. Pencitraan.


"Ngeri," sahut Leo spontan.


"Ngeri kenapa?"


"Melihat Mbak Al senyum-senyum sendiri," sahut Oliv yang memang tak bisa mengabaikan kondisi Almira.


"Oh ya?" Rangga memastikan dengan menopang dagu. Teman lainnya langsung menyenggol lengannya, karena posisi Rangga seperti itu menunjukkan signal "memancing", yah memancing Mbak Al untuk menjawab pertanyaan darinya. Apapun ditanyakan, sebagai modus agar tak kembali ke topik diskusi sore ini. "Gak afa Rangga sih, makanya masa SMP Mbak Al gak asyik," pancingan pertama tercetus, rombongan cewek hanya memutar bola matanya malas. Modus ala Rangga berhasil.


"Kayaknya gitu, terbukti loh sekarang Mbak Al nyaman banget loh dekat sama kalian," lah Almira terjebak dalam modus Rangga. Bahaya nih."


"Mbak Al kalau soal nomer 3 ini jawabannya 60° kan?" Mita langsung memotong obrolan unfaedah yang sedang dilancarkan Rangga. Mereka harus kembali fokus ke pelajaran matematika. Sedangkan Rangga berdecak sebal dan menggaruk kepalanya, rasanya sudah menguap dan panas.


"Biang kerok emang dedemita itu," gerutu Rangga kesal. Almira pun kembali melanjutkan pembahasan soal, dan jawaban Mita benar. Almira tertawa melihat tingkah Mita yang kelewat girang mendapat pujian serta jawaban benar.

__ADS_1


"Fix gue pintar nih, bisa deh masuk SMA Negeri nanti," ucapnya jumawa dan diaminkan oleh rombongan cewek serta Almira, sedangkan Rangga cs cuma bisa nyinyir. "Kecentilan," begitu respon rombongan cowok pada Mita.


Les privat sudah hampi 90 menit, kepala Rangga sejak setengah jam lalu tertempel mesra dengan meja. Tangannya hanya menggores lingakaran tak berbentuk seperti gulungan benang, muak mungkin dengan matematika. Ia memang sudah tak berharap banyak, kapasitas otaknya juga segini kasihan kalau dipaksa.


"Oke sebelum kalian pulang, Mbak Al pengen tahu rencana masa depan kalian untuk membahagiakan mama, mulai dari Oliv," tunjuk Almira pada ketua rombongan. Gadis centil itu langsung menjawab dengan spontan tanpa pikir panjang, "Nikah sama bos perusahaan, dijamin banyak uang, mama pun senang!" cicit Oliv yang disambut sorakan protes dari anak buahnya. Kasihan. Jangan tanyakan Almira, ia sudah tertawa bahkan sampai menitikan air mata, betapa polosnya Oliv tanpa pikir panjang. Wajar juga pemikiran anak SMP hanya sebatas kesenangan semata. "Ya wajar lah, dari kecil gue hidup gak enak dengan bapak gue, nanti kalau menikah harus cari yang kaya sekalian. Kalau dia main tangan setidaknya gue pegang uangnya," sewotnya tak kalah pedas. Ouh trauma mendasari cita-citanya.


"Kalau Leo?"


"Ingin jadi dokter, tapi onderdil otak pas pasan!" sahutnya menilai diri sendiri. Coba kalau di posisi Almira harus tertawa atau bersedih, mendengar celetukan yang aneh bin ajaib. "Masih bisa dikejar kok, Le!" Almira memberikan semangat, karena dia pernah merasakan 1 tahun menjadi mahasiswa dokter. Sangat berat, apalagi kalau memilih dokter bukan keinginannya sendiri, double kill stressnya.


"Tuh masih panjang perjalanan menjadi dokter, asal pas jadi dokter jangan sampai isi suntikan berupa air kelapa saja," celetuk Diva asal.


"Apalagi air bekas cucian beras," tambah Mita yang membuat teman lainnya tertawa. Leo langsung memiting leher Mita, tak peduli kalau lawannya ini perempuan.


Almira menghentikan lawakan mereka, hanya bisa geleng kepala, komentar jadi dokter bisa sampai ke air kelapa lanjut ke cucian beras, bengek sekali mereka.


"Kalau aku mau jadi atlet aja," sudah pasti jawaban Rangga yang tak bisa dielak. Dia sudah menjadi kapten di sekolah, baik basket, voli, sepak bola, pemuda itu jago sekali.


"Kalau akau mau jadi selebgram sajalah, zaman kayak gini, gak usah kuliah. Otakku gak sampai, memperbanyak cuan mama papa jadi selebgram sajalah gampang," lanjut Lina yang sudah punya modal cantik.


"Wah ...butuh tim edit video dong?" sahut Almira, pasalnya beberapa minggu lalu dia dan Intan berencana membuat konten kreator tutorial hijab, tapi batal karena editing video.

__ADS_1


"Saya bantu...," seru seseorang yang membuat cewek-cewek terpana. Pemuda itu berjalan mendekati Almira.


"Pangeranku," celetuk Mita blingsatan.


__ADS_2