
ART di rumah itu sedang menangis haru, bagaimana tidak malam ini mereka menyiapkan menu makanan untuk anak majikan. Beberapa kali menyeka air mata dengan dasternya, salah satu ART merasa haru dengan kembalinya Almira. Suasana rumah sedang tidak baik-baik saja, banyak pertengkaran hingga sang nyonya rumah keluar dari rumah.
"Ya ampun, Non!" bik Ratih, salah satu ART tak kuasa menahan tangis, melihat sang majikan duduk manis untuk makan malam. Meja besar yang terisi berbagai menu makanan begitu longgar karena hanya ada tiga bersaudara yang siap menikmati hidangan tersebut.
"Bi Ratih kangen ya sama Almira, sampai menangus begitu," Almira bahkan sampai memeluk wanita paruh baya yang sedàng menyeka air matanya. Keperibadian Almira sangat berbeda, biasanya dia tampak kalem, tapo sekarang lebih ekspresif juga.
"Sehat-sehat, Non!" ucap Bi Ratih sebelum meninggalkan ruang makan. Kemudian, Radit memimpin membaca doa sebelum makan dan diikuti oleh Almira dan Bima. Setelah berdoa, Radit dan Bima langsung menikmati menu makan malamnya, berbeda dengan Almira yang menatap dua kursi kosong di depannya. Dua kursi yang seharusnya ditempati oleh papa dan mama.
"Makan, Mbak!" tegur Radit yang tahu ke mana pikiran Almira melayang. Sedangkan gadis itu hanya menoleh, lalu mulai menyuapkan makanannya.
"Beginilah kami, Mbak. Dua bujangan yang gak disayang," cicit Bima mendramatisir, dan langsung mendapat cebikkan kesal dari Radit. "Lebay," sewot remaja SMA tadi.
__ADS_1
"Heleh, Mas Radit bilang lebay tapi aslinya jablay," balas Bima dan berhasil membuat Radit kincep. Sisi gengsinya anak cowok untuk melow-melow ternyata tak bisa disembunyikan dari remaja puber itu. Beruntung memiliki adik seperti Bima yang sangat ceplas ceplos dan kelewat peka.
"Kalian benar-benar pintar akting. Setiap mengunjungi Mbak, kalian selalu menampakkan keadaan rumah baik-baik saja."
"Pencitraan lah, sebelum ke Mbak, papa selalu memberikan ultimatum untuk menampilkan senyum agar Mbak Al bahagia," lanjut Bima terlanjur polos menceritakan rahasia yang selama ini dijadikan perjanjian bila mengunjungi sang kakak di pondok.
Radit tampak diam, mungkin belum saatnya berbicara. Apalagi topik pembicaraan Bima dan Almira masih di level ringan. "Maaf ya, Mbak gak tahu kalau kalian juga kena imbas gilanya Mbak."
"Lapar, laper banget. Bima udah lama gak makan malam seperti ini. Kebanyakan makan malam sama mama di luar, atau sama papa tapi hening aja. Kelihatan banget kalau papa gak dekat sama anaknya. Ngobrol kek, cerita ini itu kek, gak perhatian pokoknya papa tuh."
"Kalau kamu, Dit?" kini giliran Almira memperhatikan sang adik yang dari tadi hanya diam dan menghabiskan porsi makannya.
__ADS_1
"Setidaknya malam ini, ayam gorengnya terasa nikmat saat aku kunyah."
Jawaban yang membuat Almira menangis seketika, berarti selama dia sakit kedua adiknya juga merasakan sakit hati yang luar biasa, bahkan untuk urusan makan mereka sampai baru sekarang merasakan nikmatnya ayam goreng.
"Mulai sekarang, Mbak Al yang akan memberikan perhatian sama kalian. Mulai sekarang Mbak akan bersikap lebih dewasa untuk kalian," ucapnya dengan bergetar. Memeluk Bima yang duduk di sampingnya erat. Radit pun tak kuasa menahan tangis, ia pun ikut memeluk kakak dan adiknya. Ketiganya pun menangis bersama.
"Aku kangen sama papa dan mama, kangen banget diceramahi mama, kangen diajak rekreasi sama papa. Aku sakit hati, Mbak," seorang anak laki-laki sampai menangis, itu tandanya sudah kelewat sabar dalam memendam masalah. Sekuat-kuatnya anak laki-laki, ia butuh sosok yang tetap memperhatikannya. Justru konsentrasi papa dan mamanya pada Almira, membuat Radit kehilangan rasa diperhatikan. Biasanya mama akan mengomel seragmnya yang gak rapi, atau terlalu lama main basket. Begitu Almira sakit, papa dan mamanya lepas tangan. Bima dan Radit tidak dihiraukan, dianggap sehat dan masih ada uang. Bahkan pertengkaran Nyonya Anggraini dan Pak Muhtar di depan mereka terus saja dilakukan, hingga membuat Radit muak.
Remaja SMA itu selalu protes dan menegur sikap papa dan mamanya. Bahkan membuat rencana dengan Bima dengan berkata anak papa dan mama tidak hanya Almira, sadarlah pa..ma, Radjt dan Bima juga butuh perhatian, begitu rasanya jeritan hati Radit.
"Mulai malam ini jangan sampai ada tangisan air mata lagi, besok kita akan beraktivas untuk hidup bahagia, oke!" janji Almira pada kedua adiknya.
__ADS_1
"SETUJUUUUUU."