MENTAL

MENTAL
POTENSI CUAN


__ADS_3

Almira dan Bu Puguh melongo saat lebih dari 10 anak masuk ke aula pondok, mereka masuk secara teratur langsung duduk manis dan mengeluarkan buku serta pensil tanpa di komando. Sedangkan anak yang terakhir masuk hanya melambaikan tangan dan tersenyum ceria menatap Almira dan Bu Puguh.


"Assalamualaikum, Mbak Al, Bu Puguh!" sapanya sembari menyalami Almira dan Bu Puguh dengan hormat.


"Waalaikumsalam," jawab Almira dan Bu Puguh kompak. Namun keduanya masih terbengong sesaat. Masih shock dengan kehadiran rombongan yang diketuai oleh Oliv.


"Bu Puguh, kita boleh belajar di sini kan?" izin Almira yang sebenarnya harus dilakukan di awal sebelum membawa rombongan.


"Hah?" Bu Puguh mulai sadar, "Oh iya silahkan, kemarin Almira sudah izin. Mau belajar silahkan?" tanya Bu Puguh sembari menyenggol lengan Almira.


"Oh terimakasih Bu Puguh, semoga izin dari Bu Puguh ini menjadi amal jariyah Bu Puguh kelak," pintar sekali marketing ala Oliv, siapa yang tidak mengaminkan ucapannya.


"Aamiin," jawab Almira dan Bu Puguh kompak. Bu Puguh pun menyilahkan Almira segera memulai belajar sore.


"Eh, guys. Kasih salam dong, ini tutor kita, Mbak Almira namanya," pinta Oliv dengan gaya cerianya, dan semakin membuat Almira melongo rombongan Oliv begitu patuh dan menyapa Almira secara serempak.


Bagaimana ekspresi Almira? hanya meringis canggung. "Hai, salam kenal ya, Saya Almira!"


"Cantik banget."


"Ini mah betah sekali kalau tutor lesnya bening gini."


"Oliv menarik tarifnya terlalu murah nih, berani gue bayar mahal untuk tutor secantik ini."


"Haduh....dunia tidak adil banget sih, udah cantik pintar aja. Lah gue cuma kaya doang yang bisa diandalkan.


Begitulah komentar beberapa anak ketika melihat Almira yang sedang berdiri di depannya. Bahkan rombongan cowok matanya serasa ada pancaran kupu-kupu saking tertariknya pada Almira.

__ADS_1


Cantik itu relatif, tapi siapa pun yang bertemu Almira pasti bilang nih cewek cantik dan enak dipandang. "Oke ..sore ini mau diskusi tentang apa?" tanya Almira membuka les privat.


"Beuh, ramahnya bikin gue melting," gumam salah satu cowok yang duduk di belakang, suaranya terdengar hingga Almira melotot, namun sedetik kemudian mengalihkan pandangannya pada Oliv. Baru pertama saja, kelakuan mereka seperti ini bar-bar dan tidak ada rasa takut.


"Hey guys, yang sopan dong!" tegur Oliv sembari menjulurkan telunjuknya. Lagi-lagi Almira melongo, betapa horornya tingkah anak SMP saat ini. "Kuy Mbak ...mulai, hari ini kita belajar garis, Mbak. Aku tuh bingung, mana sih yang garis berseberangan?" Oliv mendikte materi yang perlu dibahas di sore ini. Oke Almira pun mulai menjelaskan tentang garis dan sudutnya.


"Jadi, menurut kamu sudut garis ini berapa?" tanya Almira menunjuk satu anak yang berada di depannya, anak tersebut menopang dagu, dan tampak serius menatap papan, Almira pikir anak itu serius memperhatikan penjelasannya. Namun, anggapan itu buyar ketika dia balik tanya, "Sudut hati Mbak Al berapa?"


Ya Allah tolong, ingin rasanya Almira menjerit. Baru kali ini ia merasa digombali brondong, menggelikan rasanya. Gadis cantik itu hanya menghela nafas berat, melipat lengan di depan dada sambil berpikir, mencari ide agar mereka fokus pada pembahasan ini.


"Emang sudut hati Mbak Al bentuknya apa? kok tahu ada sudut?" tanya Almira kembali. Oke, mengajari anak SMP maka tutor harus tahu istilah dalam dunia anak SMP. Kalau dia mau bahas hati, baiklah akan dikaitkan dengan hati. Entah dapat ilmu dari mana Almira merasa sepertu itu, yang jelas dia memposisikan sebagai murid bila les privat. Memori saat dia les dulu terbayang tiba-tiba, mengingat sikap tutornya dulu yang memahami dunia Almira.


"Waduh, gaes. Kok main hati, bahaya nih," celetuk anak perempuan yang agak tambun dan dari tadi mengunyah permen.


"Diem loh, bentet. Tubuh lo aja udah 360°,"celetuk anak yang tadi menggombali Almira.


"Lihat ajalah, Mbak. Tubuhnya bulat."


"Bulat itu sudutnya 360° ya Miss?" ini lagi sosok anak perempuan yang postur tubuhnya kecil, tapi berlagak sok Inggris, teman di sebelahnya pun langsung mencibir sok Inggris.


"Bukan bulat, tapi lebih tepatnya yang punya sudut 360° adalah?" tanya Almira sembari melirik anak-anak yang sudah pegang buku paket. Mereka hanya mengerjapkan mata, dan fokus pada Almira saja. Spontan Almira menghela nfas berat, gini amat muridnya. Harus punya stok sabar yang tumpah ruah nih.


"Adalah?" kembali Almira mengulang, namun ekspresi mereka juga tetap sama. Oliv yang menyadari kemampuan rombongan yang ia bawa mendadak tergelak, dan mengeplak kepala teman sampingnya satu per satu.


"Aduh,"


"Duh."

__ADS_1


"Sontoloyo lo Liv,"


Begitu ocehan beberapa teman Oliv yang kena keplak, "Punya teman be*o amat Gusti Allah," keluh Oliv ala emak-emak. "Nih dengar ya jawaban gue, lingkaran yang punya sudut 360°, iya kan Mbak Al?"


Giliran Almira yang mendadak loading lambat, ia masih shock dengan adegan keplak-mengeplak Oliv sungguh kekerasan dalam pendidikan yang tak patut ditiru. "Be-benar!" jawab Almira yang sudah bisa menguasai kesadarannya. Duh....kalau saja ia punya teman SMP seperti Oliv mungkin ia bukannya tambah pinter tapi tambah be*o gak ketulungan. Astaghfirullah.


"Nah, guys...Mak Oliv benar kaaan, dijamin lo bisa pintar kayak gue kalau terus belajar sama Mbak Al, iya kan Mbak?" cetus Oliv dengan bangganya. Lagi, Almira mendadak be*o, dan hanya menganggul saja. Les belum sampai satu jam, sudah dibuat pusing dengan tingkah mereka. Auto lambaikan kamera saja kalau kayak gini.


"Ehem...ehem, Mbak Al jangan underestimate ke kita ya," pinta anak perempuan yang sok Inggris tadi. Suaranya sekarang agak kalem, dan menatap Almira lekat. Entah mengapa Almira harus mengakhiri belajar sore ini berlanjut ke sesi curhat saja..


"Adik-adik, Mbak Al sudahi ya diskusi sore ini," pamit Almira dulu, namun mereka serempak bilang yaaaah, dan berlanjut muncul celetukan,


"Yah Mbak aku masih mau belajar."


"Mbak Aku udah cinta sama Mbak loh, kok udahan."


"Ayo dong belajar lagi, besok biar gue bisa maju ke depan!" dan masih banyak lagi ocehan yang bersahutan. Almira tak berani menghentikan, dirinya malah terpaku, bingung mau melakukan apa, karena ia tak punya pengalaman menyetop ocehan orang.


"Diam!" baru satu kali sentakan dari Oliv, rombongan itu diam seketika, Almira kok ikut gesrek, spontan saja tepuk tangan, karena Oliv berhasil membuat mereka terdiam. "Eh...maaf," ujar Almira sembari meringis menahan malu.


"Mbak yakin nih udahan, belum satu jam loh, cuan di aku bisa diambil lagi sama mereka," bisik Oliv yang tak mau bokek lagi. Di dalam tasnya sudah mengantongi uang 300 ribu, khusus hari ini ia memberikan diskon sehingga tiap anak cuma disuruh bayar 20 ribu saja.


"Enggak, saya akan mengajak kalian diskusi hal lain, perkenalan tentang matematika hari ini saya rasa cukup. Kita beralih ke sesi curhat."


"SIAAAAPPP," ujar mereka kompak.


Asyik, potensi cuan semakin meningkat nih kalau ada sesi curhat. Bisa dibuat bahan promosi buat besok, bathin Oliv memanfaatkan peluang.

__ADS_1


__ADS_2