MENTAL

MENTAL
OBROLAN KELUARGA


__ADS_3

Pak Muhtar masih diam menunggu kedatangan sang istri yang katanya selepas isya sudah di rumah, namun jarum jam sudah menunjuk ke arah 8 malam, wanita cantik itu belum juga muncul. Pak Muhtar tadi sore hanya mengirim chat aku mau kita semua bicara nanti malam selepas makan malam.


Pun demikian chatnya juga hanya dibalas oleh dokter Anggraini sebatas satu huruf Y. Komunikasi di antara keduanya terlihat sangat datar dan tidak ada yang mau mengalah. Lelah dan berego tinggi akan kelangsungan cinta mereka.


"Mama mana sih?" bisik Radit yang sudah bosen menunggu di ruang keluarga, apalagi sang papa hanya diam saja. Tahu gini ia bawa ponsel, main game sepuasnya.


"Masih di jalan," sahut Bima yang fokus pada gadgetnya.


"Di jalan mana?" coba hubungi suruh cepat, kebiasaan tidak menghargai kepentingan orang lain." Pak Muhtar sudah tidak bisa mengontrol emosi, dan terus saja menjelekkan sang istri di depan kedua anaknya. Radit memang sudah paham dengan sikap sang papa, pemuda itu pun juga tak mau menyalahkan sang papa sepenuhnya karena bagaimana pun tindakan mama sangat menorehkan luka pada pria tampan itu, hingga saat ini pun di mata Radit sang mama seolah lepas tangan akan kelanjutan rumah tangga ini. Kalau papa diam, mama juga ikut diam.


"Gak usah jelek in mama, papa sadar diri dong kasih tahunya juga mendadak. Emang mama itu pengangguran yang gak punya acara."


Lagi-lagi Pak Muhtar tak menyangka balasan Bima sungguh menohok. Beliau menatap tajam pada putra bungsunya, sikapnya tak sopan, berbicara tanpa melihat Pak Muhtar. Geram tentu, beliau pun langsung mengaitkan kedekatam Bima dengan sang mama, timbul rasa tak suka karena lagi-lagi sang istri memberi pengaruh buruk. "Bisakah kamu bicara sopan pada papa?" tegur Pak Muhtar dengan menahan amarah. Jangan sampai ia melampiaskan kekesalan pada putra bungsunya.


Radit melirik Bima dan segera menyenggol lengan adiknya itu, "Apaan sih, emang bener kan?" si Bima tetap pada pendiriannya yang tak mau mama disalahkan. Bahkan ia berani berkata ketus dengan papa dan Radit.


"BIMA!" tegur papa dengan tegas, bahkan sorot mata beliau menampakkan kemarahan yang tertahan. Seiring suara tegasnya, dokter Anggraini datang dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya dokter cantik itu penasaran. Dirinya sudah berusaha tepat waktu tapu apa daya macet, dan saat di rumah terdengar bentakan suara sang suami.


"Duduk!" Pak Muhtar tak mau menjawab dan menjelaskan. Ia tak bisa menetralkan emosinya hingga dengan istrinya pun terdengar ketus.


Mama duduk di antara Radit dan Bima, menoleh kanan kiri dengan bermain alis, seolah bertanya apa yang terjadi? Baik Radit dan Bima diam saja.


"Oke, Nggi, kita memulai diskusi malam ini," fokus dokter Anggraini teralihkan dengan sebutan Nggi dari aang suami. Hah? sepertinya jarak keduanya semakin jauh dan dalam. Wanita beranak tiga itu hanya tertawa sumbang mendengar namanya disebut tanpa embel-embel ma atau sayang. Fix...lebih baik pisah, batin Nyonya Anggraini.


"Silahkan."


"Almira biar kuliah dan tinggal di sini saja, Pa!' pinta nyonya Anggraini sedikit memohon dan menahan tangis. Namun tidak dengan Pak Muhtar tawarannya sungguh menusuk jiwa dan hati seorang ibu.


"Baik, kalau itu permintaan kamu, maka kamu silahkan keluar."


Nyonya Anggraini terdiam terpaku, sedangkan Radit dan Bima hanya bisa teriak kompak, "Papa!"


Keduanya sudah dewasa, mereka tak mau potret keluarga bahagia sirna. "Pa...papa apa-apaan sih?" tanya Radit tak suka, bahkan oemuda ganteng itu mendekat ke Pak Muhtar.

__ADS_1


"Aku tak mau ambil resiko dengan kesehatan mental Almira, penyebab dia mengalami gangguan mental kalau bisa dijauhkan saja."


Air mata keluar tanpa komando, begitupun dengan Bima yang langsung memeluk sang mama. Permintaannya ingin menyatukan keluarga ternyata mendapat sambutan seperti ini.


"Apa kamu sanggup?" tanya Pak Muhtar to the point, tidaj menghiraukan protes Radit sama sekali.


"Aku....," nyonya Anggraini tergagap. Otak cerdasnya blank seketika, rengekan Bima benar-benar membuatnya sedih, tapi ia juga tak mau gangguan mental Almira kambuh dan pengobatan lebih parah lagi. "Iya."


Radit menggeleng tak terima, bukan begini yang ia mau. Harusnya tidak ada yang berkorban, tapi dipikir bersama.


"Mulai kapan?" Nyonya Anggrainj berusaha bertahan meski telinga sebelahnya mendengar tangisan dari kedua putranya.


"Ma jangan nentang gitu, Ma, mama harusnya introspeksi diri, Ma." Radit menjadi penengah di antara mama dan papanya.


"Silahkan dilanjut Pak Muhtar yang terhormat," sindir Anggraini dengan wajah menantang.


"Egois semua," sentak Bima tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2