
POV ALMIRA
Hai otakku...apa kabar kamu? pagi ini aku sudah memberikan vitamin untukmu, sholat shubuh berjamaah, mengaji bersama Bu Puguh, dan sekarang memetik sayur di kebun. Semoga jaringan otakku semakin baik dan tak oleng lagi.
Hai Otak, udah dong kapasitas buat memikirkan hal yang gak pemtimg dikurangi. Aku capek. Aku ingin hidup normal tanpa ada pikiran negatif pada seseorang. Bantulah aku mengubah pola piki agar menjadi gadis idaman seperti kata mamaku.
Kamu tahu wahai otak, aku sangat merindukan mama, tapi dalam genggamanmu aku jadi berpikir mama pasti tak sudi merawat anaknya yang gila. Mama pasti kecewa dengan kondisiku. Mama pasti kecewa harapan memiliki anak gadis yang cantik dan cerdas pupus sudah.
Ayolah otak, buat pikiranku tenang. Aku ingin memikirkan hal yang baik pada setiap orang tapi selalu di ujung peristiwa bisikan menyesatkan muncul, tolong dong, kalau ada jaringan yang membuatku berpikir negetif getok aja, biar sekalian putus.
Eh kalau putus aq hidup gak ya?
Hufh....Aku meletakkan keranjang sayur ke tanah, matahari sudah menyingsing, suasana hangat sangat terasa. Aku berjongkok, sembari memukul pelipisku, seakan membantu otak menggeplak pikiran negatif.
"Selain otak, hatiku juga tak pernah lapang," gumam Almira sambil megurut dadanya, seakan berbicara pada hati agar membantunya terbebas dari ganjalan sakit hati.
Hai hati, lapangkan dirimu, agar aku bisa memiliki hati yang luas dan ikhlas, serta siap akan apapun yang terjadi. Apalah diriku saat ini? hatiku gampang menciut, bahkan selalu was was bila bertemu dengan siapa pun.
Hai hati dan otak.....bantu aku untuk sembuh. Oke!!!
"Al!" panggil Mbak Ira, membuyarkan lamunanku. "Iya, Mbak?" jawabku dengan mendongakkan kepala.
"Dih...daritadi dipanggil juga, ada dokter Ibram di ruang tamu, minta ketemu!"
Heran, kenapa dokter Ibram datang sepagi ini. Apa ada hal yang penting? atau melarangku bertemu papa hari ini.
Hufh....aku menghela nafas berat, oke hati dan otak gak boleh suudzon, mungkin dokter Ibram kangen sama aku. "Iya, Mbak, sebentar!"
Aku menyerahkan keranjang sayuran pada Mbak Ira, membasuh tangan terlebih dulu baru berjalan menuju ruang tamu tempat dokter Ibram berada.
"Cie ...senengnya ketemu calon suami," goda Lila yang berhasil menghentikan langkahku, alisku mengerut, bingung dengan candaannya.
"Calon suami? suaminya siapa, Lil?" tanyaku menanggapi.
__ADS_1
"Mbak Al lah, dua cowok selalu tanya ke Bunda, Kang dokter dan Kang Aqil," celoteh gadis cerewet yang sudah rapi dengan seragam SD nya. Aku melongo, Kang dokter? dokter Ibram maksudnya?
"Sembarangan!" protesku sembari mencoel pipinya sebelum menemui dokter Ibram. Jantungku berdegup kencang, takut saja kalau sampai hal buruk terjadi, misalnya kesehatan mentalku yang semakin buruk, maklum dokter Ibram tak lepas tanggung jawab.
"Assalamualaikum, Dok!" sapaku membuyarkan fokusnya pada tablet, sekilas kulihat ternyata yang dibaca seperti jurnal kesehatan. Dokter muda itu hanya tersenyum lalu menjawab salam.
"Duduk, Al. Gimana kabarnya pagi ini?"
"Alhamdulillah, baik Dok!"
"Betah sepertinya ya tinggal sama Ibu?" tebak dokter ganteng itu sembari meletakkan tablet dan menatapku intens.
"Betah, Dok. Di sini rame. Banyak kegiataanya juga," jawabku jujur. Aku mulai bisa membedakan hidupku sebelum tinggal di pondok dengan sekarang. Kalau di rumah dulu hidupku monoton sekali, tapi kini tidak. Aku bisa khusyuk beribadah, bermain voli hampir tiap hari bersama anak pondok di sore hari setelah mereka pulang sekolah, berkebun bahkan mencuci pakaianku sendiri. Hobiku sekarang bukan lagi menyelesaikan soal matematika ataupun fisika, tapi desain. Aku memilih keterampilan dalam menggunakan komputer saja selain voli, karena aku sudah punya laptop dengan spek yang mumpuni untuk desain, bahkan Kang Aqil memberikanku projek membuat cover buku. Katanya sih untuk dijual ke rekan kampusnya. Selain itu kalau malam aku menjadi tutor anak-anak mengerjakan PR, lumayan bisa berbagi juga.
"Masih sering was-was?"
Aku mengangguk, memang hati tak bisa ditebak, kadang lupa kalau aku ini depresi dan perlu terapi kadang melow sendiri di kamar dan bisa menangis sampai sesenggukan. "Kapan was-was kamu muncul?"
"Ooe berarti kamu sudah mempunyai solusi agar was-was kamu berkurang kan?"
Aku mengangguk, sedikit demi sedikit aku mulai menemukan solusi untuk sembuh, salah satunya menyibukkan diri hingga aku capek dan segera tidur. Sehingga tak perlu diam dan memikirkan yang tak penting.
"Lalu apalagi keluhan yang kamu rasakan?"
Aku menghela nafas berat. Aku harus bilang, aku sudah tak mau memyembunyikan keinginanku, aku harus bersyukur karena Allah memberikan mulut untuk bicara, jangan sampai tak digunakan. "Aku ...aku kangen mama!" tak perlu dikomando, air mata seketika menetes dan apa yang kulihat, dokter Ibram tersenyum tipis. Aneh saja, pasiennya otw kumat malah diberi senyuman, manis sih cuma bukan itu harapanku.
"Lalu?"
"Aku ingin bertemu dengan mama, tapi takut."
"Apa yang kamu takutkan?"
"Takut beliau marah, kecewa bahkan menolak bertemu denganku. Bahkan aku di sini beliau tidak menjenguk atau sekedar telpon atau mengirim chat."
__ADS_1
"Menurut siapa?"
"Ya sesuai pikiranku, terbayang sudah sikap beliau nanti bila bertemu denganku," ini yang masih belum bisa aku hilangkan, pikiran negatif pada mama yang kuakui memang penyebab depresiku. Rasanya sudah menancap di otak, mama ogah denganku.
Dokter Ibram mengangguk, mengambil tabletnya kembali lalu menulis di suatu form, mungkin mencatat perkembangan diriku hari ini. "Mau membuktikan?"
"Membuktikan apa?"
"Apa yang ada di pikiran kamu tentang dokter Anggraini, berani?"
Aku terdiam, hatiku mulai was-was, mendadak jantungku berdegup kencang, dan tanganku menggenggam seketika, berkeringat pula. "Ca-caranya?" tanyaku terbata.
"Kirim chat!"
"Sekarang?"
Dokter Ibram mengangguk, "Tapi kalau gak dibalas?"
"Kamu mencoba mengendalikan emosi dan menekan was-was kamu butuh berapa hari?"
"Banyak hari pastinya, bahkan sampai hari ini pun aku belum berhasil."
Dokter Ibram duduk tegak sambil menjentikkan jari, "Begitupun dengan chat kepada mama kamu, tak cukup hanya sekali. Ibaratnya gini, kita usaha..soal hasil urusan belakang. Allah tidak akan melupakan usaha kita. Apalagi menuju kebaikan."
"Kebaikan apa?"
Dokter Ibram berdecak sebentar, gemes mungkin denganku yang mendadak lola. "Kebaikan dengan menjalin silaturrahmi kepada orang tua, Almira!"
Aku tertawa sebentar, tingkah beliau menggemaskan juga. "Gak usah senyum manis, nanti ada yang meleleh."
"Siapa?"
"Kang Dokter, Dek Al!" ledek beliau sembari memegang dada, layaknya orang sakit hati karena ditolak cinta.
__ADS_1