MENTAL

MENTAL
BERBALAS PESAN


__ADS_3

"Mbak?!"


"Aku mau tidur, Dit," pamit Almira yang sudah memejamkan mata dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga dada. Radit hanya menghela nafas berat, masih butuh kesabaran ekstra agar sang kakak bisa kembali terbuka padanya.


Radit sengaja membahas Pak Sultan, siapa tahu Almira akan tertarik dengan topik itu, tapi nyatanya berakhir sedih. "Tidurlah, Mbak. Aku dan papa yang menemanimu hari ini."


Radit pun rebahan di sofa sembari bermain ponsel, saat fokusnya pada akun instagram tiba-tiba di pop up ponsel muncul nama Pak Sultan. Ia langsung bangkit, mengatur nafasnya yang mendadak menderu keras, melirik sebentar pada ranjang pasien sebelum membalas pesan itu.


Me: Waalaikusalam, Pak. Ada yang bisa saya bantu.


Pak Sultan SMA_PJOK: Dit, Mbak Al gimana?


Radit menarik rambutnya kasar. Bagaimana bisa selama dua bulan ini, ia tak bersinggungan dengan Pak Sultan, baik di sekolah maupun chat kini beliau berkirim pesan. Sedekat itukah hati guru muda itu dengan sang kakak? Meskipun dekat, Radit juga tak mau mengumbar kesehatan sang kakak pada orang lain.


"Bismillah, semoga aku tidak salah ketik," gumam Radit yang kemudian membalas pesan pak gurunya.


Radit: Mbak Al baik, Pak, Alhamdulillah


Ia menghembuskan nafas berat setelah kirim balasan tersebut, ingin mengatakan sedetailnya keadaan Mbak Al tapi ini orang lain, yang belum tentu memberikan dukungan apalagi Pak Sultan tampak menganggumi Almira, bagaimana reaksinya kalau tahu Almira stress begini.


Pak Sultan: Besok temui Bapak di ruangan ya, saya tunggu jam istirahat pertama.


"Apa mungkin Pak Sultan sudah curiga dengan keadaan Mbak Almira ya?" gumam Radit yang masih menatap room chat dengan Pak Sultan.


"Dit," panggil Almira lirih. Sontak saja Radit kaget bahkan sampai latah.


"Eh...Pak Sultan, iya!" latahnya sembari memegang dada. Ternyata sang kakak sudah bangun, dan menatapnya penuh selidik.


"Kamu bilang apa tadi?" tanya Almira penasaran.


"Gak bilang apa-apa, Mbak Almira kenapa bangun?" tanya Radit sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Biasa, tidur gak nyenyak. Papa mana?" Almira layaknya orang normal, masih berkomunikasi seperti biasa.


"Papa pulang, ambil laptop mungkin."


"Bilang gak usah balik, Dit. Kasihan Papa."


"Gak pa-pa kali, Mbak. Kita kan memang berniat jaga Mbak."

__ADS_1


Almira menggeleng, "Kasihan papa, aku udah banyak repotin, tapi belum bisa balas apa-apa."


Radit menatap Almira intens, mode sensitif mulai. Kondisi sang kakak memang belum stabil, moodnya seperti roller coaster. "Kenapa sih, mikirin balas budi sama papa, Mbak? Udah kewajiban papa membiayai kebutuhan anaknya, apalagi kalau sakit kayak gini."


"Mbak emang selalu repotin orang tua ya, Dit. Mbak belum bisa buat bangga mama dan papa." Jiwa insecure Almira muncul dengan derai air mata. Radit tak tega, ia pun segera memeluk sang kakak erat seperti halnya yang dilakukan sang papa tadi sore.


"Mbak, kalau kamu punya masalah bilang dong sama Radit, kita pikir sama-sama. Mbak selalu kasih uang saku ke Radit, sekarang giliran Radit membalasnya."


Tangisan Almira terdengar sangat pilu, bahkan Radit pun ikut menangis. "Apa yang Mbak Al rasakan sampai berpikiran Mbak Al belum bisa membahagiakan mama dan papa?"


"Mbak gak mau kuliah dokter, Dit. Mbak ingin mundur," ucapnya di sela-sela isakan tangis. "Mbak capek, mbak gak kuat dengan tugas-tugasnya."


"Kenapa gak pernah bilang sih, Mbak tuh harusnya berontak, sekali-kali melawan sama mama. Iya kalau mama benar, mama tuh salah, terlalu maksa."


Keduanya terdiam kemudian, isakan tangis masih terdengar. "Sekarang Mbak Al cerita, dari awal apa yang membuat Mbak Al sampai stress seperti ini."


"Aku gak stress, tapi aku gila, Dit."


"Iya kalau Mbak Al nangis, sedih terus gak mau cerita sama aku, sama papa, sama dokter Ibram, Mbak jadi gila. Mau?"


Almira menggeleng.


Almira melotot, tak lama kemudian ia tertunduk malu, "Kenapa jadi bahas Pak Sultan?"


"Ini udah malam loh, Mbak. Kalau aku cerita bisa begadang nih."


"Cerita aja, mbak udah sering begadang juga."


"Yakin?"


Almira mengangguk.


"Tapi janji ya, bakal cerita sedetail mungkin kenapa Mbak bisa nangis histeris dan stress gini?"


Almira terdiam, bibirnya tiba-tiba dilipat rapat seolah punya rahasia yang enggan dibagi. "Aku takut."


"Percaya sama Radit, gak akan ada yang benci atau mengancam Mbak Al kalau mau cerita."


"Kamu bisa melindungi, Mbak?" tanya Almira sendu, seakan meminta pertolongan agar dia lepas dari belenggu sesuatu.

__ADS_1


Radit mengangguk mantap. "Aku dan papa siap melindungi kamu dari segala macam gangguan."


"Baiklah, nanti aku cerita. Sekarang kamu ceritakan tentang Pak Sultan!" pinta Almira. Mimik wajahnya berubah berbinar, emosi dan nada bicaranya terdengar sedikit manja. Sudut bibir Radit terangkat, meski dalam hati ingin menangis. Mental sang kakak benar-benar mengkhawatirkan. "Dit, ayo ceritakan tentang Pak Sultan!" Almira menggoyangkan lengan Radit yang beberapa detik lalu sempat melamun.


"Ah... tunggu sebentar!" Radit mengusap sudut matanya lalu berbalik, mengambil ponsel yang tergeletak di sofa. Ia menunjukkan roomchat dengan Pak Sultan beberapa menit lalu.


"Apa dia khawatir sama aku?" tanya Almira antusias. Hati Radit semakin miris, bagaimana tidak wajah bahagia Almira terlihat jelas setelah membaca pesan dari Pak Sultan yang merupakan orang lain tapi bisa menarik kebahagian untuk Almira. Mungkinkah orang lain yang bisa memberikan kebahagian untuk Almira?


"Iya," jawab Radit sekenanya. Tak mau membuat Almira kecewa, meski dirinya sendiri belum tahu tujuan Pak Sultan mengirim pesan kepadanya.


"Beliau orang baik, tak sepatutnya menyukai orang gila seperti kakak."


"Mbak," tegur Radit tak suka kalau Almira mengaku gila.


"Mbak gak pantas kan, Dit sama Pak Sultan?" tanya Almira lirih, air mata kembali jatuh. Radit kembali menghela nafas berat, sungguh cepat sekali perubahan emosi Almira ini.


"Mau tahu pantas apa gak Mbak Al untuk Pak Sultan, aku WA beliau ya?" tawar Radit, ingin tahu juga respon Almira.


"Jangan, aku malu!" ujarnya sembari tersenyum dan menutup wajahnya dengan selimut. Radit terdiam lalu memeluk sang kakak, ia menangis. Depresi sang kakak sudah mendekati level akut. Sesak rasanya melihat tingkah pola Almira yang berlagak seperti anak kecil atau kadang menangus tak jelas.


"Dit, katanya WA Pak Sultan, kok kamu malah peluk kakak?"


Nah kan...baru beberapa detik lalu melarang WA, sekarang malah menyuruh. Ya Tuhan, syaraf dan jaringan otak sang kakak benar-benar ada yang konslet.


Radit: Kalau boleh tahu, Pak Sultan mau membahas apa? maaf kalau malam-malam begini kirim pesan.


Almira menatap tak sabar pada room chat itu, ia bahkan melotot dan menangkupkan tangannya seakan berdoa dan menanti balasan dari Pak Sultan. Radit terus memperhatikan gerak gerik sang kakak, dan ia semakin yakin kalau tidak segera dicari akar permasalahannya sang kakak akan menjadi penghuni tetap rumah sakit jiwa.


Ting


Mata Almira membelalak, tangannya reflek mengambil ponsel Radit, ia sangat bahagia seperti anak kecil mendapat permen. "Aku kangen Almira, Dit." Almira membaca balasan Pak Sultan dengan lantang.


"Dia kangen aku, Dit. Ya ampuuunn," ucapnya girang bahkan ponsel Radit dijatuhkan di ranjang begitu saja. Ia kegirangan, menangkup pipinya sendiri dan bibirnya merekah bahagia. Matanya berbinar, jangan lupakan pipinya yang merona.


Tak lama kemudian, Almira turun ranjang ia berjoget ria. Badannya diputar ke kiri dan ke kanan sembari berteriak, "Pak Sultan kangen aku. Yeayyyy, Pak Sultan kangen aku."


Melihat sang kakak seperti itu, Radit hanya terdiam terpaku. Tubuhnya seketika lemas, hatinya berasa diremukkan saat itu juga.


"Mbak Almira, gila!" gumamnya sembari menutup mata, diiringi dengan buliran air yang menetes begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2