MENTAL

MENTAL
CERITA MAMA


__ADS_3

"Kalau mama cerita mama tidak bermaksud apa-apa. Mama hanya menyampaikan apa yang mama rasakan selama ini. Tetaplah berbuat baik dengan nenek dan keluarga besar papa, janji?"


Bima mengangguk.


"Nenek memang tidak menyetujui pernikahan mama dan papa, karena mama bukan berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Mama bisa menjadi dokter karena beasiswa, bahkan sampai ambil spesialis juga berkat beasiswa. Mama pikir, sudah menjadi dokter dan proses spesialis bisa meluluhkan hati nenek dan keluarga besar papa, ternyata tetap dan rasanya memang tak akan pernah baik."


Nyonya Anggraini juga menceritakan bagaimana sang ibu mertua memberikan kalimat pedas yang langsung dikatakan di hadapan dirinya. "Mama tak pernah bilang ke siapapun termasuk papa. Ya namanya keluarga apalagi ibu tentu papa kamu sedikit banyak akan membela nenek. Mama pun disuruh sabar dan sabar, tak usah dimasukkan hati. Papa juga sudah menegur tapi tetap saja kalau sudah tidak suka mendarah daging, selamanya akan seperti itu. Mama sakit hati, Bim. Tapi mama sangat berusaha tampak baik-baik saja, agar keharmonisan keluarga besar utuh. Tekanan yang dialami mama sungguh berat, oleh sebab itu anak perempuan mama jangan sampai merasakan seperti mama."


"Oh...makanya mama bersikap sangat disiplin pada Mbak Almira?" tebak Bima tepat sasaran.


"Iya, dan mama salah. Mama lah penyebab Mbak Almira depresi seberat itu."


Bima mengangguk, "Mama memang salah. Mama kan dokter harusnya mempertimbangkan dulu baik buruknya psikis anak dengan sikap otoriter mama."


"Mama melupakan itu karena hati mama diliputi dendam."


"Benar sekali pelajaran agama ya, Ma. Kita sebagai manusia tidak boleh punya penyakit hati seperti hasud, dendam dan iri. Bahkan kita sendiri yang akan merugi."


Nyonya Anggraini tersenyum dan mengusap kepala Bima, "Pintar banget sih anak mama. Andai Mbak Almira seperti ka--"


"Eits....mama juga gak boleh ngomong gitu. Tiap anak dilahirkan istimewa, punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi mama juga gak boleh membandingkan atau menyamakan aku, Mas Radit dengan Mbak Al. Kita berbeda, tapi kita sama-sama sayang, sama-sama bisa sukses membahagiakan mama dan papa."


"Makasih, Dek. Mama pun sangat menyesal sekali dengan keadaan Mbak Al."


Bima memeluk sang mama, "Iya mama salah, jangan bikin Bima gila juga ya?" pintanya dengan nada menggoda. Nyonya Anggraini menepuk putra bungsunya antara bangga dan terharu, sangat dewasa sekali.


"Papa mungkin lagi tidak baik, Ma. Kalau mama mau cerita sama Bima saja."

__ADS_1


"Makasih, Dek!"


"Mama tahu, aku pun pernah berpikir enak kali ya sakit jiwa bisa diperhatikan sama mama dan papa. Tapi aku kok gak bisa gila juga," keluh Bima frustasi. Lah...anak ini gimana sih, ingin kok menjadi gila.


"Gimana sih, kamu pengen gila juga?"


"Awalnya, habis mama dan papa perhatian banget sama Mbak Al. Tapi Mas Radit bilang, kita gak boleh iri sama Mbak Al, kita harus mendukung Mbak Al berobat, dan membiarkan mama dan papa lebih fokus pada Mbak Al. Ya udah akhirnya aku mengalah saja, tapi namanya anak ya ma, aku juga ingin diperhatikan."


"Iya nanti mama perhatikan. Sekarang mama bisanya perhatian sama kamu dan Mas Radit saja, tapi tidak dengan Mbak Al."


"Kenapa?"


"Mbak Al masih takut sama mama, dalam ingatannya mama ini suka memerintah dan mengekang semua keinginan Mbak Al."


Bima mengangguk pelan, wajar kalau kakak sulungnya itu trauma bila berdekatan dengan mama. "Tapi aku yakin, Mbak Al pasti kangen sama mama."


"Kalau seandainya mbak Al sembuh apa yang akan mama lakukan?" tanya Bima tiba-tiba.


Nyonya Anggraini terdiam. Sebenarnya banyak angan yang ia harapkan bersama anak gadisnya, namun ia sadar sekarang tak mau menuntut berlebih. Ia ingin hidup berbahagia bersama ketiga anaknya saja.


"Cerita aja, Ma. Mama ingin apa?" desak Bima ingin tahu.


Sang mama hanya diam dan menundukkan kepala, tak berselang lama terdengar isakan beliau. "Mama hanya ingin Mbak Al sembuh, seperti gadis normal lainnya. Itu sudah cukup. Mama gak kuat, Bim. Mama gak kuat melihat Mbakmu kayak gitu." Luruh sudah air mata kesedihan yang selama ini tertahan. Satu-satunya orang yang berhasil membuat Anggraini mengungkapkan hatinya adalah Bima. Tak pernah terpikirkan dokter cantik itu akan meluapkan beban hatu pada anak bungsunya.


Inilah Bima dengan segala kedewasaannya, menemani malam sepi mamanya, memancing mama agar mau bercerita apapun masalah dan keinginan beliau. Sebenarnya ia tak sedewasa itu, hanya saja ada orang di balik layar kedewasaan Bima yaitu Radit. Meski tubuh Radit tinggal di rumah sakit, ia tak pernah absen chat adik bungsung. Remaja SMA itu terus membesarkan agar Bima sabar dan mengalah sebentar saja pada Mbak Al, dan Radit pun membujuk Bima agar ditemani sang mama saja dalam keseharian.


Radit tak setuju sebenarnya dengan keputusan sang papa yang melarang mama menjenguk Almira, sehingga dia memutar otak agar Almira tetap terjaga, tapi sang mama tidak terlalu sakit hati yakni mendekatkan beliau dengan Bima. Anggap saja, bagi perhatian anak. Biarkan papa dan Radit mengurus Almira, Bima hidup dengan perhatian mama.

__ADS_1


Radit juga yakin, sang mama sangat menyesal dengan sakitnya Almira, oleh sebab itu Radit mengetes menyesalnya mama dengan umpan Bima. Beruntung Bima bisa improvisasi dan berakhir mengorek cerita mama.


"Sebenarnya mama ingin Mbak Al seperti apa?"


"Kalau dulu mama ingin Mbak Al menjadi perempuan cerdas, anggun, cantik dan berwawasan luas. Mama tahu dia suka olahraga, dan mama setuju saja, hanya saja sebelum berolahraga dia harus memakai krim agar kulitnya tidak terbakar. Sampai segitunya yah mama dulu mengatur Mbak Al," ucap beliau dengan wajah sendu saat mengucapkan kalimat terakhir.


"Wajar sebenarnya seorang ibu mengharapkan putrinya secantik princess apalagi mama dokter kecantikan tentu akan memberikan pelayanan terbaik juga untuk Mbak Al."


Nyonya Anggraini mengangguk.


"Kalau Mbak Al sembuh mama mau melakukan apa?"


Mama tampak diam, ada ketidak percayaan moment itu akan terjadi. Pikiran buruk pun selalu muncul bahwa Almira tidak akan mau bertemu dengannya, dan nyonya Anggraini pun sekarang sudah harus mempersiapkan diri dan hati bila Pak Muhtar mengajaknya berpisah.


"Jangan gak percaya diri gitu dong, Ma. Mama harus yakin kita akan bersama kembali, Mbak Al pun segera sembuh. Jangan putus asa mamaku."


"Mama bukannya putus asa atau gimana, tapi memang kemungkinanya kecil. Mbak Al pasti benci banget sama mama."


Bima menggeleng, "Mama sok tahu deh, hem...tapi bisa jadi sih, mama kan judes dan jahat menurut Mbak Al."


"Ya ampun, Bim kok malah ngomong gitu sih," ujar mama tak terima. Sedangkan Bima hanya terkekeh.


"Mama mau tahu gak cara ampuh biar hati Mbak Al luluh dan mau dekat sama mama lagi?" tawar Bima dengan menaik turunkan alis.


"Apa?"


Tanpa diduga Bima malah merebahkan tubuhnya dan segera berselimut, "Besok pagi Bima kasih tahu, sekarang tidur dulu, Ma. Ngantuk!" lah...nyonya Anggraini di-PHP Bima, dasar!

__ADS_1


__ADS_2