
"Saya gak tahu permasalahan pastinya apa, siang itu Almira secara mengejutkan mengirim pesan ke saya, seperti ini," Pak Sultan menunjukkan room chat Almira dengannya, Radit sangat kaget pasalnya ketika awal Almira masuk rumah sakit, kamar, ponsel dan laptopnya dicek satu per satu, mencari petunjuk penyebab depresinya Almira namun semuanya nihil, tak ada petunjuk apapun dari barang pribadi Almira. Tapi sekarang room chat dari Pak Sultan membuktikan bahwa Almira sangat tertutup pada keluarganya.
"Ini beneran Mbak Al?" Radit tak percaya melihat jajaran kalimat yang dikirim Almira pada Pak Sultan, begitu panjang dan beruntun.
"Cek aja foto profilnya," pinta Pak Sultan meyakinkan Radit, bahkan beliau menyerahkan ponsel kepada muridnya begitu saja. Dengan canggung, Radit pun menerima lalu membaca curhatan sang kakak.
Pak, aku malu.
*Tadi mama ke sekolah dan sempat berdebat dengan Bu Endang, mama memaksa saya untuk mengambil jalur undangan di kampus jas kuning. Almira gak sanggup, otak Almira gak sampai kalau harus ambil kedokteran.
Pak tandanya orang sukses itu bagaimana? punya banyak uang?
Pak, maaf kalau saya hanya memanfaatkan Pak Sultan sebagai tempat curhat*.
Radit membaca seksama percakapan antara sang kakak dan pak gurunya. Lagi-lagi, mama menjadi topik curhatan Almira. Radit semakin meyakini otoriternya mama inilah yang membuat Almira depresi.
"Bukannya saya mau ikut campur kepentingan keluarga kalian, Dit. Hanya saja ada rasa gak terima kalau Almira diperlakukan seperti itu. Memang saya masih mengenal Almira di permukaan saja, tapi mengetahui ungkapan hatinya saya bisa menyimpulkan hidup Almira apa kata mama kalian tanpa ada bantahan, benar?"
__ADS_1
Radit mengangguk, apa yang dikatakan Pak Sultan memang benar. Hidup Almira selama ini sepenuhnya diatur mama, dan dirinya tinggal menjalani. Dipikir anggota keluarga lain, Almira fine-fine saja diperlukan seperti itu, tapi nyatanya tekanan batin, dan lebih parahnya orang lain yang tahu.
"Kamu laki-laki, Dit. Kalau kamu pernah menyukai seorang gadis dan gadis itu merasa tersiksa dengan keadaan, apa yang akan kamu lakukan? diam?"
Radit menggeleng, pikirannya blank seketika. Dadanya semakin sesak karena sangat tidak perhatian dengan sang kakak. Ia tak bisa mendalami perasaan Almira lebih dalam.
"Begitupun dengan saya, Dit. Saya sangat menahan untuk tidak mendekati Almira baik di sekolah maupun di luar, karena Almira mengaku tidak punya teman atau sahabat. Terpaksa saya hanya bisa memberi perhatian dan membesarkan hatinua via chat atau telpon, setelah dia menandatangani surat pernyataan jalur undangan saya menemaninya menangis. Bayangkan hampir sejam saya hanya mendengarkan dia menangis, hati laki-laki mana yang tega, Dit." Pak Sultan menceritakan kondisi saat itu dengan mata berkaca, ia bisa merasakan betapa tertekannya Almira hidup dengan orang tua toxic seperti itu.
"Saya ingin sekali menemui orang tua kalian, meminta izin untuk menikahi Almira agar dia bisa hidup sesuai keinginan dan cita-citanya, kalau orang tua kalian gak bisa biar saya saja yang membahagiakannya. Saya sanggup, Dit."
Radit terdiam, sudut matanya sudah siap meneteskan air mata. Harusnya kalau ia mempertemukan Pak Sultan dan papanya, mungkin sang papa akan merestui juga. Orang laki-laki tulus yang siap membahagiakan putrinya. Radit merasa malu, sebagai adik ia tak berguna sama sekali dibandingkan Pak Sultan.
Dirasa sudah cukup mendengar cerita Almira versi Pak Sultan, Radit pun hanya tersenyum tipis, "Sebelumnya saya berterimakasih atas perhatian Bapak pada kakak saya, saya juga memaklumi akan perasaan Bapak, sangat manusiawi bila seorang guru menganggumi atau bahkan memiliki perasaan lebih pada muridnyaz terlebih Anda sangat menjaga kedetakan di lingkungan sekolah. Meskipun begitu saya masih belum bisa mengatakan tentang Mbak Almira, maaf."
Pak Sultan mengangguk, "Gak pa-pa, saya tidak memaksa kamu untuk mengungkapkan apa yang terjadi sebenarnya. Saya memaklumi itu, tapi buat hati saya tenang, tolong jawab pertanyaan saya, Almira baik?"
Radit menggeleng, "Saya hanya bisa mengatakan Mbak Almira tidak oke. Kami sebagai keluarga masih berusaha untuk memberikan perlakuan istimewa terhadap Mbak Al," jawab Radit tegas, dan sangat dewasa sekali. Bohong kalau dia tidak tertekan, bohong kalau dia bisa santai, justru sekarang kepalanya serasa mau pecah memikirkan pola tingkah sang mama.
__ADS_1
"Gila?" tebak Pak Sultan tepat sasaran, bahkan manik mata Radit spontan gelagapan.
"Bukan, kenapa juga Pak Sultan menganggap seperti itu."
"Almira sudah sangat frustasi, beban hidupnya sungguh berat dengan tuntutan mama kalian. Almira dilahirkan untuk menjadi wanita sempurna versi mama kalian," suara Pak Sultan mendadak kesal.
"Saya tahu itu dan kami baru menyadari pola asuh mama yang salah."
"Saya juga gak bisa menyalahkan mama kamu, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk putra putrinya."
Radit mengangguk, "Saya dan papa akan berusaha semaksimal mungkin agar Mbak Al kembali oke."
Sultan hanya tersenyum, mengangguk setuju meaki hatinya sangat merindukan perempuannya, terlebih sang adik mengakui bahwa Almira memang sakit.
"Saya harap kamu sekeluarga bisa saling support untuk Almira, Dit. Belum terlambat kok, ajak dia bicara dari hati ke hati, insyaAllah akan lebih baik. Masalah sebelumnya apalagi menyangkut mama kalian pending dulu lah, saat ini sudah tidak berguna mencari siapa yang salah siapa yang benar, yang penting setelah berdebat kasih solusi.".
"Kalau menurut Pak Sultan, sebaiknya Mbak Al bagaimana?" tanya Radit yang otaknya lagi butuh asupan ide mengatasi sang kakak.
__ADS_1
"Ajak dia ke tempat yang sejuk atau padang rumput, agar dia fresh, ah...kalau ide paling ekstrem, nikahkan aku dengan Almira, saya sanggup."
Radit tertawa, sudah berapa kali pak gurunya itu mengungkapkan perasaan dan niat menikah muda. "Kalau jodoh tidak akan ke mana, Pak!" goda Radit yang dijawab tertawa ngakak dari Pak Sultan.