
Maaf
Satu kata yang tertulis di surat pertama dan itu memang goresan tinta sang mama. Tadi, sebelum keluarga Almira pamit, Bima sengaja meminta antar ke kamar mandi, sedangkan papa dan Radit masih berbincang serius dengan Bu Puguh dan Kang Aqil, kebetulan malam itu dokter Ibram sudah tidak ada di pondok.
Saat sudah berdua, Bima menyerahkan beberapa surat yang dilipat dengan rapi dan diberi tanggal. Adik bungsunya itu juga berpesan kalau Almira membuka surat itu harus berdasarkan tanggal.
Malam ini, di kamarnya Almira mulai membuka surat dari sang mama. Surat paling awal saja sudah berisi kata maaf. Almira langsung merasa sesak dan air mata mudah sekali turun.
Surat kedua berisi kalimat yang sangat menyentuh dan Almira sudah sesenggukkan tak karuhan.
Mbak, mama minta maaf.
Mbak, mama tidak bisa menulis apapun selain permohonan maaf.
Mbak, kalau mbak sudah memaafkan mama, mama ingin sekali bertemu dengan Mbak Al.
Almira melepas surat itu, kepalanya sudah tertenduk lesu. Masih dengan tangis, ia menunduk lemah, sungguh kalimat yang ditulis sang mama berhasil mengoyak hatinya. Sakit dan menyesal begitu yang Almira rasakan.
Setelah menguasai emosinya, tangannya kembali membuka surat selanjutnya, baru kalimat pertama saja Almira kembali menangis.
Mbak, gimana kabar kamu? mama kangen, kangen banget sama kamu. Tapi mama sadar, Nak. Mama memang tidak pantas mendapat maaf darimu. Tak apa. Yang penting Mbak Al sehat ya.
Mbak mama mau kasih sesuatu sama kamu, mama sangat menyesal akan sikap mama selama ini. Suatu hari bila kita bertemu mama akan bilang mama akan kasih kebebasan sama kamu, Mbak. Mbak boleh menentukan hidup kamu sendiri, teman, kuliah, Everything. Meskipun bisa dikatakan terlambat, tapi mama yakin kamu akan menerimanya. Mama sayang kamu, Mbak.
"Ya Allah, mama!" gumam Almira pilu. Tak menyangka saja sang mama bisa berubah seperti ini. Kadang seseorang baru merasakan menyesal ketika orang kesayangannya telah pergi. Almira yakin sang mama telah berubah, namun ia masih tak mau bertemu dengan mama saat ini. Egois diri masih muncul, Almira ingat dulu sang mama selalu mendoktrin bahwa perempuan harus mandiri dalam segala hal, jangan pernah menggantungkan kepada orang lain, meskipun suamimu kelak.
Bagi sang mama perempuan hebat dan sukses adalah yang punya finansial mandiri dan banyak, itulah definisi perempuan hebat nyonya Anggraini. Oke Almira akan mewujudkan keinginan sang mama menjadi perempuan hebat.
Almira mulai searching pekerjaan yang menghasilkan uang banyak, berbagai artikel memuat trik dan tips mendapat uang banyak, salah satunya menjadi konten kreator.
Zaman sekarang, perkembangan IT memang melaju sangat pesat, apapun yang berhubungan dengan IT dapat dimanfaatkan sebagai penghasilan. Otak cerdas Almira mendadak ingat pada Kang Aqil, sepupu dokter Ibram itu sedang menempuh magister bidang IT.
__ADS_1
Terlintas ide untuk belajar bersama Kang Aqil, toh Almira yakin pemuda ganteng itu mau mengajari. Keterampilan komputer di pondok juga yang pegang beliau.
Sip, Almira girang. Ia pun kembali menelurusi pencarian mengenai konten kreator dan sejenisnya.
*****
"Kang, aku mau tanya sesuatu," ucap Almira ketika keduanya baru selesai keluar dari musholla pondok siang itu. Keduanya berjalan beriringan namun masih dengan jarak wajar. Sebenarnya aturan di pondok tidak melarang lawan jenis berkomunikasi hanya saja tetap ada batasan jarak dan kalau bisa tidak berduaan di tempat sepi, khawatir muncul fitnah.
"Tanya apa, tumben?" Kang Aqil terheran melihat Almira yang tersenyum ramah dan berani juga jalan beriringan dengannya.
"Kang, kemarin aku baca di artikel kalau kita menekuni hal yang berbau IT bisa menghasilkan uang juga ya, apalagi sekarang aplikasi sosial media sangat mendukung."
Kang Aqil tertawa lebar mendengar celotehan gadis cantik di sebelahnya. "Benar juga sih, emang mau ngapain?"
"Aku mau cari uang, Kang. Aku sudah punya laptop yang lumayan speknya tinggi," bangga Almira dengan polosnya. Cara bicaranya saat ini tidak menunjukkan bahwa dirinya mahasiswa kedokteran semester 3 loh, dia hampir sama seperti Lila kalau menginginkan sesuatu, merengek manja.
"Buat apa? Kang Aqil dengar papa kamu punya perusahaan tambang."
Seketika itu Aqil berhenti dan menatap gadis yang berhasil mencuri perhatiaannya. "Emang uang kamu mau buat apa?"
"Apapun lah, punya uang banyak tuh bisa ngapain aja. Orang yang punya banyak uang pasti bahagia," cetus Almira dengan jelas. Kok rasanya Aqil tiba-tiba ilfeel dengan penjelasan Almira barusan yah. Ia pun harus mengoreksi keinginan hati untuk menyukainya lebih dalam. Hatinya sangat tidak suka dengan perempuan matre.
"Kang Aqil gak bisa!" ucap Aqil tiba-tiba, perubahan mimik tak suka sangat kentara membuat Almira terpaku dan tak melanjutkan jalan beriringan. Ia hanya menatap punggung Kang Aqil yang masuk pondok utama dengan tanda tanya besar, "Kok responnya gitu?"
Tak mau ambil pusing dan larut dalam kecurigaan pada sikap Aqil, Almira masuk ke aula pondok putri setelah meletakkan mukenah di kamar. Biasanya anak-anak setelah sholat dhuhur banyak yang berkumpul di aula, sekedar melepas penat setelah pulang sekolah ataupun hanya rebahan sambil ngerumpi. Almira juga terbiasa ke aula setiap siang, membawa laptop dan bercengkrama dengan anak pondok putri.
"Mbak Al tiap hari semakin dekat nih sama Kang Aqil," goda Intan, salah satu anak pondk putri kelas 3 SMP yang kata Lila juga naksir berat dengan Kang Aqil.
Almira mencebik gemas, anak SMP kok sudah berani menggoda, apa kabar hatinya nih semisal Almira menjawab iya nih aku lagi dekat sama Kang Aqil.
"Enggak, Tan. Mbak Al cuma tanya tentang masalah komputer aja sama Kang Aqil, kenapa? hayo cemburu ya?"
__ADS_1
Intan sudah senyum gak jelas, dengan wajah merona, namun bibir dan tangan menolak mengakui. "Enggak, kata Bunda anak kecil gak boleh pacaran kok," elaknya malu-malu.
"Emang apa sih bagusnya Kang Aqil kok banyak yang suka?" tanya Almira sambil menopang dagu, percayalah banyak teman adalah salah satu terapi untuk kesembuhan Almira. Dengan banyak interaksi Almira bisa mengalihkan pikiran negatifnya dan juga teman dan lingkungannya tidak toxic saja.
"Ganteng, baik, cool, terus mata elangnya ya Allah, Intan gak kuat....ups!" gadis remaja itu sontak menutup bibirnya, keceplosan, mengakui dong kalau dirinya naksir Kang Aqil padahal tadi mengelak. Dasar bocil. Sedangkan Almira hanya tertawa terbahak-bahak melihat Intan yang salah tingkah.
"Dih, Mbak Al. Rahasia kita ya, jangan sampai Mbak Dena dengar, bisa mati aku."
"Kok gitu?" tanya Almira heran, karena setahunya di pondok ini tingkat menghormati dan menghargainya tinggi. Tidak ada bully membully ataupun adu mulut, tak ada yang mentang-mentang sama sekali.
"Katanya Mbak Dena mau nembak Kang Aqil tapi gak tahu kapan, bahkan Mbak Dena meminta Pak Liknya untuk melamar Kang Aqil."
"Ouh My God, beneran, Tan? bohong kali?" ledek Almira yang tak mau langsung percaya, apalagi dengar ocehan Intan yang masih anak SMP.
"Dih, gak percaya. Lihat aja beberapa hari ke depan. Lagian nih...." Intan sengaja menggantung ucapannya, toleh kanan toleh kiri memastikan tidak orang yang di dekatnya, sepertinya dia akan menceritakan sebuah rahasia.
"Kalau Pak Lilnya Mbak Dena orang punya, kaya begitu, jadi masih pantaslah kalau melamar Kang Aqil."
Almira hanya mengerutkan dahi, ini anak kecil ngomong apa sih, apa otaknya masih oleng sehingga tidak bisa mencerna maksud ucapan Intan.
"Kalau Mbak suka sama Kang Aqil harus berjuang extra!" ucap Intan sambil mengepalkan tangannya memberi selamat. Almira tak kuasa menahan tawa, anak remaja ini lucu sekali.
"Idih ogah, Mbak Al daripada mengejar Kang Aqil mending ngejar uang," cetus Almira yang kembali fokus pada laptopnya.
"Uang?Aku mau? ajak aku dong buat dapat uang banyak?"
"Buat apa kamu uang banyak? masih kecil loh!"
"Buat melamar Kang Aqil," jawab Intan sambil nyengir tanpa dosa.
Glodaaaaggg.
__ADS_1