
Sambungan video call dengan Bima masih berlangsung, adik bungsunya itu merengek lebih tepatnya memaksa sang kakak untuk pulang. Katanya rumah sepi, Radit sering latihan basket hingga pulang malam, sang mama sedang sibuk seminar di luar kota.
"Ayolah, Mbak Al!" rayunya sekali lagi. Namun Almira bergeming, tak tega sebenarnya, tapi dirinya masih ingin menggali potensinya. Almira sudah merancang ketika kembali ke rumah ia akan menentukan langkah selanjutnya. Yang pasti ia akan keluar dari kedokteran, ia akan mengambil disiplin ilmu yang lain sesuai passionnya.
"Atau kamu ikut ke pondok," tawar Almira meski agak konyol. Tentu ditolak Bima, bagaimana dengan sekolahnya.
"Yang benar sajalah, Mbak. Sekolahku gimana, seminggu loh rumah sepi."
"Ya aku gak mau pulang dulu, Dek. Banyak hal yang sedang Mbak kerjakan!"
"Kerjakan apa? emang Mbak udah sembuh?" sedewasanya Bima pasti ada sisi kekanak-kanakan yang ucapannya kelewat jujur.
"Mbak sih udah merasa sembuh, banyak hal yang Mbak pelajari di sini."
"Apa? bukannya monoton ya, gak keluar ke mana-mana dan hanya orang-orang itu saja."
__ADS_1
Almira menggeleng, memang dirinya tidur di kamar sendiri, namun ia jarang menyendiri. Almira memilih berkumpul dengan anak pondok, Bu Puguh, bahkan dengan pekerja di Lapak, ia mengingat saja perlahan emosinya agak stabil karena berdekatan dengan banyak orang dengan banyak cerita dan pengalaman. "Banyak kok, justru hidup Mbak lebih berwarna di sini ketimbang di rumah dulu. Nanti kalau Mbak sudah waktunya pulang, Mbak akan mengubah rumah kita lebih berwarna."
"Ya udah sekarang aja," Bima masih membujuk namun Almira menggeleng.
"Mbak belum siap menemui mama, Dek!" ucap Almira sendu, setiap pembahasan tentang mamanya mendadak ingin menangis, ingin memeluk beliau dan ingin marah juga.
"Kenapa? Mbak Al trauma banget ya bertemu sama mama, apa surat dari mama kemarin belum bisa mengobati trauma Mbak Al?"
Almira mulai menangis, tapi segera ia hapus. Ia sedang di dekat lapangan voli, tak mau saja ada anak pondok lain ingin tahu masalahnya. "Mbak Al masih takut, Dek. Rasanya kalau mengingat mama, hanya air mata dan lelah yang Mbak rasa."
Bima terdiam, ia menatap lekat kakak perempuanya dengan iba. Hatinya sebenarnya tak suka bila Almira dijauhkan dengan keluarga, tapi mau bagaimana lagi, papa dan mamanya lebih mendengarkan saran dokter yang menganjurkan Almira healing di lingkungan yang berbeda, dan menyatu dengan alam, dan Alhamdulillah sudah menemukan hasil. Almira sudah lebih stabil, sudah kuat mikir tentang langkah yang akan diambil ke depannya meskipun rasa was-was, takut dan trauma masih ada.
Sedikit demi sedikit, Almira secara tidak sadar ia sudah belajar menjadi dewasa yang tidak bergantung pada titah sang mama. "Mbak tahu, tapi namanya hati, mana ada yang tahu. Hati mama gak tahu, begitupun dengan hatiku, nantilah kalau Mbak sudah lahir batin sembuh, Mbak akan pulang. Mbak janji akan cerita apapun dengan Bima."
"Mbak," panggil Bima dengan menatap intens wajah ayu sang kakak. " Jangan membenci mama ya, mau bagaimanapun sikap mama dulu tolong maafkan mama."
__ADS_1
Hati Almira mencelos seketika, ingin rasanya ia menangis sekencang-kencangnya, berteriak ke alam lepas dan mengatakan mamanya tidak salah hanya hatinya saja yang lemah hingga depresi seperti ini. "Mama gak salah, Dek!" lirih Almira dengan bibir bergetar menahan isak tangisnya, "Setiap orang tua akan melakukan yang terbaik untuk anaknya, termasuk mama untuk kita. Tapi tolong beri waktu Mbak untuk menenangkan hati, pikiran, emosi agar mbak kembali menjadi Almira yang lebih baik lagi. Bima percaya kan kalau Mbak Al akan menjadi orang yang lebih baik lagi?"
Bima menunduk, menyembunyikan air matanya. Ia sayang dengan sang kakak, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa, ia hanya bisa sebagai mak comblang untuk anak dan ibu yang masih ada tembok pemisah. "Mbak hanya butuh doa dan dukungan dari kamu, Radit, papa, dan mama."
Bima mengangguk, tak kuasa mendengar permintaan sang kakak. Bima hanya takut saja, trauma yang dialami Almira bisa terbawa sampai kapan, meski ia juga mendengar perkembangan sang kakak semakin membaik. "Jaga mama, sampaikan salam kangenku pada mama ya, maaf belum bisa bertemu."
Bima mengangguk kuat, dan tak lama Almira mengucap salam lalu memutus sambungan video call tadi. Begitu layar ponsel menggelap, tubuh Bima dirangkul erat oleh seseorang yang sedari tadi duduk manis di depannya, Nyonya Anggraini mendengarkan percakapan kedua anaknya, dan selama itu pula air mata terus menetes. Bima sengaja berbohong pada Almira agar sang mama bisa mendengar suara Almira.
Kondisi Almira saat ini tentu tak pernah ia sangka dan prediksi, trauma Almira begitu kuat seakan sudah mendarah daging.
"Jangan memaksa Mbak mu lagi, Bim. Biarkan dia hidup sesuai keinginan hatinya, biarkan dia menikmati bahagianya yang selama ini mama renggut." Nyonya Anggraini semakin kuat memeluk Bima, anak bungsunya inilah yang menguatkan dirinya saat ini. Hanya Bima dan terkadang Radit yang masih peduli dengan kehadirannya. Sang suami memang tidak melanjutkan urusan pisah tapi sikap dinginnya tak bisa dielakkan. Ucapan Pak Muhtar masih ketus dan enggan berbicara dengan dirinya, bahkan beliau lebih memilih tidur di kamar Almira daripada bersama Nyonya Anggraini.
"Aku kasihan sama mama!" inilah yang dirasakan Bima juga, melihat mamanya yang lebih banyak diam dan tak secerwet dulu, membuat Bima ingin tahu isi hati sang mama yang sebenarnya. Setiap berbicara dengan beliau, tampak dalam sorot matanya sebuah kerinduan pada anak perempuannya, dan berusah dihempaskan. Bima tahu mamanya memendam semua itu sendiri, tak mau anak dan keluarganya tahu apa yang ia rasakan. Toh, kalau mengeluh rindu, sang papa langsung menyindir Gak usah rindu, Almira begini karena ulahmu.
"Bima tahu mama kangen sama Mbak Al, Bima tahu mama sakit hati karena sikap papa yang ketus. Mama bilang sama Bima, Ma. Jangan sok kuat!"
__ADS_1
Nyonya Anggraini mengurai pelukan pada si bungsu, menyingkirkan anak rambut Bima yang sedikit menjuntai menutupi dahinya, "Sesakit-sakitnya mama karena sikap papa masih bisa mama abaikan, tapi kerinduan pada Mbak Al sangat membuat mama terpuruk."
Nyonya Anggraini kembali menangis, bahkan tubuhnya luruh di dekat meja. "Mama sangat merindukan Mbak Almira. Tiada hari tanpa mengingat wajahnya, mama menyesal Bim, sungguh. Kalau papa akhirnya menceraikan mama, tak apa. Hubungan suami istri bisa putus karena sudah tidak ada keihklasan dalam menjalaninya, tapi tidak untuk hubungan ibu dan anak, jangan sampai mama terputus dalam jangka waktu yang lama. Mama gak sanggup, Bim!"