MENTAL

MENTAL
OBROLAN DUA PRIA DEWASA


__ADS_3

Kepala Pak Muhtar penuh dengan Almira. Baik permintaannya, perasaan yang diungkapkan pada Bima, bahkan menyangkut pria bernama Aqil. Tentu sebagai orang tua, Pak Muhtar memikirkan hal itu, mau berdiskusi dengan sang istri juga tidak mudah. Beliau masih ingat betapa sang istri mendominasi akan keputusan rumah tangga dulu, hingga Almira menjadi korban.


Oke, semalan berpikir, tak meminta pendapat Radit beliau memantapkan hati untuk menghubungi dokter Ibram. Hanya dengan dokter muda itu bisa berbagi, apalagi dokter Ibram sangat tahu perkembangan mental sang putri.


"Sudah menunggu lama Pak Muhtar?" tanya dokter Ibram dengan menyalami beliau.


"Ouh barusan tiba kok, Dok!" balas Pak Muhtar dengan ramah dan menyilahkan dokter Ibram duduk. Keduanya pun segera memesan menu makan siang.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak Muhtar?" dokter Ibram siap membuka obrolan, pasti ada hal penting yang akan disampaikan.


"Banyak, dokter. Bahkan saya sudah pusing memikirkan sendiri semalam."


Tentu dokter Ibram bingung, masalah seberat apa memang. Toh hampir tiap minggu laporan perkembangan kesehatan Almira disampaikan, dan indikasi sembuh. "Masalah dengan Almira?" tebak beliau dan diangguki oleh Pak Muhtar.

__ADS_1


"Kemarin kita bertemu, tentu dokter juga tahu. Saya memang melihat putri saya sudah berbeda. Sudah lebih dewasa dan lebih tenang. Tapi bila menyangkut dokter Anggraini, rautnya berubah. Apakah dia masih ada rasa takut dengan mamanya?" laporan kesehatan Almira memang detail pada perkembang psikis dan sikap Almira selama berinteraksi dengan orang pondok. Tapi bila menyangkut mama tidak sedetail itu, dokter Ibram memang tidak mau memaksa Almira menceritakan dan menentukan sikapnya pada sang mama, dirinya hanya sebatas tahu Almira masih takut dan belum berniat mengembalikan kondisi hubungan keduanya.


"Iya, Almira masih menyimpan rasa takut pada dokter Anggraini, dan memang dia seperti putus asa. Raut wajahnya memang berbeda bila saya kaitkan dengan dokter Anggraini."


Pak Muhtar mengangguk, beliau terdiam sebentar karena pelayan mengantarkan minuman yang dipesan. "Kedua adik Almira sudah protes, memintanya pulang."


"Lalu? Pak Muhtar mau mengajak Almira pulang?" dokter Ibram serius menanggapinya. Wajar juga namanya saudara, kakaknya sudah dianggap sembuh tentu ingin kembali berkumpul.


Dokter Ibram terdiam sebentar, "Harus cepat atau bisa menunggu dalam beberapa hari?"


"Saya sebenarnya tidak mau memaksa Almira, tapi saya juga tidak bisa melarang keinginan kedua adiknya."


"Bagaimana dengan dokter Anggraini?" dokter Ibram sempat curiga, sejak pembahasan tadi nama istri Pak Muhtar tidak dilibatkan.

__ADS_1


Pak Muhtar terdiam, sejujurnya ia tak mau masalah dengan istri harus dikonsumsi dokter Ibram juga, cukup masalah Almira yang perlu diketahui. "Nyonya Anggraini pasti akan setuju."


Lagi-lagi, dokter Ibram terdiam, mengamati raut Pak Muhtar yang sepertinya memang bermasalah dengan sang istri. Namun dokter Ibram juga tidak memiliki hak mencampuri urusab rumah tangganya. Di sini, dokter Ibram hanya bertugas mencari solusi untuk Almira bukan konsultan pernikahan. "Pak Muhtar maunya bagaimana?"


"Almira tetap di pondok sampai benar-benar sembuh, dan bisa menerima kehadiran sang mama dengan sendirinya."


"Kondisi mental Almira memang tidak bisa sembuh 100%, ada kalanya dia akan merasa down bila merasakan kejadian yang membuat trauma. Almira bisa cepat berubah saat di pondok, karena dalam benaknya pondok adalah tempat aman dan nyaman bagi dirinya. Dia bisa berekspresi, main voli dengan anak pondok, memasak, berkebun bahkan menjadi guru. Kunci utama agar kondisi Almira stabil adalah membiat dirinya nyaman dulu."


"Saya tahu, dan prosesnya pun berjalan secara perlahan. Saya pun berpikir kalau mendekatkan dia dengan sang mama juga harus perlahan. Khawatirnya dia langsung drop karena tidak beradaptasi dulu."


Dokter Ibram mengangguk setuju, "Almira membawa ponsel kan, saya coba untuk terapi menggunakan ponsel."


"Caranya?" tanya Pak Muhtar penasaran.

__ADS_1


__ADS_2