MENTAL

MENTAL
MEMILIH BERTEMAN


__ADS_3

Almira terpaku seketika. Tak berani menoleh ke arah Aqil yang masih duduk santai di lapangan voli. Jadi Aqil tahu kondisi dirinya?


"Kamu khawatir kalau aku tahu kondisimu yang sebenarnya. Enggak, Al. Aku terima kamu apa adanya, karena aku yakin kamu hanya lelah dan jenuh akan kehidupanmu sebelumnya."


Masih dengan membelakangi Aqil, Almira pun membalasnya, "Kita bagai langit dan Bumi, Kang. Aku tak mau menjalani hubungan dengan status yang timpang. Bukan masalah materi atau apa, tapi kesehatan mental. Aku khawatir kamu tak sanggup menerimanya suatu saat nanti. Maaf, dan permisi."


Almira bukan tipe orang yang mau menggantung perasaan orang lain, dan tak bangga sama sekali bila disukai lawan jenis. Bagi Almira sekarang bukan urusan cinta yang harus ia rasakan tapi kesehatan mentalnya yang segera disembuhkan. Hanya dari dalam diri Almira-lah, gangguan mental bisa dilawan.


Sejak malam itu, Aqil terlihat menghindari Almira. Ia masih tak terima saja ditolak. Wajar sih, meskipun usianya lebih tua beberapa tahun dari Almira, pemuda itu belum mempunyai hati yang lapang untuk menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.


"Ponakan Budhe ngeselin ya, Al?" tanya Budhe saat keduanya sedang belanja ke pasar pagi itu. Menikmati segarnya udara di pagi hari, sembari berjalan kaki dan mengobrol tentang Aqil. Sebenarnya Bu Puguh gemes dengan kelakuan Aqil yang bersikap jutek bila berpapasan dengan Almira, sok gak kenal padahal background laptopnya saja masih wajah Almira yang diblur.


"Ngeselin kenapa Budhe?" tanya Almira tak tahu. Memang ia menganggap sikap Aqil biasa saja, tak peka kalau pemuda itu memang menghindarinya.


"Kamu sadar gak sih, Al. Aqil tuh sedang menghindari kamu, setiap Budhe tanya gimana udah PDKT dengan Almira, eh dia malah sewot. Heran, katanya suka tapi gak langsung ekskusi keburu diambil orang."


Almira tertawa, semakin dekat dengan ibu dokter Ibram ini semakin tahu kalau beliau blak-blakan dan asyik. Sangat terbuka dan ekspresif, pantas saja banyak anak pondok yang dekat dan tak sungkan untuk curhat.


"Almira udah menolak ponakan Budhe loh," ucap Almira sembari membantu Bu Puguh memilih ikan apa saja yang akan dibeli.


Ditolak? kok baru tahu? Bu Puguh melepas ikan yang akan ditimbang, menoleh pada Almira. Kaget. "Eh tungu-tunggu, Al." Beliau fokus pada belanja ikan dulu, 'Bang, timbang 5kg ya."


Setelah urusan ikan, ayam, telor dab daging selesai. Beliau menyempatkan belanja kebutuhan cuci mencuci. Seperti kebiasaan, belanja mingguan pasti di pasar, lebih murah tentunya.


Kini sembari berjalan kaki pulang, obrolan tentang Aqil kembali dibahas, "Kamu menolak Aqil? serius?"


Almira mengangguk saja. "Apa alasannya kalau boleh tahu?"

__ADS_1


Almira menoleh sekilas lalu tersenyum tipis. "Merasa gak pantas saja disukai oleh Kang Aqil."


Bu Puguh hanya mengangguk kecil, saat tahu Almira menolak, terbersit alasan inilah yang memang Almira rasa. "Budhe marah sama Al?" tanya Almira khawatir.


Dengan tegas, Bu Puguh menggeleng, "Tidak. Sungguh. Budhe sangat menghargai keputusan Almira. Budhe tahu kamu pasti berpikiran itu, tapi pesan Budhe jangan larut terlalu dalam, untuk saat ini mantapkan hati untuk kembali sehat, dan suatu saat nanti kamu tidak boleh rendah diri pernah mengalami hal ini."


Almira tersenyum lalu mengangguk, inilah yang disukai dari sosok Bu Puguh, begitu bijak dalam menasehati. Sudut pandangnya cukup adil, tidak memihak kedua pihak padahal Aqil keponakannya.


"Selain itu Almira juga merasa bersalah dengan seseorang. Beliau sudah menemani Almira di titik terendah saat itu, tapi sekarang Almira yang memutus komunikasi."


Bu Puguh paham, Almira bukan tipe anak yang gampang move on. Wajar, dia didik dengan gaya hidup monoton dan tak mau mencoba hal baru atau keluar zona aman. Termasuk urusan hati, suatu saat nanti ia akan menemui Pak Sultan, mengajak beliau bicara dari hati ke hati.


"Pak Sultan?"


Almira mengangguk. "Setiap Kang Aqil memberikan perhatian pada Almira, maka saat itu juga bayangan Pak Sultan hadir."


Langkah keduanya sudah semakin dekat di pintu gerbang pondok, Bu Puguh berhenti sejenak lalu menepuk pundak Almira, "Kamu wanita baik. Kamu sangat bisa menjaga perasaan orang lain. Budhe salut kamu sudah tegas pada Aqil. Budhe memang berharap kamu dengan Aqil, tak peduli dengan keadaan kamu, karena di mata Budhe kamu gadis normal dan sangat klop bila lanjut dengan Aqil."


"Apa mau Budhe lamar untuk dokter Ibram saja?" goda Budhe yang membuat Almira sontak menggeleng.


Lain Almira, lain Aqil. Hari itu ia berniat bolos kuliah, ia hanya rebahan di kasur sembari mendengarkan lagu galau.


"Ditolak bikin malas nih," goda Budhe yang melongokkan kepala saat pintu kamar Aqil terbuka sedikit. Ternyata tak direspon, karena telinganya disumbat dengan earphone.


"Patah hati," ledek Bu Puguh sambil menepuk kaki Aqil. Sontak saja pemuda itu mendelik lalu terduduk, kaget saja ada yang masuk tanpa ketuk pintu.


"Budhe!" serunya kaget.

__ADS_1


Bu Puguh tertawa lalu duduk di ujung ranjang. "Kamu kenapa gak kuliah? katanya ada janji di kampus?"


"Aqil batalin, Budhe. Capek."


Bu Puguh tertawa, "Capek hati ya," goda Bu Puguh lagi dan diangguki Aqil.


"Baru suka sama perempuan, langsung ditolak. Sakitnya tuh di sini Budhe," ujar Aqil sok manja sambil meremas dada kirinya. Lebayyy.


"Gak usah suka perempuan kalau ditolak aja langsung dunia berakhir," saran Bu Puguh.


"Terus aku harus suka laki? Ogah."


Bu Puguh spontan menepuk betis sang ponakan, gini amat kalau menyimpulkan, "Ya gak juga, Qil. Astaghfirullah. Kalau suka sama cewek itu PDKT dulu jangan langsung tembak. Sudah tahu Almira begitu, langsung jedor aja, keok juga kan."


"Budhe ke sini mau meledek atau meneduhkan hati Aqil sih?" sewotnya tak terima. Ekspektasinya ia akan dibantu, di-mak-comblangi dengan Almira, eh tahunya malah diledek. Kesel gak?


"Jadi laki jangan cengeng, sok sok an menghindari Almira tapi foto desktop masih Almira juga."


"Belum sempat ganti aja, udah move on kok."


Bu Puguh mengangguk, "Pantas sih Almira tolak, cinta kamu cetek banget. Baru juga beberapa hari ditolak udah move on, yang benar saja!"


"Heran deh sama perempuan, dibilang gagal move on cewek masih banyak di dunia ini, dibilang sudah move on dikatakan cintanya cetek. Ya Allah Tuhan, kenapa perempuan seribet ini."


Bu Puguh tertawa puas. Sosok ponakan kulkasnya ini memang begitu manja padanya, sikap dingin dan pendiam hanya ditampilkan di umum saja, kalau bersama sang Budhe, manjanya anak SD saja kalah.


"Ganti jalur dong," usul Bu Puguh setelah berhenti tertawa. "Buktikan kalau kamu memang serius tidak melihat kondisi Almira yang sebenarnya."

__ADS_1


"Caranya?"


"As friend, next year or next lainnya to be wife!" saran Bu Puguh sebelum meninggalkan kamar Aqil.


__ADS_2