
Almira merasakan suasana rumah sangat sepi, kedua adiknya mungkin sudah masuk ke kamar masing-masing, maklum sudah hampir 10 malam. Almira terpaksa keluar kamar, karena ia merasa gelisah saat memejamkan mata. Sudah tiga bulan ia tidak menempati kamarnya, hawanya terasa berbeda, apalagi bayangan dirinya menangis kala itu. Sungguh perang batin yang ia rasakan.
Berniat mengambil air minum di dapur ternyata, Bik Ratmi masih berkutat urusan dapur. "Belum tidur, Bi?" tanya Almira dengan suara lembut. Mungkin sudah malam dan sepi, Bi Ratmi kaget saja ada suara yang memanggilnya. Terlebih sudah lama anak majikannya ini tidak tinggal di rumah.
"Gusti Pengeran, Mbak Al bikin kaget saja!" ucap Bik Ratmi sembari mengelus dadanya. "Mbak Al butuh apa, sini Bibi bantu?"
Almira tersenyum sebentar lalu menggeleng, melangkahkan kakinya ke arah lemari es dan mengambil botol air minum. "Cuma mau minum kok!"
"Ouh kirain tidak bisa tidur," tebak Bik Ratmi sembari meneruskan pekerjaannya. Menata piring dan gelas yang sudah kering ke lemari, dan mengelap kitchen set.
"Iya itu juga, Bi."
Bik Ratmi yang memang seorang janda beranak satu merasa iba dengan anak majikannya ini. Belum sembuh benar akan gangguan mental dihadapkan dengan kenyataan keluarga yang sepi tanpa perhatian orang tua. "Mbak Al, takut tidur sendiri? Mau Bibik temani?"
Bi Ratmi sadar ia hanya seorang ART tapi tak tega juga dengan keadaan Almira sekarang. Ia tak mau berbuat jahat dengan membiarkan anak majikannya berpikir sendiri.
"Almira boleh tidur di kamar Bibik saja?"
Bi Ratmi sontak mengerjapkan mata, tak pernah terpikir anak majikan akan meminta tidur di kamar seorang ART. Bukan karena kecil atau kotor, tidak. Keluarga Pak Muhtar memperlakukan ART dengan sangat baik, bahkan kamar ART dan sopir sangat layak. Tapi Bi Ratmi sungkan saja anak majikan tidur di kamarnya, nanti kalau Pak Muhtar tiba-tiba pulang takut marah.
"Gak boleh ya, Bi?" tanya Almira membuyarkan lamunan Bik Ratmi.
"Hah...oh...Bo..Boleh, tapi...nanti kalau tuan...."
__ADS_1
Tampak Bik Ratmi khawatir Pak Muhtar akan marah bila putrinya tidur di kamar ART. "Papa tidak tahu kalau Al pulang, Bik."
Yah...Almira sempat menerima pesan dari dokter Ibram bahwa dokter ganteng itu telah mengirimkan pesan pada Pak Muhtar bahwa Almira pulang dari pondok bersama Radit. Gadis cantik itu pun yakin kalau sang papa tidak membaca pesan pak dokter, maklum kebiasaan papa tidak akan membaca pesan, beliau hanya menerima panggilan telpon.
Akhirnya, Bik Ratmi pun mengiyakan permintaan Almira. Dengan rasa canggung, Bik Ratmi mempersilahkan Almira masuk, beliau pun segera memukul kasur dengan penebah sebelum Almira menaiki ranjang. Sangat memperlakukan majikannya dengan istimewa.
"Bibik tak apa kan? Maaf kalau kasurnya jadi sempit?" Almira tak enak hati sudah nebeng tidur di kamar Bik Ratmi. Ia sadar kalau tidak segera tidur, maka banyangan peristiwa negatif muncul bertubi-tubi. Hingga dirinya down dan ketakutan. Mentalnya yang berangsur waras tak mau kembali ke setelan gangguan mental lagi. Sangat tersiksa memiliki gangguan seperti itu. Kalau saja iman tak kuat mungkin Almira sudah memotong urat nadi.
"Nona bisa tidur di kasur ini?" tanya Bik Ratmi yang akan menemani Almira hingga lelap. Beliau melihat mata sayu gadis cantik itu, mungkin tak lama lagi akan terlelap, pikir Bik ratmi.
"Gak pa-pa, Bik. Di pondok Al diajari mandiri dengan kondisi seadaanya. Bahkan kasur di pondok lebih kecil dari ini."
Bik Ratmi menganggukkan kepala, dipandanginya anak majikannya itu yang berusaha mati-matian untuk terlelap. Sekali menarik nafas berat, lalu menghembuskan pelan dengan mata terbuka, Bik Ratmi melihatnya. Dengan memberanikan diri Bik Ratmi mengelus puncak kepala putri Pak Muhtar itu.
Sebagai seorang ibu yang pernah merasakan jadi tulang punggung keluarga, tentu merasakan kesedihan Almira. Dulu anak Bik Ratmi sempat dibully karena miskin, sehingga hampir tiap malam Bik Ratmi akan memeluk sang anak agar membuat tenang. Begitupun dengan sekarang, ia akan mengambil peran Nyonya Anggraini dan Pak Muhtar, memberikan pelukan hangat untuk gadis cantik yang semakin keras menangis.
Sembari menepuk halus punggung Almira, Bik Ratmi terus meracau sabar mbak Al, mbak Al kuat, mbak Al harus bisa bangkit. Dengan telaten beliau menguatkan hati Almira, hingga setengah jam Almira akhirnya bisa mengontrol tangisannya.
"Makasih, Bik!" ucapnya sembari mengurai pelukan. Bik Ratmi hanya mengangguk, lalu menyodorkan segelas air putih untuk Almira. Sangat perhatian, begitupun beliau juga tak mau mengorek apa yang dirasakan Almira malam ini. Beliau memberikan kesempatan pada Almira untuk terbuka, memberikan kekuatan untuk berani mengungkapkan apa yang ia rasa.
Bik Ratmi ingat betul bagaimana guru BK anaknya dulu memberikan terapi secara lisan berupa motivasi membangun jiwa untuk senantiasa menanamkan positif thinking, dan juga beberapa nasihat salah satunya, diam, dengarkan, peluklah.
Terbukti, setelah Almira menandaskan air minum. Almira duduk bersila menghadap Bik Ratmi. Matanya semakin sayu, sebenarnya tak tega tapi Bik Ratmi membiarkan Almira untuk tetap terjaga.
__ADS_1
"Rumah selalu sepi begini, Bik?" tanyanya kemudian, isakan tangis masih terdengar dan Bik Ratmi menganggukkan kepala.
"Mama dan Papa gak pulang ke rumah ini?" sekali lagi Bik Ratmi menjawab dengan anggukan.
"Mereka kenapa sebenarnya sampai tega menelantarkan Bima dan Radit?"
"Bik Ratmi tidak tahu pastinya, Non. Apa pemikiran dan keputusan Tuan dan Nyonya. Hanya saja...," Bik ratmi menjeda ucapannya jangan sampai ia terceplos hubungan Pak Muhtar dan Nyonya. Ia khawatir Almira akan shock dan membuatnya down.
"Cerita aja, Bik. Aku mau semua orang yang ada di dekatku berkata jujur. Bantu aku percaya sama orang, Bik. Buat aku nyaman cerita sama orang tanpa harus menyembunyikan hal penting, apalagi menyangkut kepentingan hidupku."
Bik Ratmi mengelus kembali lengan Almira, beliau mengangguk saja. Mungkin Almira juga berhak tahu hubungan keluarga ini, tapi Bik Ratmi hanya mengambil cuplikannya saja. "Memang Nyonya sudah tidak tinggal di sini. Non...tapi Bibik gak mau setelah ini Non sakit lagi ya?" ada ketakutan tersendiri dalam benak Bik Ratmi, bukan kapasitasnya menjelaskan juga.
"Tenang saja, Bik. Aku kuat," janji Almira meyakinkan. Bik Ratmi pun mencerikan kondisi rumah ini pasca Almira tinggal di rumah sakit dan pondok, keadaan Bima yang sering ditemani nyonya Anggraini dan Radit yang semakin sibuk dengan kegiatan sekolah. Membuat rumah ini sepi dan tak ada kehangatan antar keluarganya.
"Mereka masih saja egois. Padahal bukti nyata keegoisan mereka aku hampir gila, tapi mereka mengulanginya. Membiarkan Radit dan Bima sendiri."
"Bahkan aku yakin Bima akan protes dengan sikap mama dan papa, karena ia pernah protes saat kita jalan di mall dulu. Wajar sangat wajar Bima protes, dia sedang mengalami pubertas, mencari jati diri tapi tak ada pemerhati. Mereka egois, Bik."
Bik Ratmi pun mengangguk, "Aku janji Bik, akan memberikan perhatian pada kedua adikku. Mulai detik ini aku tidak mau tahu urusan mama dan papa. Kalau mereka waras pasti ingat kebahagian anak-anak mereka."
Bik Ratmi tersenyum puas, memberikan kedua jempol untuk Almira yang memiliki tekad membahagiakan kedua adiknya, sebagai anak pertama tentu memperhatikan kedua adiknya adalah wajib.
"Bagus, Non. Setidaknya mulai sekarang, Non Almira tidak perlu memikirkan hal yang tak penting, tetap fokus bersama tuan Radit dan tuan Bima."
__ADS_1
Almira mengangguk setuju.