MENTAL

MENTAL
WE BETTER TO TALK


__ADS_3

Ckrek


Radit sengaja memotret pemandangan yang menyejukkan mata, bagaimana tidak...matahari sudah menghangatkan alam tapi dua adik kakak malah masih bergelung selimut dan memeluk guling. Bima dan Almira sedang tidur lelap usai Shubuh tadi hingga sekarang masih anteng. Radit sengaja masuk kamar Almira dan tersenyum melihat keduanya tidur dengan pulas.


Ia mengirimkan gambar itu pada sang mama. Yah ...mau bagaimana pun kondisi mereka sekarang, Nyonya Anggraini tak pernah absen untuk chat Bima dan Radit.


Mama ❤: Mbak Al di rumah?


Radit sempat membaca balasan mama yang memang sengaja dikirim foto Almira dan Bima, tapi ia tak berniat membalas. Biar sang mama semakin penasaran dan mau menjenguk rumah ini.


"Banguuuuuùnnnn Woooooyyyyy!" teriak Radit sambil merebahkan tubuhnya dengan kasar, bahkan tubuh Almira sampai mumbul.


"Gusti Allah!" Almira terkejut setengah mati. Ia terduduk begitu saja. Sedangkan Bima tak terganggu sama sekali. "Apaan sih, Dit!" langsung saja ia memukul sang adik dengan bantal.


"Bangun malesssss, ah lo Mbak tinggal di pondok masa' malas bangun!" omel Radit yang ikutan memejamkan mata. Mengeratkan pelukan pada guling yang sempat dipeluk Almira tadi.


"Ngeselin, kenapa sih jadi ke sini semua!" Almira mengomel, ia turun dari ranjang dan segera mengikat rambutnya.


"Lo bisa tidur tadi malam, Mbak?" tanya Radit yang mengamati sang kakak. Ia penasaran saja kesan pertama Almira tidur di kamarnya lagi.


"Tadi malam Mbak tidur di kamar Bik Ratmi, baru shubuh balik dan ditemani Bima!"


Radit mengangguk, sesuai tebakannya. "Takut?"


Almira menggeleng, "Bukan takut tapi bayangan menangis dan terpuruk kayaknya datang secara nyata aja."


"Perasaan lo sekarang gimana emang?"


"Biasa saja sih sekarang, sakit kayak gitu utu Dit, muncul secara dadakan. Kalau situasi nyaman tidak membuat aku tertekan aku mah gak kumat."


"Ya tapi tetap saja, lo harus belajar buat masuk ke zona tidak nyaman."


"Iya, pasti aku belajar."


Keduanya terdiam, Almira mengecek ponselnya namun Radit masih memperhatikan gelagat sang kakak. Ia tak mau kakak kesayangannya kesepian lagi. Apalagi kedua orang tua mereka rasanya lepas tangan memberi perihatan.

__ADS_1


"Lo buka ponsel gitu, emang ada chat dari siapa?" tanya Radit penasaran. Mau tau saja siapa yang bisa membuat Almira menyimpulkan senyum tipis.


"Ada lah, anak pondok sih. Sebelum di pondok aku kan gak punya teman!"


"Bingo! Jadi lo udah punya teman?" ledek Radit, bahkan ia sampai bersila menatap sang kakak. Ingin tahu apakah sang kakak sudah mulai terbuka.


"Punya."


"Siapa?"


"Yang ngechat?"


"Ck...." Radit berdecak sebal, karena Almira tidak to the poin. Sedangkan sang kakak, tertawa lepas melihat Radit yang kesal.


"Aku punya teman anak pondok, trus yang ngechat Kang Aqil dan dokter Ibram."


"Sampai mesam mesem gitu?"


Almira memicingkan tatapan pada sang adik, agak gak nyaman dengan pertanyaan barusan. Berasa Radit mengintrogasi dan mengintimidasi.


"Gak suka kenapa emang?" Radit pernah dikasih tahu dokter Ibram, pancing percakapan agar Almira mau mengungkapkan uneg-unegnya.


"Aku gak suka kalau kamu tanya dengan nada mencurigai, tanya itu baik-baik."


"Kasih contoh gimana tanya baik-baik versi kamu dong, Mba!" tantang Radit dengan nada mencibir.


"Emang Kang Aqil chat apa Mbak?" Almira menyebutkan satu kalimat tanya baik-baik itu seperti apa, dan Radit tertawa mendengarnya. "Kok ketawa sih, Dit?" kesal Almira.


"Enggak apa-apa, kamu hebat Mbak!"


Almira mengerutkan dahi, "Hebat? Kenapa?"


"Karena lo sudah bisa mengutarakan apa yang ada di hati lo!"


Almira terdiam, tak sadar dengan ucapannya. "Harusnya lo kayak gini dari dulu. Gak suka ngomong, suka bilang, jangan dipendam biar di hati lo gak punya beban!"

__ADS_1


Almira mengangguk, "Benar sih. Bu dhe Puguh, dokter Ibram juga bilang gitu. Dan emang lebih lega. Tapi aku juga kadang masih mikir, khawatir kalau ucapanku menyakiti orang lain."


"Pelan-pelan, yang penting lo udah berusaha buat bangkit."


"Makasih, Dit."


"Lo tahu Mbak, mama sudah tahu kalau lo lagi di rumah."


Almira menoleh dan menatap Radit sengit. "Lo yang bilang, Dit?"


Radit mengangguk. "Trus mama mau ke sini?" Almira gugup kalau sampai sang mama pulang.


"Gak paham juga, tapi lihat....," Radit memperlihatkan layar ponselnya yang tertera nama mama ❤ calling. "Dari tadi mau telpon tanya posisi Mbak mungkin. Boleh angkat?"


Almira terdiam lalu mengangguk, Radit pun segera menjawab dan sengaja meloudspeaker. Ia tahu Almira juga penasaran dengan apa yang akan dikatakan sang mama.


"Radit, kemana aja sih dari tadi gak jawab telponnya mama. Almira benar di rumah? Duh...mama kangen banget sama dia, Dit," cerocos beliau, Radit melihat raut sendu Almira. Entah apa yang dipikirkan sang kakak sekarang.


"Dit, Almira sehat?"


"Sehat, Ma. Bahagia banget juga."


"Alhamdulillah, mama seneng dengarnya. Mama memang yang salah," ucap beliau sendu dan sukses membuat Almira pergi. Gadis itu lebih baik menghindar, meski Radit sudah memberikan tatapan seolah bilang Mbak ayo belajar menyapa mama. Namun, melihat sikap Almira masih cuek, Radit tak mau memaksa.


"Mama gak mau mengajak Radit makan gitu di luar, mumpung weekend?"


"Boleh, sama Bima dan Almira coba."


"Yakin?"


"Harus yakin, Dit. Kalau dipikir-pikir we better to talk gak sih," Nyonya Anggraini meminta pendapat Radit.


"Aku sih yes, lebih baik duduk bareng dan kita ngobrol."


"Oke, ajak mereka ke Cafe Sweet Fam, bilang mau traktir, nanti mama tunggu di sana."

__ADS_1


"Siap, laksanakan!" jawab Radit mantap.


__ADS_2