
Pak Muhtar dan Radit menatap tak percaya kembali akan ucapan nyonya Anggraini. Baru beberapa menit lalu menyebut Al sebagai kelinci percobaan, sekarang berganti akan menjadikan Al sebagai gadis priyayi. Yang benar sajalah, tak ada darah biru yang mengalir dari kedua keluarga, baik dari Pak Muhtar maupun dari nyonya Anggraini.
"Jangan mengada, Ma. Mendidik anak gak usah dengan istilah aneh-aneh," tegur Pak Muhtar dengan nada kecewa. Sejak Al sakit, salah asuhan sang istri tampak jelas. Sang istri secara tersirat menuntut Almira sesuai ekspektasinya, dan itu salah. Anak zaman sekarang tentu berbeda dengan anak zaman dahulu. Anak zaman sekarang lebih suka berekspresi dan sebagai orang tua tugasnya membimbing, menasehati, dan mendoakan agar anak-anak tidak keluar dari jalan yang benar, bukan mendikte.
"Apa untungnya sih jadi gadis priyayi versi mama, mama sadar gak kalau cita-cita mama menjadikan Mbak Al priyayi malah berubah jadi gadis setengah waras?" Radit sudah tak peduli lagi dengan tutur katanya, kecewanya pada sang mama sudah di ubun-ubun. Baginya lebih baik dibuka semua aja kalau mau Almira sembuh.
"Radit, sekali lagi kamu ngomong Almira gila, papa gibeng kamu!"
Radit tersenyum sinis, "Yang satu gak mau mengakui anaknya otewe gila, yang satu gak mau mengakui perbuatannya telah membuat anaknya gila."
"Radit!!!"
Radit diam seketika, papanya benar-benar marah. Namun ia tak mau melewatkan moment ini, mumpung keduanya ada, harus dituntaskan mencari solusi sebelum sakitnya Almira semakin parah.
"Sekarang gini deh, Radit gak mau tahu tujuan mama bersikap seperti itu apa, tapi satu pertanyaan Radit buat papa dan mama, dan tolong dijawab."
"Gak usah mendikte mama."
"Lanjutkan, Dit."
Radit pun mengangguk, baru kali ini ia berani ngomong setegas ini pada kedua orang tuanya, terlebih pada sang mama. Kebetulan ketiga anak Pak Muhtar termasuk anak penurut tanpa protes berlebihan.
"Sekarang papa dan mama mau Mbak Al sembuh?" tanya Radit to the point.Tak usah berbasa-basi dengan orang tua yang masih menunjukkan keegoisannya.
"Jelas, Dit." Pak Muhtar yang menjawab lugas, tak mau saja anak gadisnya dikasihani keluarga besarnya.
"Mama mau?"
"Ya gak usah bertanya seperti itu, mana ada orang tua mau anaknya sakit."
__ADS_1
Radit mengangguk. "Oke....dengarkan saran Radit mau percaya atau tidak, mau mengikuti atau tidak yang jelas kalau mama dan papa lepas tangan dan mau mempertahankan ego, mau membentuk mbak Al sebagai gadis priyayi, terserah tapi ingat Radit gak akan tinggal diam, sudah cukup dia hidup dalam genggaman mama."
"Dit, mama-"
"Stop. Untuk saat ini mama dan papa tak perlu penjelasan apapun cukup dengarkan Radit saja dan harus menurut."
Pak Muhtar tampak diam saja, ia malah bangga melihat Radit yang usianya masih remaja bisa setegas itu. Jiwa kepemimpinannya muncul untuk melindungi saudara kandungnya. Berbeda dengan sang mama, setiap Radit ngomong berusaha dibantah.
"Lanjutkan saja, kalau mama gak mau dengar kita bicara di ruang kerja papa."
"Pa...kok papa malah bela Radit sih, dia sudah tidak sopan bicara kasar sama mama dan memotong ucapan mama."
"Kita bicara di ruang kerja papa, Dit!" Pak Muhtar sontak berdiri tanpa mempedulikan ocehan sang istri. Radit pun segera mengekori sang papa meski mama terus menyuruhnya berhenti.
"Sekarang bicaralah," pinta Pak Muhtar, beliau bahkan sudah mengunci pintu ruang kerjanya. Pasangan papa dan anak ini, duduk berhadapan dengan raut serius.
"Mbak Al tertekan dengan semua tuntutan yang diberikan mama. Mama memang tidak sadar akan hal itu. Radit tahu sendiri, Pa. Mbak Al diminta mama untuk yang terbaik di segala sisi. Sekolah, maupun prestasi lain, Radit selalu mendengar ketika kami diantar sekolah, Mbak...kamu harus menjadi yang terbaik, karena tumpuan mama pada kamu, anak gadis mama dan papa."
"Karena masa lalu mamamu," jawab Pak Muhtar singkat. Yah.....sambutan keluarga besar Pak Muhtar pada nyonya Anggraini dulu sangat membekas di benak beliau. Hal itulah yang mendasari sang istri mendidik Al begitu disiplin dan penuh tuntutan.
"Tapi ya gak gitu juga kali, Pa. Anak zaman sekarang mana ada yang mau pola didiknya kayak dulu."
"Ya kan itu mama kamu, papa apa selama ini ngekang kalian kan enggak, yang penting kalian tidak melakukan hal yang melanggar norma agama dan masyarakat. Sekarang kamu punya rencana apa."
"Yakin papa mau dengar?" tantang Radit yang sudah menyusun rencana jauh-jauh hari, meski masih maju mundur untuk ekskusi.
"Gak usah basa-basi, lebih cepat punya solusi lebih baik."
"Oke....pertama, kita harus menjaga full mbak Al. Mau tidak mau, pagi siang sore malam kita dari pihak keluarga harus di dekatnya, melihat langsung bagaimana dokter Ibram melakukan terapi. Toh kamar Mbak Al VVIP kan, lebih leluasa untuk menemaninya tidak terbatas jam besuk. Bagaimana?"
__ADS_1
"Boleh!"
"Kok papa langsung setuju, jangan awalnya aja menemani seminggu kemudian alasan kerja lagi," cibir Radit.
"Gampanglah, soal pekerjaan bisa dihandle Galih (asisten pribadi Pak Muhtar)."
"Huh...baru ada masalah berat saja menyerahkan sama mas Galih," Radit terus memojokkan sang papa. Biarkan mama dan papanya menyadari tanggung jawab sebagai orang tua tentu berat, mencari nafkah memang perlu tapi urusan anak juga penting dan tidak boleh diserahkan pada salah satu pihak.
"Papa sadar, Dit. Almira bisa begitu juga karena papa yang lepas tangan akan pengasuhan kalian, papa terlalu percaya sama mama, ya..papa menganggap mama seorang dokter pasti sudah punya teori pola asuh anak yang baik. Hufh...dokter juga manusia sih, pasti punya sisi kelemahan juga."
"Ya emang, kita tidak bisa menyalahkan mama saja meskipun mama memang yang paling banyak salah. Radit juga salah karena tidak bisa menjadi teman curhat Mbak Al."
Keduanya termenung sebentar, menyadari kesalahan masing-masing. "Ayo kita kerja sama, Dit. Pasti Almira cepat sembuh kalau kita perhatian sama dia."
"Iya, Pa. Kalau mama gak mau, kita saja yang mendampingi Mbak Al, dan memutus pola asuh yang ditanamkan mama."
"Kita mulai dari mana, Dit?"
"Kita menjalankan saran dokter Ibram saja, Pa. Kita tidak tahu kondisi psikis Mbak Al sekarang."
"Oke....nanti kamu ikut pertemuan papa dengan dokter Ibram, papa juga akan mengajak mama. Biar dia kebuka mindsetnya."
"Dit,"
"Iya, Pa!"
"Papa bangga sama kamu."
"Bangga kenapa? Radit gak sehebat mbak Al."
__ADS_1
"Mungkin mama menganggap keberhasilan seseorang dilihat dari keberhasilannya dalam hal akademik ataupun materi, tapi kalau papa beda, sikap kamu yang tegas, perhatian dengan saudara serta mau mengambil tanggung jawab mama dan papa, sungguh kamu benar-benar lelaki dewasa di usia muda." Pak Muhtar menepuk bahu sang putra, bangga dan bahagia, setidaknya ada hal yang bisa membuat beliau tersenyum di saat kondisi sang putri masih memprihatinkan.