MENTAL

MENTAL
SOLUSI LUAR BIASA


__ADS_3

"Loh kamu kok di sini?" tanya Bu Puguh heran dengan kehadiran sang putra. Ini masih pagi dan bukan menjelang weekend, tentu sangat mengejutkan bukankah harus ke rumah sakit.


"Cek pasien VIP!" jawab dokter Ibram sembari melirik Almira. Sedangkan si pasien hanya mengerutkan dahi, kok tumben cek kesehatan dilakukan di pagi hari.


"Loh siapa yang sakit?" tanya Bu Romlah ikut nimbrung. Posisi emak satu ini lumayan jauh, sedang mengadon tepung juga, kok bisa ikut-ikutan nimbrung.


"Neng Al memang sakit ya Bu Puguh?" lanjut Bu Cahyo juga ikut nimbrung. Namun Bu Puguh hanya tersenyum tenang.


"Dokter cinta ibu-ibu," sahut dokter Ibram yang langsung mengajak Almira keluar dari lapak. Menggiring pasien VIP nya ke aula tengah, setidaknya agak jauh dari pendengaran emak-emak hobi bergosip itu.


"Apa kabar?" tanya dokter Ibram setelah duduk dan mulai membuka sesi diskusi dengan Almira.


"Baik, tumben dokter datang di pagi begini. Ada apa? Almira merasa tidak ada masalah loh!"


Dokter Ibram tersenyum lalu menganggukkan kepala, Almira menunjukkan hasil postif, karena sudah mulai lancar bicara. Matanya juga tak terlihat sendu apalagi takut, untuk saat ini dia seperti gadis normal lainnya. Memang sakit mental tidak bisa diprediksi dengan pasti, tergantung pada lingkungan serta kemampuan si pasien untuk sembuh. Beruntung Almira memiliki keluarga yang sangat kompromi dengan pengobatan dan terapi, meski ada beberapa kendala.


"Kamu cerewet ya sekarang!" ledek dokter Ibram yang memang sudah dikatakan dekat dengan pasiennya ini.


"Cerewet diledek, diem diledek, apalagi nangis," sahut Almira dengan mencebikkan bibirnya. Tampak lucu di hadapan dokter Ibram.


"Terapi di sini berhasil dong!"


"Almira gak merasa terapi, Dok. Tapi di sinilah lingkungan yang diinginkan Almira selama ini. Ya mungkin di rumah Almira merasa bosan tapi gak berani ngomong. Kalau di sini, ada Budhe yang selalu open minded dan mau diajak diskusi apa yang ada di pikiranku. Meski kadang menyuruh tapi kesannya memberi tawaran saja, mau tidak aku melakukan.


Dokter Ibram merekamnya, tak menyangka saja Almira mengeluarkan beberapa kalimat dengan cepat, tanpa jeda bahkan nafasnya tampak tenang. Fix..sebenarnya Almira ini gadis cerewet, hanya saja dipaksa keadaan untuk tampil pendiam dan anggun.


"Lalu mau tinggal di sini terus atau mau mencoba tantangan selanjutnya?"


Almira tampak diam, ia bisa memprediski pertanyaan dokter ganteng itu, mungkin saja dokter itu menawarkan untuk pulang. "Tunggu dua bulan lagi deh, Dok!"

__ADS_1


Dokter Ibram tampak terkejut, Almira mau tinggal di sini dua bulan lagi, sedangkan kondisinya sudah sangat membaik. Ia sudah tidak mendapatkan laporan Almira berwajah sendu, mungkin pikiran insecure masih muncul tiba-tiba, namun ia sudah bisa mengendalikannya.


"Kenapa?"


"Pengen punya kemahiran tertentu, aku sudah tidak kuliah, otak cerdasku kangen dibuat mikir."


"Mau mencoba menjadi guru?"


"Kok dokter tahu?"


"Ibu tadi malam yang cerita. Kaget sih, agak tidak percaya juga kalau kamu telaten mengajari anak pondok."


"Dih...dokter, gak seneng nih pasiennya sembuh trus jadi guru."


"Enggak gitu, Al. Cuma yang membuat saya agak percaya alasan kamu mengajar saja."


Almira mengerutkan dahi, "Kenapa?"


Almira terdiam, "Tapi aku ingin punya uang yang banyak, Dok. Buat buktikan kepada mama kalau sukses tidak harus jadi dokter, punya uang gak harus jadi dokter."


Dokter Ibram tersenyum ternyata niatnya masih berhubungan dengan sang mama. Doktrin nyonya Anggraini memang luar biasa pengaruhnya. "Menurut kamu mindset mama kamu benar?"


"Salah."


"Kamu mau mengubah mindset yang salah?"


Almira mengangguk. Apa yang diajarkan sang mama hingga mendikte hidupnya tentu tidak benar. Setiap anak tentu punya kebebasan tapi tetap dengan pantauan orang tua.


"Almira merasa sampai sakit jiwa kemarin karena Almira merasa tertekan, merasa terlalu dikekang hingga tak memliki pilihan selain menurut. Mama tidak mengancam, hanya saja sorot matanya menunjukkan titah yang harus dipatuhi tanpa bantahan."

__ADS_1


"Kamu merasa dendam gak sama mama kamu?"


Almira hanya mengedikkan bahu, ia bingung apa yang ia rasakan sekarang. Dendam, kecewa, kangen bercampur menjadi satu. Tapi yang jelas dorongan untuk mematahkan keinginan sang mama sangat besar.


"Kalau kamu mau mengajar, diiringi dendam, dan obsesi untuk membuktikan kesuksesan kamu kepada mama, saya yakin apapun yang kamu kerjakan tidak akan membuahkan hasil. Kamu akan menuntut hasil yang instan dan pasti akan mengeluh bila tidak sesuai keinginan kamu."


Almira terdiam. Apa yang diucapkan dokter Ibram berhasil membuatnya berpikir ulang. "Lalu?"


"Niatkan saja mengajari anak-anak tanpa embel-embel cuan atau obsesi pada mama kamu, satu bulan saja kamu pasti merasakan hasil dari keihklasan kamu. Hasil yang kita dapatkan untuk menunjukkan kesuksesan bukan hanya berupa materi, tapi manfaatnya diri kita untuk orang lain, itu yang utama."


Almira menunduk lesu, ucapan dokter Ibram benar-benar menampar dirinya, kalau dipikir dengan seksama, obsesi kesuksesan versinya sangat bisa menjadikan dirinya seperti sang mama. Oh ia tidak mau, terlalu berat untuk menjadi seperti mamanya. Hidupnya terlalu banyak target dan ambisi.


"Mama jahat banget ya, Dok?" tanya Almira tiba-tiba. Namun dokter Ibram menggeleng. "Tidak ada orang tua yang jahat, siapapun orang tua akan melakukan hal yang terbaik untuk anaknya."


"Tapi mamaku..."


"Kamu anak cerdas, kamu anak baik tentu bisa menunjukkan orang tua yang baik versi kamu seperti apa anggap saja bekal kamu menjadi ibu nanti."


Almira melongo kok jadi meramal masa depan juga. "Benarkan? mama kamu mungkin punya alasan kuat bersikap seperti itu, mungkin saja karena pengalaman saat remaja, oleh sebab itu ukirlah pengalaman remajamu dengan tawa, bahagia dan cita-cita yang bermanfaat untuk orang lain."


Almira mengangguk saja, pembahasan serius seperti ini membuatnya dia pusing harus melakukan apa. Jujur saja, ia masih belum bisa memutuskan sesuatu dengan berani, nekat dan percaya diri. Terlalu pertimbangan akibat buruk bila ia memutuskan sesuatu.


"Dok, bantu aku..."


"Bantu apa?"


"Bantu aku mengambil keputusan yang terbaik untukku," lirih Almira dengan kepala menunduk, rasa tidak percaya dirinya kembali muncul.


Dokter Ibram menepuk pundak Almira, "Kalau saya bantu kamu mengambil keputusan sama saja saya mengekang keinginan kamu dong. Belajarlah mandiri, belajarlah berani mengambil resiko, karena di kehidupan nanti kita akan menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita."

__ADS_1


Almira kembali diam, menjadi dewasa memang hal sulit, perlu banyak pengalaman yang menguras hati dan emosi. Sakit mental yang ia alami bisa dijadikan pengalaman luar biasa dalam bertindak. Solusi kebahagian hidup memang yang menentukan adalah dirinya bukan orang lain.


"Saya yakin kamu bisa!" ucap dokter Ibram memberi semangat sebelum mengakhiri sesi diskusi dengan pasiennya yang menunjukkan hasil sangat bagus.


__ADS_2