
"Obat apa?" tanya Radit sembari mengulang video di detik yang disebutkan dokter Ibram, begitupun dengan sang papa melakukan hal yang sama, tapi tidak untuk sang mama. Beliau tampak santai lalu menutup video tersebut, "Itu bukan obat, tapi vitamin kecantikan."
Dokter Ibram mengangguk, wajar.. anak gadis beranjak remaja punya ibu dokter kecantikan pasti punya perawatan khusus termasuk suplemen kecantikan, toh saat pemeriksaan darah dulu, tak ada kandungan obat tidur maupun narkotika.
"Bu dokter ini perhatian sekali pada Almira, bahkan sampai perawatan kecantikan juga, hanya saja saya heran kenapa diminumnya saat tengah malam," dokter Ibram mengintrogasi kembali layaknya penyidik. Bolehlah bermain kata dulu, memuji ibu dari pasiennya lalu menanyai lebih detail terkait obat kecantikan itu.
"Mungkin dia lupa tidak minum sebelum tidur, kenapa sih dokter pertanyaannya seakan memojokkan saya?"
"Dokter Anggraini bisa saja, saya hanya ingin tahu keseharian Almira apa saja yang membuat dia depresi seperti itu."
"Dokter itu pinter gak seharusnya mencurigai saya, beda dengan anak dan suami saya yang gak tahu apa-apa main serang saya." Nah kan, nyonya Anggraini tak dewasa sama sekali, bisa saja dokter Ibram menyimpulkan dokter cantik itu memiliki dua kepribadian yang bertolak belakang, to be angel or devil.
"Sebenarnya wajar Radit dan Pak Muhtar berpikiran seperti itu karena selama ini bu dokter yang memegang kendali dalam pola pengasuhan Almira dan kedua adiknya. Sekarang saya mau kasus ini dibuka sedetail mungkin, masa depan Almira masih panjang kasihan kalau terus terkungkung dalam depresi."
Ketiganya mengangguk saja, terutama nyonya Anggraini sudahlah ia tak menuntut banyak sekarang, kondisi mental Almira tidak bisa ditekan, harapannya dalam memoles anak gadisnya sudah pupus, sekarang waktunya menuruti apa kata dokter.
"Minggu ini saya minta baik bu dokter, Pak Muhtar, Radit maupun Bima bergantian mengajak bicara Almira, entah direspon atau tidak,---"
"Dok, itu metodenya sudah dilakukan berulang-ulang kan, kenapa harus dilakukan lagi. Sebenarnya dokter Ibram ini kompeten apa gak sih, terlalu berlarut-larut!"
Dokter Ibram kincep mendadak, meyakini bahwa istri Pak Muhtar ini punya kepribadian ganda, sebentar baik, sebentar patuh sebentar berontak. Sikap seperti inilah yang menghambat keberhasilan terapi Almira.
__ADS_1
"Ma....mending keluar deh, daripada ribet terus. Apa salahnya sih mengulang dari awal. Dulu terapi ini memang pernah dilakukan, tapi ingatlah kondisi Mbak Al bagaimana, drop, stress dan hanya air mata responnya. Kemarin dokter Ibram sudah berhasil mengajak ngobrol apa salahnya sih kita juga membangun komunikasi dengan Mbak Al. Ribet banget, tinggal nurut apa susahnya sih, tukar tambah saja Pah!" ucap Radit sangat berani. Tak peduli bila tak dianggap sopan, sekarang bukan waktunya main-main. Kesehatan mental Almira poin utamanya.
"Punya anak kok gak ada yang berguna, yang satu stress yang satu durhaka!" nyonya Anggraini langsung mengambil tas dan beranjak pergi. Ketiga laki-laki itu tak ada yang menghalanginya, biarkan saja. Mungkin prioritas kesembuhan Almira bukan yang utama bagi nyonya Anggraini.
"Sanggup?" tanya dokter Ibram terkait tawarannya tadi.
"Sanggup, kami akan bergantian untuk mengajak bicara Almira, semoga kali ini sukses dan mendapat hasil yang memuaskan," ucap Pak Muhtar berharap.
"Aamiin!" balas dokter Ibram dan Radit kompak. Setelah berbincang-bincang mengenai kesehatan mental, ketiganya pun mengakhiri pertemuan siang ini. Radit dan Pak Muhtar menuju rumah sakit, sedangkan dokter Ibram pulang.
Hanya berselang beberapa menit, ayah dan anak tersebut sudah di depan kamar inap Almira. Radit mengetuk pintu terlebih dulu dan mengucap salam. Sahutan dari dalam menandakan Almira sedang ditemani oleh salah satu suter yang bertugas.
"Silahkan, Pak. Nona Almira baru saja selesai membaca buku," ucap suster yang bername tag Rina tersebut. Pak Muhtar hanya mengangguk, sedangkan Radit sudah duduk di ranjang pasien. Almira hanya menatap sendu Radit, ada raut ketakutan yang tampak. Namun Radit segera menggenggam tangannya dan tersenyum.
Almira terdiam, ia malah menoleh ke arah samping. Pak Muhtar sedang duduk di sofa memperhatikan interaksi Radit dan Almira. Sorot mata beliau tiba-tiba bersibobrok dengan Almira. Beliau pun mendekat, lalu mengelua kepala sang putri dengan sayang.
"Kamu mau apa? bilang, nanti papa belikan biar cepat sembuh!" tawar Pak Muhtar dengan menatap wajah sang putri. Ingin sekali menangis, tapi ia harus kuat di depan kedua anaknya. Sekuat-kuatnya laki-laki akan rapuh juga bila melihat keadaan anaknya seperti ini. Dikatakan normal, secara fisik normal. Dikatakan gila juga tak juga salah.
Almira tersenyum lalu menggeleng. "Al capek, Pah!" jawabnya lirih, sontak keduanya takjub. Tak hanya dokter Ibram yang bisa berkomunikasi dengan Almira sekarang, tapi dirinya juga bisa meskipun suara sang putri sangat lirih.
"Capek kenapa? cerita dong sama papa!"
__ADS_1
Almira menggeleng, "Al takut!"
Gadis itu mulai terisak, Pak Muhtar sudah tak sanggup, beliau langsung memeluk erat sang putri. Menepuk punggung Almira dengan lembut, membiarkan putrinya terisak, meski nanti tak mau bicara lagi, biarkan. Usahanya dilakukan bertahap, melihat kondisi Almira yang belum stabil.
Radit? pemuda itu beberapa kali menyeka air di sudut matanya, tak tega. Kakak yang sering membantunya mengerjakan PR, kakak yang sering mengomel dan menasehatinya agar tidak tebar pesona perempuan, kakak yang selalu rela membagi uang sakunya, kini terduduk lemah di rumah sakit karena mentalnya terganggu. Depresi, mana tega ia membiarkan sang kakak begini.
Setelah menangis dalam pelukan papa, Almira minta minum, keadaanya sedikit lebih tenang meski sesenggukan masih terdengar. Radit memijat kakinya, kadang gadis itu tersenyum karena geli.
"Dit, sekolah gimana?" tanya Almira tiba-tiba, sekarang hanya ada mereka saja. Pak Muhtar sedang keluar menemui Galih di loby rumah sakit.
"Ah...Mbak Al sebenarnya tanya Pak Sultan kan?" tebak Radit menjahili sang kakak. Melupakan kondisi kakaknya sejenak. Mungkin saja dengan menggoda Almira kedekatan mereka bisa kembali seperti semula, dan Almira bisa nyaman berbicara dengannya.
"Iy...iya, Pak Sultan apa kabar?" akhirnya Almira mengakui dengan raut tersipu malu.
"Baik, tambah ganteng. Emang Mbak Al gak pernah chat sama beliau?"
Almira menggeleng, "Kuliah dokter sangat menguras tenaga dan waktuku, Dek. Mana sempat aku memikirkan beliau." Almira menerawang moment masa abu-abu putihnya bersama Pak Sultan, begitu manis meski diam-diam saja. Tak banyak yang tahu hubungan guru dan murid tersebut.
"Chat aja kali, buat hiburan, penghilang stres. Besok mau aku bawain hp Mbak Al?" tawar Radit antusias, karena sejak Mbak Al masuk rumah sakit, ponselnya tergeletak di kamar, bahkan sang mama atau papanya mau menelisik penyebab kasus sakitnya Almira tak menemukan apapun di ponsel gadis itu, begitu datar dan sepi dunia remajanya.
Kembali Almira menggeleng, bahkan wajahnya kembali bersedih, "Gak usah, aku gak mau berhubungan dengan Pak Sultan, selagi aku masih gila."
__ADS_1
MIRIS, gumam Radit pilu.