MENTAL

MENTAL
RAYUAN ADIK


__ADS_3

Pagi ini Almira sudah tidak tahan dengan ulah sang adik yang tetap diam, tak mau menjabarkan alasan kenapa dia memilih tinggal di pondok. Almira paham betul makna dia ingin seperti dirinya, bahkan remaja itu berani mengambil resiko setengah gila.


"Sekali lagi kakak tanya, kamu kenapa mau tinggal di sini? apa yang kamu rencanakan?" tuduh Almira sedikit emosi. Sedangkan Radit masih santai dengan pemanasan sebelum bermain voli atau basket. Lumayan juga tinggal di pondok dengan fasilitas lapangan yang memadai, kesan pertama wajar sang kakak betah.


"Dibilang Radit ingin seperti Mbak Al, kok. Tuh wa...tuh ..wa...tuh ..wa," Radit semakin semangat pemanasan, mengabaikan wajah cemberut sang kakak. Apalagi pesan yang dikirim Almira untuk papa tak kunjung dibalas. Tumben-tumbenan sang papa mengabaikan pesan darinya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres.


"Sekali lagi kakak tanya, kamu kenapa tinggal di sini? kalau gak mau jawab ya sudah, gak pa-pa!" Almira menyerah, ia sudah pernah merasa tak enaknya dipaksa, dan ia tak mau orang lain memaksanya lagi. Jadi kalau Radit gak mau jawab jujur ya sudah, Almira tak mau ambil pusing. Lebih baik ia tak bertemu sang adik.


"Pulang, aku ingin Mbak Al pulang. Kita sudah lama hidup terbiasa yah meskipun masih hitungan bulan." Ungakapan hati Radit sontak menghentikan langkah Almira yang berniat menjauhi Radit. Gadis itu tak menoleh hanya saja meresapi setiap kata rindu yang diucapkan sang. adik.


"Tolong jangan egois terus. Sudah cukup menghindar dari kenyataan. Kalau memang sudah nyaman dan ingin jauh dari kami oke lah aku tak memaksa lagi. Pikirkan, Mbak, sejak Mbak sakit, papa dan mama hanya fokus pada kamu. Apalah aku dan Bima, dan kalau Mbak masih terus di sini, lambat laun keluarga kita akan jauh. Ayo pulang, keadaan rumah sudah berubah."


Almira masih terdiam terpaku, tak sekalipun menanggapi ucapan Radit. "Nanti sore aku pulang, kalau mau pulang ayo kita pulang, kalau enggak ya sudah aku gak akan maksa lagi."


Radit berlalu begitu saja, agak kesal juga dengan keadaan keluarganya. Tak menyangka saja, papa, mama serta kakaknya sangat egois dan keras kepala. Keinginan mereka harus dituruti begitu saja, tak pernah memikirkan bagaimana tanggapan orang lain.


Almira memutuskan mengurung diri di kamar, mood dan perasaannya sedang galau setengah mati. Kegiatan paginya membantu Bu Puguh di lapak tak ia lakoni, ia hanya ingin menata hati untuk menentukan sikap tegas demi keutuhan keluarganya.


Radit selama ini ia kenal sebagai sosok yang penyabar, selalu memikirkan perasaan orang lain. Berbeda dengan Bima yang ceplas-ceplos dan tak peduli hati orang. Tapi sekarang sosok Radit berbeda, memang adik Almira itu memikirkan kepentingan keluarganya, tapi ada kalimat yang sangat menusuk ulu hati Almira.


"Egois? Radit bilang aku egois?" Almira bergumam diiringi tawa sumbang. Tamparan keras baginya dianggap egois. Sakitnya selama ini juga disalahkan. Dirinya semakin merasa tak ada gunanya hidup. Diam ditindas, dipaksa ini itu, didikte dalam segala hal dipandang salah, apalagi dirinya yang show up dan menentukan sesuai keinginannya tambah salah.


"Mungkin gue dilahirkan karena kesalahan," sesalnya dengan menahan laju air mata yang menetes di pipi.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Almira menghapus air matanya, menoleh ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka. "Boleh Budhe masuk?" pinta Bu Puguh dengan melongokkan kepala. Almira mengangguk.


Wanita paruh baya yang sangat meneduhkan itu tampak tersenyum lalu duduk di tepi ranjang, tak lupa mengelus puncak kepala Almira. "Kok tumben gak ke lapak? dicari ibu-ibu loh!"


"Almira lagi pengen di kamar Budhe."


"Kenapa? mau cerita?"


"Almira memang biang salah ya Budhe?" tanya Almira yang sempat terdiam cukup lama. Masih maju mundur bercerita.


"Almira salah karena ingin tinggal di sini. Keputusan Almira ternyata efeknya luar biasa pada Radit dan Bima."


"Pastinya. Apapun yang kita lakukan pasti ada efeknya, baik ataupun buruk. Itu sudah konsekuensi."


"Ya tapi kenapa semua menyalahkan Almira egois. Almira ingin dimengerti juga. Selama ini Almira selalu tunduk, sakit pun juga salah. Melas banget hidup Almira, hu...hu.... Jadi anak yang dituntut untuk jadi yang terbaik itu gak enak banget, Budhe. Sesak di sini," ujar gadis cantik yang sudah berlelehan air mata ini. "Papa dan mama saja yang egois, punya target tuntutan hidup untuk anaknya."


"Semua orang tua memang ingin anak-anaknya menjadi terbaik, Al."

__ADS_1


"Ya tapi jangan maksa Budhe, anak tuh capek menuruti keinginan orang tua yang terlalu muluk."


"Lalu sekarang kamu mau apa?"


Almira mengedikkan bahu, "Saya masih nyamab di sini."


"Mungkin adik-adik kamu ingin melindungi kamu, jadi dia ingin kamu pulang ke rumah."


"Bagaimana dengan mama, saya masih belum siap bertemu Budhe. Saya takut."


"Mau coba sehari di sana?"


Almira terdiam, masih menimbang.


"Hati itu sangat mudah dibolak balikkan oleh Nya, kalau tidak mau berusaha memaafkan selamanya akan berat untuk berdamai. Untuk kali ini cobalah, kalau ternyata mama kamu tetap seperti dulu, kamu boleh menyerah. Tak perlu memaksakan kehendak."


Bu Puguh tak perlu menunggu jawaban Almira, setelah mengucapkan hal itu beliau menepuk pundak Almira lalu beranjak keluar. Si gadis tampak mereneng, ucapan Radit berseliweran. Perang bantin mulai bergejolak.


*Pulang


Enggak usah


Pulang

__ADS_1


Enggak*


Keputusan akhir dibuat tepat pukul 16.00, hanya membawa sling bag, Almira langsung naik di atas motor Radit. Sontak saja remaja itu kaget setengah mati. "Gak usah banyak tanya!" sentak Almira yang langsung berpegangan di sisi jaket milik adiknya itu.


__ADS_2