
Ide menjadi tutor disambut baik oleh Aqil, dirinya begitu gugup menanti Budhe keluar dari kamar Almira. Fokus mata di laptop tapi hati dan pikiran tertuju pada Almira, khawatir kalau ia menolak bujukan Bu Puguh.
"Kompensasi!" pinta Bu Puguh ketus, tak mau memberikan gratisan untuk usahanya yang berhasil menggagalkan Almira menjadi selebgram.
"Ya elah Budhe, demi ponakan juga perhitungan."
"Tapi, Qil. Yakin kamu sama Almira?" tanya Bu Puguh yang khawatir kalau suatu saat Aqil tahu kondisi Almira sebenarnya. Di awal memang Bu Puguh sudah menjelaskan bahwa Almira butuh suasana baru, ada masalah keluarga begitu alasan untuk menjawab pertanyaan Aqil tentang siapa Almira itu.
"Yakin, Budhe. Memenuhi kriteria perempuan idaman Aqil lah."
"Apa memang kriterianya?"
"Yang pasti cantik," ucap Aqil sembari tersenyum menatap langit-langit, fix...otw bucin tuh. Pasti membayangkan wajah Almira. "Pintar, dan ramah plus anak dari keluarga baik-baik."
Bu Puguh menganggukkan kepala. Sebenarnya kriteria perempuan idaman Aqil bisa dikatakan wajar, hanya saja sang ponakan memang tak pernah naksir cewek jadi kelihatan istimewa.
"Budhe harap kamu terima Almira apa adanya kalau sudah serius," saran Bu Puguh sambil menepuk pundak sang ponakan.
Sejak malam itu, Almira lebih menyetujui ide Bu Puguh, memanfaatkan kemampuannya menjadi tutor. Ia pun menyusun rencana untuk berbagai ilmu via medsos juga. Ada beberapa orang yang sukses mengumpulkan cuan dari berbagai ilmu, bisa berbagai tips dan triks atau mengerjakan soal. Semalaman ia mencari konten sesuai kriterianya. Ia mempelajari konten tersebut, dan ia pun segera mencari kumpulan soal matematika, baik dari jenjang SD, SMP bahkan SMA. Kepintarannya dalam menyelesaikan soal kimia dan biologi juga bisa dimanfaatkan. Hampir tengah malam ia baru merasa kantuk.
Gadis cantik itu melirik jam dinding kamar, sudah lama ia berkutat dengan laptop, ternyata kebiasaan yang ditanamkan oleh sang mama masih terus berlanjut, Almira meluangkan waktu untuk belajar sangat banyak dan kini ia juga akan meluangkan waktu yang banyak untuk mendapatkan cuan.
Terkesan matrealis biarlah, Terpenting adanya niat untuk membahagiakan sang mama yang menjadikan dirinya gigih mencari cuan.
"Kali ini aku akan membuat mama bangga dengan caraku sendiri, Ma! Almira sayang mama," lirihnya sebelum memejamkan mata.
Keesokkan harinya, Almira sudah cantik dan siap membantu mempersiapkan sarapan untuk anak pondok yang masih sekolah. Meski ada piket, Almira tetap saja melibatkan diri, ia sangat menyukai teman di pondok ini oleh sebab itu ia akan membantu sebisanya.
__ADS_1
"Mbak Al jadi kan nanti siang?" bisik Intan yang kebetulan sudah diberi tahu oleh Almira tentang ide dari Bu Puguh.
Almira mengangguk, ia sedang fokus menikmati sarapannya karena masakan Mbak di dapur dengan menu nasi uduk ini sangat nikmat.
Para penghuni pondok sudah menyelesaikan sarapannya, sebagian besar sudah pamit pada Bu Puguh untuk berangkat sekolah. Almira dengan telaten membantu menata piring di rak, karena aturan pondok setelah makan harus dicuci sendiri.
"Video kemarin dihapus saja ya, Al!" sedang berbincang dengan Mbok Ra, salah satu ART pondok, Almira dikejutkan dengan kehadiran Aqil dan membahas video itu.
"Iya, Kang. Silahkan dihapus!"
"Di ponsel kamu maksud saya. Gak usah dipublish ke medsos juga."
Almira bengong, pagi-pagi ucapan Aqil sudah ketus malah sok ngatur lagi. Kenapa si dia?
"Ehem....Den Aqil kayaknya udah berani interaksi sama Mbak Al nih," goda Mbok Ra sepeninggal Aqil. Memang ponakan majikannya itu pendiam dan sangat membatasi interaksi dengan lawan jenis. Sangat profesional mengajari anak pondok mengenal IT. Tapi dengan Almira sangat berbeda, tatapan kagum tak bisa lepas dari pandangan Aqil.
"Eh...beda, Mbak. Kalau sama yang lain tuh judes, ngomong aja seperlunya gak ada tuh kayak nyuruh seperti ke Mbak Al." Nah ..namanya emak-emak, tak takut bergosip tentang majikannya, meskipun berbisik. "Mbak Al, sudah punya pacar?" todong Mbok Ra. Almira spontan menggeleng, ia meletakkan piring kering terakhir ke rak lalu pamit menuju lapak.
Lapak adalah tempat produksi krupuk beras sampai ke packaging. Almira selalu antusias membantu di bagian ini. Bergabung dengan ibu-ibu di sekitar sini yang memang diberdayakan oleh Bu Puguh, meski obrolan mereka seputar rumah tangga dengan dibumbui gosip. Almira semakin betah di sini, hidupnya lebih berwarna. Kegiatan yang ia lakoni bervariasi. Apalagi lingkungan pondok sangat rindang, bisa menenangkan mata dan jiwanya.
Sembari menimbang krecek krupuk beras dalam kemasan 250 gram tiba-tiba pikiran Almira mengingat pertanyaan Mbok Ra beberapa menit lalu, pacar? Sosok guru muda, Pak Sultan langsung melintas di benak Almira. Bagaimana kabarnya ya, ada rasa bersalah karena memutus kontak dengan beliau. Almira memang tidak punya status perasaan yang jelas dengan Pak Sultan, tapi hati Almira masih berdebar bila mengingat beliau. Sampai sejauh ini, Almira tidak berniat menyambung komunikasi dengan Pak Sultan. Hati dan pikirannya masih belum berani kalau berkomunikasi dengan beliau.
"Neng, melamun saja!" tegur Bu Puguh sembari membawa kardus untuk menampung kemasan krupuk beras itu. "Kangen siapa?" bisik Bu Puguh dengan intens menatap Almira. Khawatir gadis ini dalam keadaan tidak baik.
"Lagi keingat seseorang saja, Budhe."
"Siapa?" Bu Puguh tak berani menebak, sorot mata Almira sudah terlihat berkaca, beliau tak mau semua orang tahu kondisi Almira kalau sedang down.
__ADS_1
"Teman curhat saya!"
"Ouh Pak Sultan!" tebak Bu Puguh santai. Malah beliau fokus menata krupuk-krupuk itu ke dalam kardus. Respon Almira jelas kaget, dari mana beliau tahu.
"Papa kamu yang cerita."
"Papa?" Almira heran, karena ia tak pernah menceritakan tentang Sultan pada siapa pun.
Bu Puguh tersenyum, "Buat anak kesayangan papa apa sih yang enggak," goda Bu Puguh.
"Budhe, apa nih maksudnya?" rengek Almira meminta penjelasan. Interaksi keduanya tak luput dari perhatian ibu-ibu pekerja.
"Pak Sultan menemui Radit, karena beliau kangen dengan kamu tapi sangat takut untuk menghubungi kamu, alhasil Radit tahu dan kamu pasti bisa memprediksi langkah apa yang diambil adik kamu, kan. Dengar, Al. Keluarga kamu akan mencari siapa atau apapun yang bisa mengembalikan kebahagian kamu, percayalah!"
"Bu Puguh ini kok kelihatan dekat sekali sepertinya dengan Neng Almira, calon mantu kah?" tanya Bu Mar penasaran. Bu Puguh hanya tersenyum menanggapi.
"Mau gak kamu jadi mantu saya?"
Almira tertawa, "Pak Dokter yang gak mau sama saya Budhe, pacar Pak Dokter sangat cantik."
"Kan bisa jadi mantu ponakan," lanjut Bu Puguh melancarkan aksi mak comblang Aqil. Melihat sikap Aqil tadi pagi kok Bu Puguh khawatir saja Almira semakin menjauh. Kondisinya masih labil, eh malah dijutekin, ampun laki satu itu, pengen getok tapi ponakan sendiri, mana tega.
"Wah langsung dilamar loh Neng Al ini," sambung Bu Romla, wah gawat kalau ibu satu ini sampai ikut nimbrung, bisa-bisa seantreo kampung heboh dan bergosip ria.
"Bercanda ibu-ibu, Almira ini mau jadikan guru saja di pondok. Anak-anak ibu mau gak diajari Almira?" tawar Bu Puguh yang memang berniat menghentikan celotehan anak buahnya. Beliau tak mau ada omongan gak enak tentang Almira nantinya.
"Wah ..mau, Bu. Apalagi gratis," sahut Bu Cahyo lantang. Bu puguh hanya menggelengkan kepala sedangkan Almira menepuk jidat dengan harapan seorang emak.
__ADS_1
"Jadi guru?" tanya seseorang tiba-tiba.