
Aqil masih saja ego, tidak menyapa Almira. Nah si gadis pujaan malah cuek bebek, seperti tak peduli mau Aqil menyapa atau tidak, yang jelas bila berpapasan Almira masih mengangguk sopan. Tak ada sakit hati atau merasa bersalah, mulai saat ini ia tidak mau ambil pusing dengan perlakuan orang lain padanya.
"Mbak, besok aku bawa teman sekolahku ya," izin Oliv dengan cerianya. Terbukti setelah les privat dengan Almira, sedikit demi sedikit otaknya saat mengerjakan matematika encer juga. Ia sempat diragukan cara mendapat nilainya oleh teman yang tidak menyukainya maupun sang guru. Oliv tetap tenang dan membuktikan ucapannya ketika diminta menjelaskan di depan kelas.
Kini gadis itu bisa mengangkatkan kepala angkuh, orang tak punya seperti dia juga bisa matematika. Karena keberhasilan Oliv inilah, teman-temannya ingin les juga.
"Mereka siap bayar 50 ribu sekali datang, Mbak. Nah....nanti kita bagi ya..75% buat Mbak Al, 25% buat aku ya?" tawar Oliv dengan tertawa lebar. Begitupun dengan Almira, ia langsung mencubit pipi Oliv gemas.
"Terserahlah, atur aja!"
"Yes!" Oliv girang setengah mati. Setelah mencatat penjelasan Almira, Oliv tampak sibuk dengan ponselnya. Ternyata ia sedang menghitung pendapatan menjadi 'manajer' tutor Almira.
"Bisa banget ya cari uang," sindir Intan sambil mencatat penjelasan di papan.
"Bisa dong," jawab Oliv bangga. Ia akan menarif 50 ribu sekali datang pada anak orang kaya tapi kurang pintar, kalau kata marketing Oliv...dijamin otak lo bakal encer setelah les di kakak gue. Anak orang kaya itu langsung setuju aja, mereka rasanya sudah lelah disuruh les sana sini tapi gak pintar juga, terlebih marahnya orang tua saat mereka tidak lolos di SMP Negeri masih berlanjut, alhasil lima orang itu 'terbujuk' dengan tawaran Oliv. "Mereka setuju, kenapa lo yang sewot."
"Awas saja gak kasih Mbak Al royalti, kecerdasannya juga butuh dibayar tau gak!" sengak Intan tak terima, khawatir saja Almira semakin banyak murid les akan semakin capek. Terlebih Almira juga butuh mencari cuan yang sampai saat ini belum bisa diperolehnya.
"Sori ya, gue gak sepelit itu. Gue masih punya hati, porsi Mbak Al tuh udah gue kasih gede 75%. Kalau lo mau kayak gue, bisa tuh koar-koar ke anak kelas lo yang gak pinter tapi kaya. Kalau dihitung nih lumayan buat tabungan atau uang jajan. Skincare mahal Bu, harus pintar putar otak buat dapat uang."
Intan terdiam, dulu ia juga berencana mencari uang bersama Almira tapi gagal di awal perjalanan. Sepertinya ide dari Oliv perlu dipertimbangkan.
"Coba aja, dijamin kaya. Percaya sama gue," bisik Oliv dengan centil. Ia pun memasukkan buku catatan dan kotak pensil ke dalam tasnya. Beranjak lalu pamit pada Almira.
Intan masih terdiam, ia bimbang. Ingin hati mengikuti cara Oliv, tapi khawatir memanfaatkan Almira. "Kenapa diam aja?" tanya Almira mendekati Intan. Anak kampung sudah pulang, tinggal anak pondok yang masih berlatih mengerjakan PR.
"Mbak Al tahu kalau dimanfaatkan Oliv?" tanya Intan lirih. Merasa bersalah juga mengatakan dimanfaatkan Oliv.
"Maksud kamu dia menarif temannya untuk ikut les di sini?" Almira memperjelas maksud pertanyaan Intan.
Intan mengangguk, sedetik kemudian Almira tersenyum sembari menepuk lengan Intan. "Gak dimanfaatkan tapi diberi kesempatan untuk menjadi manfaat bagi orang lain." Almira sudah tidak terpikir mencari cuan, ia lebih mempertimbangkan saran dari dokter Ibram tempo hari.
"Kalau Intan seperti Oliv, Mbak Al tersinggung gak?"
__ADS_1
"Seperti Oliv maksudnya? centil dengan dandanan yang cetar begitu?" kali ini Almira tidak paham maksud Intan, karena setahunya Intan tidak menyukai dandanan Oliv.
Tentu Intan menggeleng, sambil mengetukkan kepalan tangan di meja, amit-amit. "Ogah, centil banget kaya' gitu, naudzubillah. Maksud aku, juga mau cari murid buat Mbak Al. Boleh?"
"Wah laris dong ya, Mbak Al?" goda Almira tertawa.
"Mbak Al selain jago matematika jago apa?"
"Voli, Fisika juga bisa."
Intan menatap Almira lekat, tampak tersirat dari sorot matanya betapa dirinya ingin seperti Almira kelak. "Kenapa?" tanya Almira heran.
"Mbak beruntung banget sih, pintar dan bisa apapun."
Almira hanya tersenyum menanggapi, ia bisa karena dulu dipaksa, semua bidang kalau bisa Almira bakal kuasai, sampai akhirnya ia melambaikan tangan pada kamera menjadi depresi saat ini. "Mbak gak seberuntung itu, Tan. Ingat kan apa kata Oliv, hidup itu hanya saling melihat dari kejauhan tanpa tahu latar belakang yang sebenarnya.
"Kamu pasti lebih hebat dari Mbak, Tan. Percayalah!"
"Terserah kamu."
"Nanti aku bagi 50-40, deh!"
Almira mengerutkan dahi, kok selisih sepuluh apa gak sayang tuh, lumayan kan buat jajan atau belanja online?" goda Almira.
"Yang 10% buat kontribusi di pondok, aku selama ini hanya numpang tapi tidak pernah donasi. Mungkin cara ini bisa menjadikanku sebagai donatur.
Almira terdiam, tak menyangka Intan berpikiran seperti itu, mulia sekali niatnya. Bekerja sembari beramal, "Buat kamu semua juga gak pa-pa, Tan!"
Intan menggeleng, "Jangan Mbak, mau bagaimana pun Mbak mengeluarkan tenaga, wajib diberi upah sebelum keringat itu mengiring. Lagian jangan mikir kita matre atau menjual ilmu, tapi kita ambil positifnya saja reward seorang tutor berupa fulus."
Almira tertawa ngakak, "Ih...guru tuh pahlawan tanpa tanda jasa, fulus tuh nomor dua puluh tujuh."
"Masa', nanti kalau aku ambil semua mewek kejer loh!"
__ADS_1
"Enggak akan! udah cantik paripurna kok mewek enggak banget, weiiik!" goda Almira berjalan lebih dulu meninggalkan Intan yang masih melongo di tempat.
"Wah ada apa ini?" tanya Bu Puguh menyadarkan lamunan Almira.
"Eh...Budhe, ini loh kita bahas anak yang mau privat, temannya Oliv."
"Ouh...silahkan, Budhe malah seneng salah satu murid bisa berprestasi begitu."
Almira mengangguk pelan, setidaknya ia harus izin terlebih dulu pada si empunya pondok. Gak mungkin dong ia mengajar orang luar tanpa persetujuan Bu Puguh.
"Budhe tuh seneng pondok ramai, apalagi aula kan hanya digunakan tertentu saja. Sayang kalau tidak dimanfaatkan. Lagian kamu jadi guru asyik banget sih, bisa ngeblend dengan anak-anak."
"Lah Budhe kok tahu saat saya mengajar?"
"Kebetulan lewat aja, Al lalu mengintip sekalugus memotret sebagai bukti kalau kamu sudah sehat."
"Udah dikirim ke dokter Ibram?" tanya Almira malu-malu dan diangguki oleh Bu Puguh.
"Malah sudah dijadikan status WA oleh Ibram, dan kamu tahu siapa yang pertama kali berkomentar?"
"Siapa?" tanya Almira balik.
"Aqil."
"Oh!"
"Kok oh doang, gak ada komentar lain?"
Almira tertawa untuk kesekian kalinya, "Apa?" penasaran juga apa isi chat Aqil pada dokter Ibram nantinya.
Dokter Ibram yang terhormat minta doang video ayang Almira.
Almira terkekeh,"Emang ponakan Budhe satu itu negeselin banget!" celoteh Bu Puguh sembari menepuk Almira menuju dapur masakan ibu.
__ADS_1