MENTAL

MENTAL
BUKAN PASIEN LAGI


__ADS_3

BUKAN PASIEN LAGI


Begitu caption status WA dokter Ibran yang langsung dikomentari Aqil. Dokter Ibram yang baru saja merehatkan diri di ruang kerjanya menatap room chat sang sepupu dengan senyum tipis, lebih tepatnya senyum mengejek.


Dokter Ibram: Ngapain minta? curiga gue?


Aqil: Gak usah suudzon, buru!


Dokter Ibram: Bukannya ditolak?


Aqil: Nih dokter apa lambe murah sih, kepo aja.


Dokter Ibram: Lagian main tembak aja, KO telak


Aqil: Ini lagi berjuang Abang, mau nyelepet di sepertiga malam.


Dokter Ibram: Ha..ha..Ya udah dislepet dulu aja, nanti baru aku kasih videonya.


Aqil: Dokter Ibram menolak, Budhe Puguh bertindak dong 😛😛😛😛😛


Ibram tak kuat lagi menahan tawa, sang sepupu benar-benar menyukai Almira. Tapi melihat usaha dan sikapnya pada Almira setelah drama ditolak, kok jadi sanksi ya mau merestui. Dokter Ibram sadar, lelaki yang dibutuhkan Almira adalah sosok pengayom dan sangat sabar, mengingat kondisi mental Almira.


Kalau saat ini, sesuai video tersebut, Ibram meyakini bahwa Almira sedang dalam keadaan baik, tapi tak bisa memprediksi selamanya. Gangguan mental itu tidak bisa sembuh 100%, pasti ada masa di mana dirinya down lagi, dan terganggu lagi. Kalau sikap Aqil yang mudah ngambek, memang lebih baik ditolak saja. Kasihan Almira, dirinya butuh perhatian lebih, bukan malah dicuekkin begini, sampai tidak menyapa segala.


Ck...bocah!!!


Urusan Aqil biarlah waktu yang menjawab, mungkin lebih baik hanya sebatas jadi teman yang tinggal di pondok saja, tanpa melibatkan hati. Dokter Ibram tahu fokus Almira sekarang adalah mencari cara agar membuat sang mama bangga.


"Harusnya setelah mendapat video ini, dokter Anggraini akan mengakui bahwa Almira adalah anugerah terindah yang tak perlu didikte untuk sukses. Hufh....ibu durhaka kali ya sebutan yang pas untuk dokter Anggraini," ujar dokter Ibram bermonolog. Tangannya juga ikut sibuk membagikan video Almira pada Pak Muhtar dan Ibu Anggraini.


Benar saja dugaan dokter Ibram, setelah mendapat video tersebut, raut Nyonya Anggraini berubah keruh. Memerah, menahan tangis. Tangannya gemetar sampai ponselnya jatuh di lantai. Bima yang sedang bermain game terpaksa berhenti saat mendengar isakan tangis yang tertahan.


"Kenapa, Ma?" tanya Bima khawatir. Pasalnya sang mama sudah menelusupkan wajahnya pada bantalan lengan dengan bahu yang naik turun, menandakan kesedihan yang mendalam. "Ma?" lanjut Bima sembari mengguncang pelan bahu beliau.

__ADS_1


Dokter Anggraini tak menggubris Bima, beliau masih asyik merasakan penyesalan yang terdalam. Mata Bima mencari sumber tangisan sang mama, terlihat ponsel sang mama yang tergeletak di dekat kaki beliau.


Bima mengambil lalu melihat cuplikan video tersebut, lama ia terdiam menikmati tayangan video tersebut. Senyum bangga tersungging begitu saja, tak menyangka sang kakak di luar sana begitu energik menjadi seorang tutor.


"Gue suruh pulang aja dah," Bima beranjak mengambil ponselnya segera menghubungi sang kakak. Video call dan loudspeaker agar sang mama juga mendengar suara putrinya. Bima tahu, sang mama sudah sangat rindu.


Sambungan ketiga barulah diangkat oleh Almira, gadis cantik itu berbalut mukenah mungkin baru selesai menunaikan sholat isya.


"Ada apa, Bim?" tanya Almira to the point.


"Waalaikusalam Bu Guru!" sindir Bima karena sang kakak melupakan salam. Gurauan sang adik seperti ini justru membuat Almira tertawa. Receh banget sih senyum Almira.


"Eh sory deh, Assalamualaikum adikku sayang!"


"Waalaikusalam wr wb otw guruku sayang," balas Bima diiringi kekehan.


"Eh kok tahu?"


"Dokter Ibram yang kirim ke mama, aku tadi lihat dari hp mama," Bima sengaja menyebut mama, melihat ekspresi sang kakak yang mendadak datar.


"Lihat kayaknya," jawab Bima pura-pura tidak tahu saja. Ingin memancing respon Almira selanjutnya.


"Lalu?" tanya Almira lirih. Sungguh ia takut dengan jawaban yang diberikan Bima. Dalam mindsetnya, mama adalah orang yang tak suka profesi lain selain dokter.


"Mau tau jawaban mama?" goda Bima dengan sesekali melirik wajah sang mama.


"Mau lah, cepetan!"


"Dih, maksa."


"Bim!"


Bima tergelak, asyik juga membuat sang kakak jengkel begini. Kalau dulu sang kakak terlalu memgalah, tak ada sensinya, tanpa ekspresi. "Kasih imbalan ya?"

__ADS_1


"Imbalan apa?" tanya Almirra sembari mengerutkan dahi, agak tak suka dengan usilnya Bima.


"Pulang, aku mau Mbak Al pulang." Kali ini suara dan wajah Bima tampak serius tak mau dibantah. Almira menghela nafas pendek, menunduk sebentar lalu menatap sang adik. "Pulang ya? Mbak Al gak bisa, nanti kalau timingnya tepat Mbak Al akan pulang."


"Meskipun sekarang mama meninggal, misalnya Adawwwww!" Duh ...Bima, ucapannya tanpa disaring, kasih contoh kok gak enak banget, sontak saja mama mencubit pahanya, dan melotot, marah lah disumpahin anak sendiri. Ya Allah...


"Omongan kamu, Bim. Dosa tahu!" timpal Almira kesal. "Jangan ngomong gitu, aku masih banyak salah sama mama, belum bisa menjadi anak yang baik di mata mama."


Penjelasan Almira dengan suara lembutnya membuat nyonya Anggraini kembali menangis, bahkan beliau sampai menutup mulutnya agar tak terdengar isakan. Percayalah Bima pun ikut merasakan kesedihan dua wanita ini. Ia berusaha menahan air mata yang keluar dengan mendongakkan kepala.


"Bim....Mbak kasih bocoran gimana reaksi mama ketika melihat video yang dikirim dokter Ibram?" paksa Almira ingin tahu. Sebelum ia terjun menjadi guru lebih dalam lagi, ada baiknya mendengar respon sang mama.


"Mama menangis," Bima sengaja mengungkapkan yang sebenarnya, karena Bima sendiri tak tahu komentar sang mama apa. Yang Bima tahu hanya menangis.


"Menangis karena hanya menjadi guru ya, bukan jadi dokter?"


"Sekali deh Mbak Lo tuh buang pikiran negatif tentang mama, gemes gue rasanya!" emosi Bima sampai berkata lo-gue pada sang kakak. Bima ingin sekali menemukan Almira dan sang mama langsung, tanpa menunggu timing yang pas. Ah apa itu, baginya sebelum semuanya terlambat ada baiknya mendekatkan, bukan semakin memperkeruh hubungan ibu dan anak.


Almira terdiam, "Mama tuh menangis, bisa jadi karena beliau terharu. Anaknya yang setengah gila, bisa menjelaskan matematika sebagus itu."


"Sialan lo.ngatain gue gila," Almira rasanya sudah kebal diledek adik bungsunya itu gila, setengah gila, gak waras. Almira merasa biasa aja ketika Bima yang mengatakan hal itu.


"Lo marah kalau gue sebut gitu?"


"Enggak."


"Kenapa?"


"Karena gue tahu dibalik ledekkan lo, mengandung pesan ayo Mbak Al segera semvuh, jangan jadi gila."


"Nah lo bisa positif thinking ke gue, kenapa negatif terus sama mama?"


"Karena mama banyak salah sama Almira. Maaf ya Sayang," ucap nyonya Anggraini sedikit lantang, agar Almira dengar bahwa sang mama ada di dekatnya dan tulus mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Mama," gumam Almira yang tiba-tiba mematikan sambungan video call tersebut. Segera mendekap ponselnya, mencari kekuatan, ia belum siap berhubungan dengan sang mama. Belum siap sama sekali.


__ADS_2