MENTAL

MENTAL
ANAK DAN BAPAK


__ADS_3

Sejak malam itu baik Radit dan Bima tak pernah menampakkan batang hidungnya di hadapan Pak Muhtar. Ada saja alasan mereka untuk tidak berhadapan dengan sang papa. Saat pagi, mereka memutuskan membawa bekal untuk sarapan. Lalu mereka memilih pulang ke klinik sang mama yang menyatu dengan tempat tinggal mama sekarang hingga menjelang makan malam. Saat makan malam, Pak Muhtar kembali sendiri karena kedua anaknya kompak bilang kita udah makan di klinik mama.


Perubahan sikap keduanya sangat terlihat jelas, mungkin protes karena keputusan akhir sang papa. Egois, sangat. Sedangkan nyonya Anggraini hanya bisa bilang gak pa-pa kalau harus berpisah demi kebaikan kita semua. Biarlah waktu yang menjawab papa dan mama berjodoh atau tidak. Kalau dengan sang mama mereka protes tak sefrontal kepada sang papa, baik Radit dan Bima sadar sang mama sudah sangat terluka meskipun keadaan di titik ini beliau yang paling banyak terlibat.


"Duduk," pinta Pak Muhtar saat Radit dan Bima, masih mengenakan pakaian seragamnya, berjalan tanpa menyapa sang papa yang kebetulan malam itu duduk manis, sengaja menunggu kedatangan keduanya sesuai informasi dari ART.


Radit melirik sekilas, lalu menggandeng Bima buat segera naik. Fix...ia tak mau berdebat lagi dengan sang papa, karena beliau sudah memutuskan ingin berpisah. "Apa ini hasil didikan Anggraini?" biarlah Pak Muhtar memancing emosi mereka dengan menjelekkan sang istri. Sudah terlanjur basah, sekalian saja menyelam. Dia sudah emosi, sekalian saja melampiaskan emosinya pada Radit dan Bima ya meskipun sekuat hati tidak main tangan.


"Iya, ini didikan mamaku, otw mantan istri papa. Kenapa? ada masalah?" julidnya Bima tak bisa dipungkiri. Bahkan Radit sempat beberapa detik melongo melihat keberanian adiknya itu. Daebak!!!


"Kamu masih kecil, Bim. Gak sopan ngomong seperti itu sama papa." Pak Muhtar tak kalah tinggi suaranya, bahkan sorot matanya menyiratkan amarah luar biasa.

__ADS_1


"Kita duduk, toh sebentar lagi kita angkat kaki dari sini. Anggap saja obrolan kita yang terakhir."


Pak Muhtar terkesiap, apa ini maksudnya? kenapa tiba-tiba topik angkat kaki muncul?


"Oke," jawab Bima santai. Ia dengan kepala tegaknya berjalan menuju sofa dan menatap balik sang papa, sunggu tidak patut dicontoh akan kesopanan anak remaja ini.


"Papa dan mama sepakat kalian tetap ting--,"


Aneh, Bima pun patuh dengan kode Radit. Kini keduanya diam saja menunggu sang papa bertanya atau akan memaksa tetap tinggal di sini. "Papa putuskan kalian tetap tinggal di sini, kalian sanggup hidup dengan kamar yang sempit. Klinik kecantikan mama sempit, Nak!"


Radit tersenyum sumbang, bahkan ia menaikkan satu kakinya di atas paha, menggosok dagu dengan jari telunjuk dan jangan lupakan tatapan mata Radit untuk sang papa. Sirna sudah rasa hormatnya, ia lebih memilih durhaka pada sang papa tapi tetap patuh pada sang mama. "Meskipun klinik sempit, tapi hati yang tinggal di klinik lapang, penuh dengan kasih sayang, sangat bagus untuk ditinggali bagi anak korban keegoisan orang tua."

__ADS_1


Tajam dan pedas, Pak Muhtar mengalah. Putranya dipenuhi emosi, jangan sampai ia membalasnya dengan emosi pula. "Suatu hari nanti kamu akan mengerti alasan papa sampai mengambil keputusan itu."


"Mbak Al?" tebak Bima dan diangguki Pak Muhtar. Kini Bima menoleh pada sang kakak," anaknya papa dan mama kayaknya cuma Mbak Al, deh. Auto coret KK kalau kayak gini," banyolan Bima tak bisa meredam suasana panas di ruangan itu. Rasanya Pak Muhtar seperti melawan dua putranya.


"Kalian juga tetap anak papa," sahut Pak Muhtar tak setuju. Bagi Pak Muhtar ketiga buah hatinya mendapat porsi kasih sayang yang sama, beliau tak pernah membedakannya. Hanya saja saat awal Almira sakit, pria yang berprofesi sebagai pengusaha tambang lebih cenderung mengawasi pergerakan Almira, hingga terkesan menomor satukan Almira.


"Udahlah, Bim. Kita udah bahas ini sejak Mbak Al sakit. Jadi percuma mencari celah untuk kesembuhan Mbak Al saat ini." Terang Radit dengan nada merendah.


"Dengarkan baik-baik anakku. Tidak semua yang kalian lihat sesuai dengan pemikiran kalian. Sakitnya mbak Al adalah pukulan terberat sebagai seorang ayah. Sejak itu dalam hati papa sangat marah dengan tindakan Bu Anggraini. Makanya papa diam saja, stagnan dengan hubungan toxic ini dan tidak berusaha mencari solusi. Dan mungkin mama juga mengalaminya, makanya kita sepakat pisah saja daripada saling menyakiti."


"Lalu kita bagaimana? pernah papa pikirkan hati kami?" sindir Bima ketus. Pak Muhtar terdiam.

__ADS_1


__ADS_2