
Setelah mengalami perdebatan hati yang panjang, akhirnya Almira memutuskan untuk oke saatnya memperbaiki hubungan dengan sang mama. Mumpung kedua adiknya sudah berangjat sekolah, setelah mandi dan sarapan Almira ke taman belakang membawa laptop katanya Aqil sedang longgar, dan lelaki itu akan menemani Almira via zoom. WhatsApp Web dan zoom sudah on, Almira tampaknya siap membuka komunikasi dengan sang mama. Ia pun mulai mengirim pesan meski hanya sebuah salam.
Assalamualaikum
Almira melirik jam tangannya, masih pukul 7.30 mungkin sang mama masih riweh dengan kegiatan pagi di kliniknya.
"Udah wa?" tanya Aqil yang sudah nangkring di zoom melihat wajah cantik Almira.
Gadis cantik itu mengangguk dan sedikit cemberut karena pesannya tak kunjung dibalas. Aqil yang hanya bisa melihat via layar laptop menahan senyum karena gemas. Andai saja Almira didekatnya pasti akan mengacak pucuk kepala gadis itu.
"Sabar lah, mama kamu pasti sibuk. Wanita karir juga!" begitu Aqil mencoba mengalihkan fokus Almira pada pesan.
"Iya sih, hanya saja aku kan anaknya. Harusnya lebih mementingkan membalas pesanku dong."
"Hayo mulai negative thinking. Apa kata budhe ya....," kembali Aqil mengingatkan Almira tentang saran dan nasehat Budhe Puguh bila pikiran negatif mulai meracuni benak Almira.
Kembali Almira cemberut. "Gak semua orang pagi itu pegang ponsel, mungkin masih tidur atai lagi di jalan. Sabar saja. Toh kamu bisa lihat onlinenya mama kamu jam berapa."
Almira langsung mengambil ponsel dan melihat jeli kapan sang mama terakhir online dan kenapa dirinya tak berpikir ke sana, hufhhh.
"Eh iya, terakhir online jam 4 pagi."
"Nah...kan, masih belum pegang ponsel aja. Ya udah sambil nunggu, yuk bahas masa depan kita." Aqil sengaja menggoda Almira yang akhir-akhir ini memang terlihat sering salah tingkah dan malu-malu bila Aqil menggodanya. Wajar saja, seorang gadis kalau sudah dibuat nyaman, ego tidak ingin bermain hati ternyata nihil.
Ting
Sebuah pesan yang bisa mengalihkan wajah malunya Almira, ia melotot sempurna dan semua terekam jelas oleh Aqil. "Kenapa?" tanya pemuda itu tak sabaran. Namun, Almira tak menggubrisnya. Ia fokus menatap ponselnya.
__ADS_1
Waalaikumsalam wr wb... Almira. Apa kabar Nak?
Ternyata sang mama membalas pesan Almira, dan beliau berusaha untuk memancing percakapan lebih panjang lagi.
"Al?!" tegur Aqil yang penasaran.
"Mama balas wa aku, Kang. Aku harus apa?" tanya Almira yang mendadak hilang akal. Sedangkan, Aqil hanya tersenyum.
"Balas dong!" Aqil memberi semangat, orang sakit mental itu hanya butuh dukungan, agar kepercayaan diri mereka meningkat.
"Jawab apa?"
"Jawab sesuai dengan pertanyaan. Dan satu lagi biar chat kamu gak monoton kamu harus inisiatif untuk memancing percakapan."
"Harus ya?"
"Harus. Hubungan yang baik itu antara kedua belah pihak harus aktif keduanya. Tidak hanya salah satu pihak yang terlihat berjuang sendiri."
"Enggak juga, kan dari awal aku udah ditolak."
Almira mengangguk, "Tapi aku nyaman sama kamu, Kang. Nyaman sebagai tempat curhat."
Aqil hanya mengangguk. Ia yakin suatu saat nanti apa yang diharapkan pada Almira akan mendapat jawaban. Dan memang ia sadar diri, tak perlu memaksakan kalau memang Almira bukan rizekinya. Hatinya mau tapi kalau Almira menolak, ia bisa apa. Memaksakan? Justru akan berakibat fatal.
"Udah balas mama kamu gih, nanti kita sambung lagi. Selamat berjuang ya anak gadis," ucap aqil memberi semangat sebelum mengakhiri meeting virtualnya.
Almira mematikan laptop dan segera ke kamar, dalam bayangannya ia butuh tempat yang nyaman. Sembari rebahan ia akan meladeni balasan sang mama. Sudah saatnya membuang pikiran negatif dan memperbaiki hidupnya.
__ADS_1
*Baik, Ma. Mama apa kabar?
Baik, Nak. Mama bahagia sekali kamu chat mama. Mama sangat bersalah dengan sikap mama dulu*.
Almira sudah tiduran di ranjang, menghela nafas pendek lalu mengetik balasan untuk sang mama.
*Semua sudah berlalu, Ma. Almira juga minta maaf kalau sikap dan sakitnya Almira membuat keluarga kita berantakan. Mama tinggal di mana?
Mama tinggal di klinik bareng asisten-asisten mama. Kamu mau ke klinik?
Mau. Tunggu Bima dan Radit pulang sekolah ya, Ma.
Boleh sayang. Mama tunggu. Kamu sekarang lagi apa?
Lagi di kamar, wa an sama mama aja.
Sendiri dong? Papa ke mana?
Papa belum tahu mungkin kalau aku sudah balik ke rumah.
Kok bisa sayang? Papa gak di rumah?
Enggak, Ma.
Ya sudah mungkin papa di Kalimantan. Ditunggu di klinik mama nanti ya sayang. I love you, mama sayang banget sama kamu. Semua anak mama belahan hati mama*.
Almira tak membalas secara langsung pesan terakhir sang mama. Hanya membaca saja air matanya mendadak keluar, sungguh ia merasakan sang mama sangat menyayanginya meski hanya sebuah tulisan.
__ADS_1
Al juga sayang sama mama, i love you ma.
Begitu Almira mengakhiri percakapan pagi itu. Sembari menahan sesak di dada, Almira mengirim pesan pada Radit dan Bima agar nanti siang mengantar Almira ke suatu tempat. Sengaja Almira tidak memberitahu tujuannya khawatir Bima dan Radit cemas saat di sekolah. Biarkan mereka menimba ilmu dulu dengan tenang. Fokus belajar mereka sudah banyak tersita untuk kepentingan Almira.