
"Dari mana?" tanya Bima agak tergesa menuruni anak tangga ketika melihat sang kakak keluar dari dapur, masih terlalu pagi kalau harus menyiapkan sarapan. Apalagi ini hari minggu, seperti kebiasaan Radit dan Bima yang molor bangun.
"Dari kamar, Bik Ratmi. Kamu udah bangun?" tanya Almira heran. Selama ini adik bungsunya ini paling susah disuruh bangun, lah sekarang masih sayup terdengar sautan adzan shubuh dia sudah bangun dan tak melindur.
Bima hanya mengangguk, lalu mengekori sang kakak menuju kamarnya. "Aku nebeng tidur ya," pintanya membuat Almira mengerutkan dahi. Kebiasaan Bima baru kah?
"Sholat dulu!" titah Almira mengingatkan sang adik. Bima pun menurut apa kata sang kakak. Sebenarnya ketiga anak Pak Muhtar ini memang tipe penurut. Dilahirkan dari keluarga berada tak serta merta membuat mereka manja dan bertindak sesuka hati. Harusnya Nyonya Anggraini dan Pak Muhtar bersyukur diberikan anak yang baik, hanya saja satu yang tidak bisa mereka tekan ego orang tua sehingga ketiga anaknya terkena imbas.
"Kamu kenapa mau tidur di kamar Mbak, bukannya kamu gak bisa tidur kalau ada orang lain di kasur yang sama?" tanya Almira sembari ikut berbaring di samping Bima. Adiknya terlihat sudah memejamkan mata, namun kembali terbuka kala Almira mengajak ngobrol.
"Aku takut Mbak Al keluar dari rumah lagi," jawabnya jujur.
"Ck...mbak gak kabur kali. Tapi berobat."
"Sama aja, keluar dari rumah."
"Bim, emang rumah terus sepi kayak gini ya?" Almira sudah tidak tahan untuk bertanya. Kalau mau memperbaiki hubungan di keluarga ini tentu harus terbuka. Meskipun kondisi yang tidak sesuai harapan.
"Banget. Mama dan papa udah gila kali. Gak mau urus anaknya."
Almira langsung menabok lengan sang adik. Tak setuju dengan ucapan Bima yang dianggap tak sopan mengenai keluarganya. ",Emang benar kali Mbak."
"Mama..." Almira ingin bertanya lebih dalam tentang mama, tapi begitu menyebut mama saja jantungnya berdegup kencang. Traumanya masih berlaku untuk mama.
"Mama sih masih sering menjenguk kita di sini, yah kalau papa gak ada. Pokoknya mama dan papa tuh kayak orang pacaran yang mau putus gitu, tengkar mulu kalau bertemu."
__ADS_1
Almira terkekeh sebentar mendengar celotehan sang adik yang sok tahu tentang pacaran. "Kayak kamu tahu aja orang pacaran gimana. Trus..trus, sikap mama gimana sekarang?"
"Ck...kan aku udah bilang mama tuh berubah. Kapok mungkin udah membuat Mbak Al hampir gila!"
"Ngomong gilanya biasa aja kali," sewot Almira.
"Mbak sih ngapain jadi gila dulu."
"Aku aja gak tau, emang ada orang yang mau gila. Gak ada kali."
Bima yang niat awal ingin molor malah gak jadi, sudah lama dia tidak main ledek dengan sang kakak. Memang beginilah Almira, anaknya sebenarnya asyik untuk diajak bercanda namun tuntutan sang mama menguburkan sifat periangnya. Saat ini pikirannya sudah mulai terbuka. Terapi mendalam dengan dokter Ibram dan perhatian Bu de Puguh membuat Almira mulai bisa mengambil sikap akan hidupnya.
"Emang gimana Mbak awal mula jadi gila gitu?" Bima yang seorang cowok tapi keponya persis emak-emak komplek tak tahan juga untuk mengulik kehidupan sang kakak selama menjadi pasien rumah sakit jiwa.
"Dih mau jadi orang gila kamu?" tonyor Almira pada pipi Bima.
Almira tampak diam sebentar, lalu menghela nafas berat. "Kosong. Terombang-ombing. Rasanya banyak orang yang ada di depan Mbak Al, semua berwajah jutek dan menunjuk kalau Mbak Al salah. Hanya halusi sih, tapi ketika sadar Mbak merasa kosong, tak punya teman. Sebenarnya orang kena gangguan mental tuh yang paling utama adalah support orang terdekat, karena mereka lagi down banget. Dama diri sendiri aja gak percaya apalagi sama orang lain. Bisikan semangat kamu bisa, kamu kuat, gak ada yang istimewa selain kamu itu sudah menjadi perhatian penting bagi pasien gangguan mental."
"Emang Mbak gak dapat dukungan seperti itu?"
Almira menggeleng, setahunya saat di rumah sakit ia sudah diasingkan. "Eh dapat sih, awalnya dari dokter Ibram, trus Radit baru papa."
"Mama?"
"Gak ada kayak gitu. Ajaib kali mama sampai sadar akan sikapnya yang salah sama aku."
__ADS_1
"Mbak benci sama mama?"
"Benci pasti ada, kangen ada, cuma sampai saat ini Mbak masih gak mau bertemu sama mama."
"Ya udah sih, mereka juga lupa sama kita."
"Mama sama papa?"
Bima mengangguk.
"Benar juga, dokter Ibram ada chat tuh sama Mbak, beliau juga udah kabari papa kalau aku pulang ke rumah dijemput Radit."
"Kayak gak tau kebiasaan papa!"
"Kebiasaan apa?"
"Gak bakal baca chat. Papa mah sok sibuk."
Almira mengangguk setuju. Kini keduanya terdiam, mau melanjutkan acara molornya. "Mbak kalau Mbak Al nikah, rumah sepi lagi dong."
Tadinya sudah mau menjemput mimpi, Almira membuka mata dengan sedikit melotot. Pertanyaan macam apa ini.
"Eh tapi gak mungkin nikah sih, pacar aja gak punya," sindir Bima tak peduli lengannya sudah ditampol gemas oleh sang kakak.
"Adikkkkk sialaaannn!!!"
__ADS_1
Bugh