MENTAL

MENTAL
SIANG KRUSIAL


__ADS_3

"Punya uang?" tanya Almira ketika Radit mengajak makan siang di luar. Ketiganya sudah siap, tinggal menunggu sopir keluarga saja.


"Punya dong!" ujar Radit sambil memamerkan kartu ATM jatah uang jajan dari sang papa.


"Habis ditransfer ya, Kak?" tanya Bima yang masih asyik bermain game di ponselnya.


"Enggak, tapi kan gue hemat gak kayak lo, Bim. Uang jajan dikasih berapapun di tangan lo pasti habis," ejek Radit pada adik bungsunya. Ia selalu saja diporotin sang adik ya meskipun cuma 10 ribu doang buat jajan depan komplek.


"Korma....korma!" cicit Almira sambil menggunakan sepatu kets, cantik dan manis sekali penampilan gadis ini.


"Nyindir!" balas Radit yang dulu sering porotin Almira juga.


"Kerasa ya?" begitu Almira membalasnya. Ketiganya kalau sudah kumpul ada aja topik untuk diperdebatkan. Seandainya saja kedua orang tua mereka tak egois, hidup pasangan suami istri itu akan lebih berwarna.


Di dalam mobil ketiganya sibuk dengan gadget masing-masing, Radit terlibat obrolan dengan Mang Maman, sopir keluarga mereka yang kebetulan hari ini sedang longgar. Tak lupa ia menyusun skenario pertemuan mama. Beberapa kali ia membalas chat mama, agar nanti pertemuan mereka terlihat tidak sengaja.


Selepas turun dari mobil, mereka masuk ke dalam cafe sesuai pilihan Radit. Mang Maman gak mau masuk katanya mau cari warung kopi di sekitar Cafe saja. Karena judulnya ditraktir Radit, Almira dan Bima pesan makanan dan camilan gila-gilaan, Radit sampai melongo.

__ADS_1


"Busyettt!" Radit terkejut, mendapati berbagai menu makan siang satu per satu disajikan. Bima dan Almira bertepuk tangan siap menghabiskan sajian tersebut. Radit memberengut kesal.


"Gak habis, maka bayar sendiri," ancam Radit yang dijawab gelengan Bima. Adik bungsung itu sepertinya tak berdoa dulu, main comot makanan saja.


"Beres ah, pasti habis!" ujar Almira penuh keyakinan. Gadis cantik itu ikut jejak Bima yang mulai makan dengan acak, sesekali saling suap-suapan dengan Bima lalu menyuapi Radit yang sibuk dengan ponselnya.


"Dit, elah jomblo aja main ponsel terus. Makan dulu napa!" tegur Almira sambil mengunyah. Sedangkan Radit hanya menjawab, Hem. Tak mau lebih dicurigai, Radit pun segera makan setelah mengirim pesan pada sang mama.


Jangan keluar dulu, Ma. Mbak Al masih makan.


Hampir satu jam mereka menghabiskan makanan yang dipesan sembari bercerita terutama Bima yang memang punya stok cerita lucu. Sungguh, Almira sangat plong siang ini. Kedekatan dengan kedua adiknya serta menjadi pribadi baru yang lebih terbuka dan cerewet sangat membahagiakannya. Mungkin seperti inilah pribadi Almira ke depannya.


Radit tahu sang kakak sedang mnegontrol emosi, ia pun menggenggam tangan Almira. "Buka mata lo, Mbak! Ada mama!"


Deg


Deg

__ADS_1


Jantung Almira serasa mau copot, sungguh ia tak siap dengan kejadian siang seperti ini. Ia ingin kabur, ingin menghindar tapi kaki sudah terasa sangat lemas.


"Mbak, ada mama!" Radit kembali mengulang ucapannya agar Almira belajar menghadapi situasi yang kurang zaman. Tak ada dalih terlalu cepat, karena kalau tidak dipaksa tentu Almira tidak akan mau belajar.


"Mbak!" sapa sang mama lirih, mau menyentuh lengan sang putri tapi diurungkan. Khawatir kalau sang putri histeris atau kumat.


"Ma..ma!" justru Bima yang menyapa sang mama. Pintar sekali anak bontot ini mencairkan suasana. "Kangen mama!" lanjut Bima sembari memeluk sang mama erat. Nyonya Anggraini pun tersadar, ada anak lain selain Almira, ia harus bisa memperhatikan Bima juga jangan sampai Bima sakit hati karena fokus Nyonya Anggraini memang pada Almira.


"Mbak Al, ayo peluk mama!" pinta Bima usai melepas pelukan pada mama. Agak geram juga karena Almira malah menghadap ke arah lain dan memegang jaket Radit. Tampak sekali kurang nyaman dengan kehadiran sang mama.


"Bima, nanti Mbak Al pasti peluk mama, gak usah dipaksa," jawab Nyonya Anggraini dengan bernada lembut.


Almira mendengarnya dengan sangat baik, sangat heran dengan intonasi yang begitu lembut, dan apa tadi gak usah dipaksa? Waooo, sejak kapan perubahan Nyonya Anggraini bukan pemaksa berubah. Suatu keajaiban.


Bima pun mengangguk saja, kemudian ia mengobrol dengan sang mama tak peduli dengan kondisi Almira. Radit masih setia menenangkan sang kakak dengan menggenggam tangannya.


Bima dan Nyonya Anggraini benar-benar mengabaikan Almira, bahkan keduanya tak sungkan tertawa lepas. Almira pun berangsur tenang. Tangan eratnya memegang jaket Radit pun mulai mengendur, telinganya dipasang jeli mendengar celotehan adik dan mamanya.

__ADS_1


Begitu ia sudah bisa tenang, Almira pun membuka ponselnya. Radit pun memberikan kode pada sang mama untuk memulai.


"Mbak Al, apa kabar?" tanya mama hati-hati. Bahkan jantung beliau berdetak sangat kencang, cemas kalau Almira menolaknya.


__ADS_2