Misi Ku Bersama Si Kecil

Misi Ku Bersama Si Kecil
Hahaha Aku Kabur (2)


__ADS_3

Jari-jarinya kembali bergerak dengan sangat lincah. Namun apa yang ia lakukan sekarang berbanding terbalik dengan apa yang dilihat oleh orang lain. Karena Azriel melihat diri nya dari layar monitor CCTV yang hanya memperlihatkan Bella layaknya orang gila yang sedang mengetik jari di udara kosong. Di tambah tubuhnya yang tegap dan matanya yang terbuka lebar yang berarti Bella sedang dalam keadaan sadar.


"Apa dia sudah gila?" Pikir Azriel yang langsung menghiraukan Bella.


Di sisi lain Bella sudah berhasil mengendalikan titik pusat itu. Segera dirinya mematikan semua aliran listrik dan hal itu membuat semua orang di luar kamar panik. Di tengah keramaian dan keributan di luar sana, Bella langsung kabur dari tempat itu. Penjara adalah kata yang tepat untuk menamai kediaman mewah ini.


Bella kabur melalui jendela kamar, ia juga menempel pada dinding kayaknya spiderman. Perlahan ia berusaha kabur dari sana agar tak ketahuan oleh para penjaga.


Setelah menunggu momen yang tepat, ia lalu meloncat dan segera lari terbirit-birit dari sana. Ia tak membawa apapun untuk kabur dari sana, hingga ia berlari di tengah jalan dengan begitu jalan.


Jalan daerah sana sangat sepi, bahkan sepertinya tempat itu bukanlah tempat hunian. Tapi lebih seperti rumah psikopat.


"Meimei bantu aku berlari." Ucap Bella terengah-engah karena masih berlari di tengah jalan.


"Bagaimana dengan sepatu roda Bella?"


"Tidak apa-apa, cepat keluarkan."


"Baik."


Setelah itu sebuah sepatu roda berwarna biru muncul dari arah belakang, bergegas Bella mengambil sepatu itu dan memakainya dengan terburu-buru.


Untungnya jalanan sana sangat halus tanpa adanya kerusakan di sana, hal itu memudahkannya meluncur di jalanan dengan sepatu roda itu.


Tubuhnya meluncur lancar di jalan, terkadang kaki kanannya mendorong tubuhnya ke depan sehingga ia bisa meluncur dengan cepat. Di saat kecepatannya mulai tinggi ia menundukkan tubuhnya dan meletakkan kedua tangannya di belakang punggung.


Sampai beberapa menit kemudian ia berhasil memasuki jalan raya kota. Nafasnya mulai teratur dan ia merasa lega.


Hal pertama yang ia lakukan adalah kembali ke perusahaan. Karena sekarang masih siang, itu artinya ia masih ada waktu untuk meminta bantuan pada sekertaris nya Tom.


Sesampainya di kantor ia di sambut oleh sekuriti yang menyapanya dengan ramah.


"Pagi nyonya." Sapa pak sekuriti.


"Pagi." Sapa kembali dengan senyum yang dimilikinya.

__ADS_1


Beberapa orang menatap dirinya karena penampilannya yang tidak sesuai dengan tempat kerja.


Sampai lah ia di lantai atas, kedatangannya itu langsung di sambut oleh Tom dan pengacaranya Yohan.


"Nona!!" Serentak keduanya.


Sebelumnya mereka terlihat sedang berdebat namun setelah kedatangan Bella mereka langsung menghampiri Bella yang masih berada di pintu masuk.


"Apa kau baik-baik saja? Kami tidak bisa menghubungi mu dari tadi pagi?" Tanya Yohan yang sudah cemas.


"Maafkan aku kemarin malam ada kejadian yang tidak enak."


"Apa itu nona?" Tanya Tom yang sepertinya sudah siap menghukum mereka yang berani berbuat pada Nona nya.


"Tidak apa, akan ku ceritakan di sana." Ujar Bella menatap ke tempat duduk nya.


"Ah iya baiklah."


Mereka bertiga pun mulai duduk dan bersiap mendengarkan cerita nyata dari Bella.


"Beraninya mereka!!" Pekik Yohan yang sudah terlanjur emosi mendengar cerita dari Bella. Tangannya refleks menampar meja di depan dan menjadi senjata makan tuan untuknya.


Brakk


"Auchhh....." Rintih Yohan


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Bella.


"Ah iya, tidak apa-apa." Jawab Yohan dengan wajah terpaksa, walau ia sebenarnya tidak kuasa menahan nyeri di bagian telapak tangannya.


"Kalau begitu nona, apa yang akan anda lakukan sekarang?" Tanya Tom mengalihkan pembicaraan.


"Aku ingin kalian memperketat keamanan ku, kalau bisa sewa beberapa orang yang bisa bertarung di tempat gelap. Seperti ninja!!!"


Ucapan Bella sontak membuat Yohan dan Tom terdiam sekaligus terkejut sambil menatap dirinya yang dengan lucunya memperagakan aba-aba para petarung hebat.

__ADS_1


"Ekhem, kau bisa melakukannya bukan?" Tanya Bella dengan berdehem.


"Tentu nona, akan saya lakukan perintah nona secepatnya."


"Baguslah, lebih cepat lebih baik. Kalau begitu mari kita bicarakan tentang pekerjaan. Tom, apa jadwal ku sekarang."


"Hari ini anda ada rapat dengan perusahaan tetangga, hanya saja pemimpin perusahaan itu adalah mantan suami anda. Azriel Brian! Tapi biasanya, dia tidak pernah mengikuti rapat seperti ini karena alasan pribadi. Namun saya tetap khawatir, bagaimana jika kali ini ia malah datang kemari."


"Sebelum rapat kamu pasti mengeceknya dulu kan?" Tanya Bella.


"Iya nona, hanya saja hari ini saya sibuk mencari keberadaan anda. Ponsel Anda tidak bisa dihubungi bahkan dari kemarin malam." Jelas Tom.


Bella menghela nafas sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk muncul dihadapan siapapun tak terkecuali mantan suami Jeanne.


"Bagaimana jika kita membatalkan proyek ini saja?"


"Tidak boleh, jika dibatalkan maka kita yang akan rugi. Aku akan pimpin rapat ini tidak peduli dia datang atau tidak." Dengan semangat tinggi Bella melangkah menuju pintu keluar. Sebelum akhirnya Tom menghentikan langkahnya dan berkata...


"Nona bagaimana dengan pakaian mu?" Tanya Tom dari belakang. Sedangkan Yohan hanya diam menonton mereka berdua.


"Aku akan memakai ini di rapat, lagi pun kita tidak punya waktu berganti baju. Ayooo....." Bella lalu keluar dan diikuti langkah Yohan dan Tom dari belakang.


Setelah keluar dari lift dan masuk ke ruangan rapat ia merasakan jantungnya berdetak kencang karena gugup. Ia tahu jika didalam sana sudah berkumpul para pria serta wanita yang ikut dalam rapat penting itu. Kedatangan Bella adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh mereka.


Tom lalu mempersilahkan Bella untuk masuk ke dalam, sambil tarik nafas yang dalam ia lalu masuk ke dalam ruangan itu dengan senyum riang yang terukir di wajahnya.


Satu per satu wajah mereka yang di ruangan itu mulai di lihat oleh Bella, wajah mereka yang pintar-pintar serta umur mereka yang berbeda-beda. Satu orang menarik perhatiannya dan tentu saja seperti yang telah di khawatirkan sebelumnya.


"Azriel." Gumam Bella.


Azriel yang juga melihatnya pun terkejut, tatapannya penuh dengan tanda tanya. Seperti ribuan pertanyaan dalam pikirannya mampu mengendalikan dirinya agar segera membawa mantan istri dari ruang rapat itu. Tatapan penuh tanda tanya seketika berubah menjadi ujung pisau yang mampu menyobek mental orang-orang.


Bella yang tadi sempat terdiam menatap Azriel sekarang ia berusaha untuk menjadi lebih profesional. Dengan lancarnya ia membuka rapat itu dan menjelaskan proyek yang mereka buat serta jalannya rapat itu menghabiskan satu jam lebih.


Jeanne Belt, beraninya kau kabur dariku!!

__ADS_1


__ADS_2