
Di sebuah tempat gelap nan sunyi sesosok nenek tua ala dukun profesional sedang duduk di depan perapian dan sesajennya. Di hadapannya sudah ada Chen Jiao dan ibunya.
Rupanya sudah waktunya inti dari cerita ini dimulai. Ibu Chen Jiao akan melakukan ilmu sihir dan menggunakannya untuk membunuh Wei Zifu serta bayi yang ada dalam kandungannya.
"Ibu, kenapa kita kemari?" Tanya Chen Jiao yang polos.
"Diamlah lakukan saja apa yang aku perintahkan padamu lagi pun semua ini demi kebaikanmu."
"Tapi ibu, jika kaisar tahu kita kemari kita akan di hukum atau mungkin di usir." Bisik Chen.
"Dengar, Wei Zifu telah mengambil semua hak mu apa pantas dia hidup bahagia sekarang dan kau tidak!!" Ujar ibu terlihat kesal.
Mendengar itu Chen Jiao diam seraya menundukkan kepala.
"Sshhhh." Desis mbak dukun. Ia mengernyitkan dahinya seakan merasakan aura-aura yang aneh.
"Ini aneh, aura orang itu sangat kuat aku mungkin tidak bisa mengalahkannya." Kata dukun wanita itu.
Chen Jiao dan sang ibu terkejut serta gelisah, bagaimanapun juga Wei Zifu harus segera di singkirkan sebelum menjadi penghalang.
"Tidak, kau harus membunuh wanita itu jangan biarkan dia hidup dan bahagia di sini." Ibu Chen sangat marah ia sangat tidak suka akan kehadiran Wei Zifu di istana. Jika dukun itu sampai gagal, tidak mungkin ia harus turun tangan sendiri.
"Ibu tenanglah." Chen Jiao menenangkan ibunya yang terlihat tidak bisa mengendalikan diri saking marahnya ia.
"Hm, baiklah aku akan mencobanya. Akan tetapi yang mulia ibu suri jikalau aku gagal melakukannya, itu sudah cukup membuktikan kalau wanita itu memiliki jiwa yang sangat kuat." Jelas Dukun wanita itu.
"Baiklah kalau begitu, Chen Jiao ayo kita pergi dari sini." Ajak Ibu.
Mereka berdua pun keluar dari ruang yang gelap dan kembali ke istana dengan tidak diketahui siapa pun.
Di samping itu
Di sebuah ruangan yang penuh dengan berbagai macam makanan di meja tersedia di sana. Tempat itu sangat indah dengan bau wewangian yang sangat harum. Hiasan terang membuat ruangan itu sangat indah dan enak di pandang.
Di sana sepasang suami istri sedang menikmati waktu berdua mereka. Kaisar dengan penuh perhatian menjaga dan membantu Wei Zifu dalam segala hal.
"Nikmatilah makanannya sepuas mu, dan setelah ini istirahatlah di kamarku." Ucap Kaisar sembari ia tersenyum bahagia.
__ADS_1
Makanan sebanyak ini bagaimana mungkin aku bisa menghabiskannya, apa dia gila?? Batin Bella dalam hati, ia selalu leluasa untuk mengumpat seseorang dari dalam.
"Terimakasih yang mulia tapi saya rasa makanan sebanyak ini tidak mungkin mampu saya habiskan sendiri." Ucap Bella.
"Ah kalau begitu aku akan membuangnya sisanya nanti." Dengan entengnya Kaisar berkata seperti itu seolah makanan sebanyak hanya menghabiskan uang yang sedikit.
Membuang!! Tidak!!
"Tidak yang mulia." Teriak Bella tak sengaja.
Yang mulia kaisar terdiam sampai-sampai mengedipkan matanya berulang kali. Pasalnya ia sedikit terkejut dengan Bella yang tiba-tiba berteriak seperti itu padanya.
"Ma-maksudnya jangan dibuang, sayang sekali jika makanan ini dibuang begitu saja saya sarankan lebih baik memberikannya pada pelayan. Mungkin saja mereka juga ingin mencoba makanan seperti ini." Jelas Bella.
"Hoho sudah kuduga kau tidak akan setuju, kau baik hati dan juga cantik aku jadi tidak sabar ingin melihat anakku nanti." Ucapnya Sembari tertawa.
"Baiklah karena kamu sudah berkata seperti itu maka aku akan melakukannya." Lanjutnya yang masih tertawa tak jelas, yah pasti kaisar sangat tidak sabar menunggu anaknya lahir.
...----------------...
Setelah makan bersama yang mulia tadi, Bella tiba-tiba ingin pergi jalan-jalan mengelilingi istana. Kaisar kembali mengurus urusan kerajaan dan tidak menemaninya sekarang.
Hal itu membuat para pelayan yang mengikuti di belakangnya bertanya-tanya 'Apa yang dikatakan selir Wei Zifu??'
''Apa kau mengerti apa yang dikatakannya tadi?'' Bisik para pelayan di belakang.
Walaupun Bella mendengarnya namun ia malah senang karena ia menghujat pun orang-orang tidak akan paham artinya.
"Ck, tidak sia-sia aku belajar bahasa hahaha." Ucap Bella tertawa sendirian.
Tingkahnya malah membuat para pelayan berfikir aneh-aneh tentangnya, tapi Bella tetap tidak peduli.
Di sisi lain ternyata seseorang sedang mengamatinya dari jauh, orang itu sedari tadi duduk santai sembari menikmati tehnya. Wanita itu melihat bagaimana Selir Wei Zifu tertawa sendirian di ujung sana.
"Kira-kira apa ya yang membuatnya begitu bahagia?" Tanya Chen Jiao pada bawahan setianya.
"Sepertinya Selir sedang bahagia karena tadi dia sudah makan bersama dengan yang mulia kaisar." Jelas pelayannya sembari provokasi.
__ADS_1
"Ah begitukah." Chen Jiao lalu menyesap tehnya dengan tenang, ia selalu berusaha menutupi kekesalannya dalam hati.
Padahal jika kebencian terus dipendam di dalam hati maka akan semakin menumpuk dan bisa jadi ia akan melewati batasnya.
Sedangkan Bella kini berjalan ke arah Chen Jiao, gadis itu sepertinya masih belum sadar kalau yang mulia ratu ada di sana.
Semakin dekat semakin jelas dan terlihat kalau Chen Jiao ada di sana. Setelah menyadari kesalahannya Bella langsung membungkuk memberi hormat pada yang mulia.
"Salam hormat yang mulia ratu."
"Jangan membungkuk, akan jadi masalah jika nanti bayimu kesakitan di dalam." Ucap Chen Jiao.
"Ah terimakasih yang mulia ratu."
"Sepertinya Selir Wei sedang menikmati perjalanannya, duduklah di sini dan temani aku minum teh." Chen Jiao lalu menyuruh pelayannya untuk mengambil satu cangkir lagi untuk Wei Zifu.
Walaupun Bella ragu untuk duduk bersama namun ia tetap harus menuruti perintahnya kalau tidak mungkin saja rumor buruk akan menimpanya nanti.
"Istana itu indah bukan?" Tanya Chen Jiao dengan tatapannya lurus ke depan melihat air sungai di istana yang sangat bersih. Di sana juga terdapat bunga-bunga yang menghiasi sekitarnya.
"Iya anda benar yang mulia, di sini sangat tenang dan pemandangan di sini pun sangat indah." Ujar Bella memberi opininya.
"Walaupun indah tetap saja akan selalu ada debu yang ingin masuk ke sini."
Mendengar ucapan Chen Jiao barusan membuat Bella paham kalau itu sindiran keras untuknya.
Namun Bella tidak akan kalah. Karena tidak mungkin Bella mudah dikalahkan begitu saja hanya karena sindiran kecil seperti itu.
"Anda benar tapi debu tidak akan masuk begitu saja kalau ada penjaganya." Kembali Bella lawan Chen Jiao.
Ck, ternyata wanita itu tahu juga cara membalas. Batin Chen Jiao.
"Ah kali ini kau benar, kalau begitu haruskah aku menyingkirkan semua debu yang ada di istana sekarang toh kalau semuanya sudah hilang akan aku kerahkan semua penjaga untuk mengawasi debu itu agar tidak lagi masuk." Ratu tersenyum seolah ia menang telak.
"Jangan mengotori tangan ratu hanya untuk menyingkirkan sebuah debu, bukankah ada pelayan. Apa gunanya mereka kalau ratu sendiri yang mengerjakan semuanya."
Artinya, kalau yang Chen Jiao ingin menyingkirkannya seharusnya ia tak perlu turun tangan sendiri melainkan gunakan tangan orang lain agar nantinya Chen Jiao tidak bisa di salahkan. Dengan begitu kasus ilmu sihir tidak akan menyangkut Chen Jiao dan Bella akan berhasil menyelesaikan misi kali ini.
__ADS_1
Brengsek dia cepat sekali membalas, dia sudah sangat berani padaku sekarang. Mungkin ibu benar, wanita ini harus segera di singkirkan sebelum menjadi ancaman besar. Pikir Chen Jiao.
Bersambung