Misi Ku Bersama Si Kecil

Misi Ku Bersama Si Kecil
Ke Panti


__ADS_3

Wajah Gilang pucat pasi, dalam hatinya anak itu berteriak meminta pulang sembari menatap kepergian sang papa.


Pa, pa, jangan pergi pa, Gilang takut di sini pa, pa tolong....tolong.....tolooooooongg.


Kak Malik yang melihat raut wajah Gilang yang iba melihat ke pintu sana membuatnya mengibas tangan tepat di depan wajah Gilang.


"Gilang!"


Wush


Wush


wush


Kedipan mata berulang kali menandakan kalau Gilang telah sadar dari keputusasaan di hatinya.


"Ah iya kak?"


"Kau melamun." Jelas kak Malik yang setelah itu duduk di sofa seberang Kak Zen. Melihat kedua kakaknya duduk di sofa, Gilang lalu duduk di sofa kecil di antara mereka.


"Kita tidak akan bertele-tele, katakan siapa gadis itu?"


Brakk


Dokumen putih yang dipegang kak Malik tadi dengan cepat di lempar keras di hadapan Gilang.


Dokumen itu berisikan foto-foto dirinya bersama Bella sewaktu bersama kemarin, kemarin nya lagi, dan kemarin nya lagi.


Apa ini? Mereka mengawasi ku selama ini! Tiba-tiba saja tubuhku merinding, apa mereka ini psikopat? Batin Gilang.


Pembicaraan dalam hatinya itu tak henti di situ saja, seolah dalam dirinya terdapat dua orang lagi yang sedang berbicara. Jelas itu hanya prasangka, paling yang ada hanya malaikat dan jin yang sedang beradu di kepala.


"Dia temanku kak." Jelas Gilang.


"Siapa namanya?" Tanya Kak Zen sembari dagunya menunjuk ke arah foto Bella.


Gilang menjawabnya dengan terbata-bata, ia tidak ingin Bella di sakiti oleh kak Zen.


"Bella, namanya Bella."

__ADS_1


Kak Zen dan kak Malik serentak mengangguk, kedua orang itu seperti sudah kompak.


"Kau tidak berpacaran dengannya bukan?"


Mendengar perkataan kak Zen yang begitu menekan, membuat Gilang hanya bisa diam tak mampu menjawab.


"Kenapa kau diam?" Lanjut kak Zen.


Gilang berdiri, ia lalu melangkah pergi dari sana. Tentu saja kak Zen mencoba menghentikannya.


"Oi Gilang mau kemana kamu!"


Langkah Gilang terhenti, tubuhnya berbalik lalu mulai menjawab pertanyaan sang kakak.


"Tolong kak jangan jadi saingannya Gilang, Bella itu milikku!"


Setelah berkata seperti itu Gilang lalu pergi dari sana dengan menutup pintu ruangan sedikit keras.


Hal itu membuat Zen dan Malik melonjak kaget, keduanya bahkan menatap satu sama lain setelah kepergian Gilang begitu saja.


Di samping itu


"Iya, kita mau ke panti." Jelas Bella sedang mengerjakan beberapa tugasnya di HP.


"Jauh banget, perasaan sepi juga di sini." Tubuh Lou Xi yang tiba-tiba merinding membuat kesan yang ada di sana menjadi horor.


"Sepi karena memang pemukiman di sana jarang punya kendaraan." Jawab Bella.


Lou Xi heran apa yang di maksud dengan pemukiman, apakah yang ia maksud itu desa?


"Pemukiman? maksudmu desa?"


"Iya, nanti di ujung persimpangan ada papan bertulis Segar & Sejuk. Itu adalah awal masuk kita ke desa, nanti hati-hati karena kalau yang kiri itu bakal tersesat karena kita bakal pindah kota." Jelas Bella yang masih belum Lou Xi mengerti setengahnya.


"Maksudnya pindah kota apaan?"


"Jadi, itu semacam perbatasan." Jawab Bella.


Dan barulah Lou Xi mengangguk paham, dan dari depan sana sudah terlihat papan besar di atas batu. Lou Xi lalu mengambil jalan kiri, dan benar saja di sana ada sebuah pemukiman warga.

__ADS_1


Orang-orang di sana terlihat ramai dengan para ibu-ibu yang sedang mengobrol dan menjaga anak kecil mereka. Beberapa kakek dan nenek juga sedang bekerja, terutama anak remaja yang belajar kelompok bersama.


Anak-anak yang bermain di jalan pun dengan cepat menyingkir dari jalan saat mobil Bella melewati jalanan tersebut. Beberapa kali juga Bella melambai ke arah mereka, dan anak-anak itu pun kembali melambaikan tangan kecil mereka kepada Bella.


Tak membutuhkan waktu lama, sampailah mereka di tempat panti. Di waktu seperti ini biasanya anak-anak panti serta pengurusnya berada di luar ruangan dan benar saja saat Bella datang mereka langsung memeluk kaki panjang milik Bella.


Senang rasanya melihat apa yang ia bangun sekarang berjalan dengan lancar, Lou Xi yang masih baru dengan suasananya mampu beradaptasi dengan anak-anak.


Begitu pun dengan anak panti mereka sangat senang dengan kedatangan Lou Xi yang mereka anggap sebagai tunangan Bella. Canda tawa di panti pun mulai bergema, hingga Bella dan pengurus panti mampu mengobrol bebas di sana.


Waktu semakin hari semakin cepat berputar, Dan sekarang Bella dan Lou Xi harus kembali ke kota. Walaupun sebenarnya desa ini masih dekat dengan perkotaan namun karena perjalanannya cukup membuat tubuh bergidik tetap masih di anggap sebuah desa yang tradisional.


Singkat cerita sampailah mereka di jalanan kota yang banyak mobil-mobil mewah melintas.


"Sekarang mah kemana lagi?" Tanya Lou Xi sembari tetap fokus menyetir.


"Ke butik." Ucap Bella.


"Oke siap nona." Goda Lou Xi membuat Bella tertawa kecil dan suasananya pun menjadi sedikit ceria.


Sesampainya di butik, Bella merasa familiar sesaat dirinya melihat sebuah motor yang ia tahu itu motor milik Gilang.


Apa dia ada di sini? Batin Bella.


Dan benar saja saat Bella membuka pintu masuk butik terlihat Gilang sudah duduk di sofa pengunjung di sana, lantas Bella mendekat dan bertanya padanya.


"Gilang? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Bella karena heran.


Gilang yang tadinya tertunduk seketika mendongak menatap Bella, raut wajahnya berubah cerah dan ia pun berdiri "Bella, itu aku sedang memesan baju. Ku kira kau ada di sini ternyata tidak ada, Untung saja pegawai mu sangat ramah kalau tidak aku harus berbuat apa."


"Maafkan aku, aku tidak tahu kau akan ke sini. Tadi aku ada urusan sebentar, apa kau menunggunya lama?" Tanya Bella khawatir jikalau Gilang duduk di butik mereka berjam-jam hanya untuk memesan baju.


"Tidak apa-apa baru saja aku di ukur untuk membuat bajuku nanti." Jelas Gilang.


Di waktu itu juga Lou Xi masuk dan pandangan mereka pun bertemu, namun dengan cepat Lou Xi beralih pada Bella dan ia pun lalu duduk di samping Bella.


"Hai." Sapa Lou Xi pada Gilang.


Mereka lalu berjabat tangan sebelum akhirnya mereka pun duduk kembali, dan seperti biasa setelahnya mereka bertiga berbincang-bincang. Bella menyuguhkan hidangan dan mempersiapkan pesanan yang ada sedangkan Gilang dan Lou Xi mengakrabkan diri mereka masing-masing sampai benar-benar akrab.

__ADS_1


__ADS_2